Peletakan Sinci Ita

PELETAKAN SINCI ITA MARTADINATA HARYONO & RITUAL RUJAK PARE

Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong, Semarang
Diskusi Tipis-tipis Boen Hian Tong “Sinci Ita”

Time: May 13, 2021 07:00 PM SemarangJoin
Zoom Meetinghttps://zoom.us/j/92511643991…Meeting ID: 925 1164 3991Passcode: 683144https://youtu.be/b0LemivfEjQ

Kamis, 13 Mei 2021Jam 19:00 – 21:001.

Acara:
Pasang pita hitam (diiringi gembreng)
Doa ke Thian (diiringi gembreng)
Penyerahan & Peletakan Sinci Ita di Altar Boen Hian Tong (diiringi baca puisi Xs Budi Tanuwibowo)
Peletakan bunga mawar putih
Menyalakan lilin
Doa di Altar Boen Hian Tong
Membakar kertas doa
Makan rujak pare (narasi)
Diskusi
Penutup

RESEP RUJAK PARE
1. Iris pare mentah tipis-tipis.
2. Cuci bersih, taburi es batu.
3. Siapkan sambal rujak, tambahi bunga kecombrang.
4. Uleg.
5. Rujak pare sambal bunga kecombrang siap disajikan.

Sinci adalah papan kayu bertuliskan nama leluhur yang sudah meninggal dan diletakkan pada altar, dan bagi orang Tionghoa, sinci adalah bentuk penghormatan tertinggi. Ita Martadinata Haryono, seorang aktivis kemanusiaan, yang tewas dibunuh 9 Oktober 1998, tak lama sebelum ia berencana bersaksi di sidang PBB terkait peristiwa Tragedi Mei ’98. Di bulan Mei 2021 Boen Hian Tong akan meletakkan Sinci Ita Martadinata di altar perkumpulan untuk mengenang Tragedi Mei ’98 sekaligus menjadi simbol gerakan melawan lupa.Selain seremoni peletakan sinci, akan ada Diskusi melalui zoom pada tanggal 13 Mei 2021 jam 19:00 mendatang dan ritual makan bersama “Rujak Pare Sambal Bunga Kecombrang”.

Kepahitan pare melambangkan pahitnya Tragedi Mei 1998, bunga kecombrang simbol kekerasan seksual yang menimpa perempuan Tionghoa yang diulek, dianiaya, diperkosa.

Perkumpulan Boen Hian Tong meyakini – keluarga adalah lembaga sakral yang harus selalu dijaga, dirawat, dilindungi. Diskusi Tipis-Tipis tidak dimaksudkan untuk menghakimi, membenarkan atau memberi solusi; tapi melalui paparan dan diskusi serta testimoni, tumbuh inspirasi, menuju pemahaman dan kesadaran baru.

Bengkel Terbuka: Mesin ‘milling’ Titipan

Mesin milling itu semacam alat bor yang dapat mengikis benda kerja secara horizontal dan vertikal. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh mesin ini. Pekerjaan melubangi, mengikis, dan menyayat besi pejal, as, lembaran, dan material solid lainnya dapat dilakukan oleh mesin ini untuk menjadikan beragam produk seperti botol, rumah bearing, sampai pegangan-pegangan (brackets) mesin.

Operator mengoperasikan mesin ini dengan cara menaik atau turunkan satu tuas untuk mengatur gerakan sebuah ‘pena’ yang berputar secara vertikal, dua pengatur berbentuk kemudi (bundar seperti stir mobil) yang masing-masing diperuntukkan mengatur posisi benda kerja dalam aksis X dan Y, dan satu engkol untuk menaik-turunkan meja kerja. Setiap alat pengatur itu dilengkapi dengan garis-garis pengukuran, sehingga setiap gerakan dapat diatur secara presisi.

Mesin milling ini dititipkan di ‘Bengkel Terbuka: aikon bikin-bikin’ dengan harapan dirawat dan difungsikan agar dapat berguna bagi pabrik di mana bengkel aikon itu mengontrak.

Pak Kinong Tabib Plus-plus

Kemarin saya mampir ke rumah dosen desain komunikasi visual garis lurus Arief Adityawan. Di seberang kediamannya, pak Kinong, pak Ari, dan pak Yadi sedang merakit dua mesin bemo. Satu untuk pelanggan di Cikeas, yang lain untuk bemo di Tangerang. Selain mengoprek, pak Kinong sedang memberi konsultasi pada pelanggan yang jauh-jauh bermotor dari Parung.

Mulai dari baut, mur, gir, sampai blok mesin bemo terurai di atas paving block, di bawah pohon mangga. Mereka bertiga sedang merakit dua mesin bemo yang baik blok, maupun komponennya, sudah di rekondisi atau diganti dengan yang baru.

Pak Kinong memang fenomenal. Sejak 1980an beliau erat hidupnya berhubungan dengan bemo, kendaraan transportasi masal beroda tiga itu. Kini 2020, bemo telah menjadi langka dan menjadi mainan bagi banyak orang yang suka bernostalgia. Banyak pelanggan minta pak Kinong untuk ‘menyehatkan’ bemo-bemo mereka.

Profil pak Kinong (Sutino) dapat banyak ditemukan di media massa digital. Beliau pernah diundang pak presiden Jokowi ke istana, pernah diumrohkan oleh sebuah stasiun televisi swasta sambil mengisi suatu episode sinetron, pernah berhiat di program BemoBaca.

Sebagai tabib bemo, pak Kinong melayani pelanggan dengan menyediakan jasa servis, rebuild -bangun kembali, sampai mencarikan komponen-komponen yang sudah langka.

Selain sebagai tabib bemo, pak kinong ternyata juga orang yang dapat menyembuhkan penyakit manusia. Kemarin beliau menyodorkan Jamu Tangkur Ginseng, setelah mendengar bahwa ada yang berkeluh soal pegal linu menjurus ke sakit asam urat.

Sebenarnya pak Kinong hanya dititipi kenalannya untuk menjual jamu itu. Beliau menguji khasiatnya dengan meminumnya sendiri untuk mengetahui khasiatnya. Pak Ari dan pak yadi pun dibagi. Hasilnya “tokcer” kata mereka bertiga. Setelah teruji, pak Kinong menganjurkan saya untuk meminumnya, orang yang saat itu sulit mengangkat beban, maupun mengangkat tangan kanannya.

Walau agak terganggu dengan visual kemasan yang nampak heboh, siang itu saya minum langsung dari botolnya.. dua tiga tenggak, kemudian minum air putih sebanyak-banyaknya, agar larutan berwarna coklat berasa mendekati arak, sedikit pedas dan gurih itu larut.

Sore khasiat Jamu Racik Special Jawa Asli itu sudah rasakan. Tangan saya mulai beroperasi normal. Bersyukur. Terima kasih pak Kinong.

Pak Kinong memang fenomenal. Ada banyak cerita, pengetahuan, kesulitan, dan kemampuan ada padanya. Lengkap! Semoga beliau selalu sehat dan diberi kemudahan yang kontemporer.

Spedangin Masuk Angin

Eh.. maksudnya kemasukan air.

Banjir besar di malam pergantian tahun yang baru 2020, membuat bengkel aikon bikin-bikin terendam. Dari garis yang muncul setelah air surut, diukur setinggi 75cm dari lantai. Spedangin, sepeda bermotor listrik QS 1kW, ikut terendam.

Bengkel aikon bikin-bikin pindah ke tempat yang dipercaya jauh dari banjir. Letaknya 30 Kilometer ke Timur, ke Desa Limusnunggal, Cileungsi, Kabupaten Bogor. Di sana, Spedangin segera dicuci dan dikeringkan, dengan harapan dapat diselamatkan. Setelah diperiksa, kecuali baterai, komponen listrik Spedangin masih dapat beroperasi normal. Spedangin pun menjadi kendaraan operasional jarak dekat, sekitar perumahan Metland Transyogi.

Hari ini, sembilan bulan kemudian, Spedangin tiba-tiba mogok, hanya dapat dikayuh seperti sepeda biasa. Rupanya Hall Sensor motor BLDC di dalam hub motor selama ini terendam air dan menyerah.

Teman-teman di PetrikBike membuka hub motor dengan sigap. Air berwarna kecoklatan keluar banyak sekali. Karat atau lumpur sulit dibedakan.

Semoga tiga sensor dinamo tanpa sikat (brushless dc) itu dapat segera diganti, dan Spedangin dapat jalan-jalan lagi dengan gembira.

Sepeda Xustom

Sore itu tiba-tiba telepon genggam bergetar. Seorang mengirim ucapan Assalamualaikum, kemudian diketahui bernama Valdo. Ia adalah teman DQ dan sedang memulai proyek merekam ruang kerja atau studio orang.

Valdo (Rivaldo Pratama) mengirimkan dokumentasi dari sebuah proyek bersama Arista Kusumastuti dan Ilustrator Ivan Malih yang sangat menarik. Judulnya Sepeda Xustom. Proyek dokumentasi sepeda-sepeda pencari nafkah. Sila intip di sini.

Intip pergerakannya lewat Instagramnya atau bisa layangkan surat elektronik ke sini.

DQ ngeLas Komstir

Deki Rahman Setiawan, biasa dipanggil DQ, mampir ke bengkel. Ia adalah ahli las bersertifikasi dari Balai latihan Kerja Condet. DQ membantu menghubungkan rangka motomini ke poros kemudi (komstir) yang dibuat (dibubut dan dimiling) oleh pak Nardi di Cileungsi.

Kawat las yang digunakannya adalah kawat berseri 6013 RD460 yang memiliki postur lebih ramping (diameter 2 milimeter) dari pada seri RD260 (diameter 2,6 milimeter) yang biasa gw pakai. Suara yang muncul sewaktu elektroda yang diberi arus listrik 70 Amper itu bekerja, sangat garing dan renyah.

Bagi yang sedang membutuhkan keahlian las DQ, sila intip Instagram, Facebook, atau langsung menghubunginya lewat nomor ini.

Masih panjang perjalanan pembangunan purwarupa motomini ini. Banyak pelajaran didapat di dalam perjalanan pembuatannya. Semoga akan makin seru jadinya nanti.

Mimpi: Menuju Timur

Berikut ini adalah sebuah coretan mimpi. Mimpi yang diajukan ke publik semoga akan dapat terealisasi =D.

Komunitas Sepeda dan Motor Listrik (KOSMIK) merayakan Hari Listrik Nasional

Tur Elektrika Menuju Timur 2020

Jakarta – Lombok: 1,318 KM

Tujuan

  1. Merayakan Hari listrik Nasional yang jatuh pada Selasa, 27 Oktober 2020,
  2. Memberi penghargaan kepada H Zulkieflimansyah, Gubernur Nusa Tenggara Barat dan Gede Sukarma Dijaya, produsen sepeda listrik Le Bui,
  3. Menyebarkan informasi tentang membangun dan mendorong semangat dalam menggunakan kendaraan bermotor listrik,
  4. Pendataan kelompok-kelompok penggiat kendaraan bermotor listrik di Indonesia, sambal mendorong pembangunan ekosistem kendaraan listrik Indonesia,
  5. Memposisikan Indonesia pada peta penggunaan kendaraan bermotor listrik (electric vehicle) dunia

Komunitas Sepeda dan Motor Listrik (KOSMIK) dan Bemo Elektrika, sebuah alat transportasi umum beroda tiga yang legendaris dari tahun 1970an yang telah dikonversi menjadi kendaraan bermotor listrik oleh AIKON Bikin-bikin (Yayasan Pikir Buat Nusantara), berkolaborasi dalam menceritakan kemampuan kendaraan bermotor listrik dengan menempuh 1.313 kM jalan darat, dari Jakarta, menuju Timur, ke Naranda, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Dengan perjalanan ini anggota KOSMIK bermaksud untuk memberi penghargaan kepada gubernur H. Zulkieflimansyah karena pilihannya yang progresif pada Le Bui, produsen rangka sepeda listrik yang telah dikenal dunia, sambil tentunya mewartakan berbagai hal terkait kendaraan bertenaga listrik.

Untuk menjangkau 1.313 kM, setidaknya 13 kali perhentian perlu dilakukan untuk melakukan proses pengisian baterai ulang. Di saat itu, selain menunggu baterai penuh, kurang lebih 6 jam, anggota KOSMIK akan menggelar sarasehan dengan berbagai topik terkait kendaraan bertenaga listrik.

Sebelum melakukan perjalanan dan perjalanan dari kota ke kota, menuju Lombok, proses persiapan akan disiarkan melalui sebuah kanal youtube. Memperlihatkan berbagai perangkat, tata cara, pemikiran, dan pengalaman dalam membangun dan mengendarai kendaraan bermotor listrik.

Perjalanan Bemo Elektrika ini didampingi oleh sebuah tim yang mengendarai sebuah kendaraan pendamping (service car) yang masih menggunakan mesin konvensional, Internal Combustion Engine (ICE). Kendaraan beroda empat ini membawa sepeda dan motor bertenaga motor listrik dan berbagai perlengkapan presentasi, yang mendapat asupan energinya dari beberapa panel surya. Energi yang dihasilkan oleh panel-panel surya tersebut, disimpan dalam beberapa baterai yang kemudian digunakan untuk mengisi baterai Bemo Elektrika (bila dibutuhkan secara darurat di tengah perjalanan) dan berbagai perangkat presentasi.

Produksi dan konsumsi energi pada program ini akan dicatat dan dipublikasikan melalui berbagai media sosial, sebagai bahan belajar masyarakat luas.

Spesifikasi sebuah modul Tesla Model S:
Voltase nominal 22.2 V
250Ah
5,2 kWh
444 sel baterai Panasonic lithium ion 18650 3.200mAh
26,3 kG

Bila menggunakan enam moduldengan konfigurasi 2S3P, maka akan terdapat: 48 V, 750 Ah, atau tersedia energi berkapasitas 36 kWh. Bila rata-rata konsumsi energi adalah 0,2kW/kilometer (satu kilometer membutuhkan 200 Watt), maka dengan kapasitas 36 kWh tersebut akan dapat menjangkau +/- 180 kM per satu kali pengisian (charge). Bila pengisi (charger) yang digunakan berkapasitas 48V 125A (6 kWh), maka untuk mengisi (charging) baterai 36 kWh akan membutuhkan waktu 6 jam.

Spesifikasi Bemo Elektrika:
Motor Series Wound 2 kW
Controller 225 A
Baterai 36 kWh
Asumsi konsumsi energi: 1 kilometer membutuhkan 200 Wh
Direct drive
Jarak antara poros roda (wheelbase) 2,080 mm (81.9 in)
Panjang 2,995 mm (117.9 in)
Lebar 1,295 mm (51.0 in)
Tinggi 1,340–1,370 mm (52.8–53.9 in)
Berat 480–540 kg (1,058–1,190 lb) ditambah 6 modul: +158 kg

Jakarta – Lombok: 1.318 Kilometer, maka secara keseluruhan akan membutuhkan minimal  263,6 kWh (di atas kertas). Untuk menjangkau jarak sedemikian jauh, dibutuhkan perhentian minimal 13 kali untuk pengisian energi pada baterai. Pada saat perhentian ini, selain melakukan charging, akan juga dilakukan sarasehan (workshop).

  1. Jakarta – Bandung: 163 Kilometer. Membutuhkan: 32,6 kWj,
  2. Bandung – Cirebon: 136 Kilometer. Membutuhkan: 27,2 kWj,
  3. Cirebon – Pemalang: 106 Kilometer. Membutuhkan 21,2 kWj,
  4. Pemalang – Semarang: 134 Kilometer. Membutuhkan 26,8 kWj,
  5. Semarang – Klaten: 107 Kilometer. Membutuhkan 21.4 kWj,
  6. Klaten – Jogja: 40 Kilometer. Membutuhkan 8 kWh,
  7. Jogja – Solo: 64 Kilometer. Membutuhkan 12,8 kWj,
  8. Solo – Madiun: 103 Kilometer. Membutuhkan 20,6 kWj,
  9. Madiun – Surabaya: 168 Kilometer. Membutuhkan 33,6 kWj,
  10. Surabaya – Malang: 88 Kilometer. Membutuhkan 17,6 kWj,
  11. Malang – Probolinggo: 90 Kilometer. Membutuhkan 18 kWj,
  12. Probolinggo – Banyuwangi: 195 Kilometer. Membutuhkan 39 kWj (<<bakal mogok nih!),
  13. Banyuwangi – Denpasar: 139 Kilometer (143 Kilometer dikurangi 4,5 Kilometer perjalanan dengan ferry). Membutuhkan 27,7 kWj,
  14. Denpasar – Narmada, Lombok: 37 Kilometer (140 Kilometer dikurangi 103 Kilometer perjalanan dengan ferry). Membutuhkan 9,4 kWj.

Pada setiap perjalanan, dimungkinkan untuk para anggota komunitas kendaraan listrik lokal atau donatur untuk menjadi pengendara Bemo Elektrika untuk sepenggal perjalanan berikutnya.

Si Oren Hidup Kembali

Setelah mati suri lebih dari enam tahun, bemo berbadan serat kaca itu bangun lagi. Konon akan dipergunakan untuk menjadi alat bantu sarasehan keliling, atau sekedar untuk jalan-jalan di kampung kota.

Perlu waktu lama memang untuk menabung dan mengumpulkan berbagai komponen untuk bisa kembali menjadi kendaraan bertenaga listrik.

Kali ini si oren menggunakan dinamo series wound dua kilowatt, mungkin bekas forklift. Dibeli dari Wiwien Vegas, perakit kendaraan listrik di Jogja, dengan harga Rp1,5juta. Semula, dinamo itu diatur oleh pengatur kecepatan elektronik (controller) Alltrax 7245, simpanan lama. Namun karena ada sedikit masalah, maka dinamo itu jadinya diatur oleh Curtis PCM 1204-401 yang didapat dari bung Ricky, pengusaha jasa perbaikan mobil golf di Jakarta Timur. Berikut potensiometer (throttle) ditebus dengan Rp5 juta. Konon itu adalah controller yang dipakai mobil golf zaman dulu. Pengatur kecepatan elektronik itu bertegangan 48 Volt dengan maksimum arus 225 Amper. Dua modul baterai yang masing berkapasitas 26 Volt 30 AmperHour, disambung secara seri menjadi 52 Volt 30 AmpereHour. Baterai-baterai itu didapat dari mas Tree di Jakarta Selatan, konon bekas Penerangan Jalan Umum, seharga Rp600ribu per modulnya. Empat kontaktor untuk mengatur arus listrik sehingga si oren dapat bergerak maju atau mundur dan sebuah kontaktor sebagai sakelar utama di dapat dari mas Wahyu Arief Budiman. Empat kontaktor 200A @Rp200ribu. Kontaktor 400A Rp600ribu. Durabox ukuran 250x350x150 Rp363ribu. Bila dijumlah dengan kabel, skun (schoon), MCB, cable glands, mur dan baut, maka total komponen elektrika bemo oren menghabiskan tidak kurang dari Rp8,5juta.

Sebuah Durabox yang dibeli dari toko daring menampung semua komponen elektronik yang mesti terhindar dari air dan debu.

Setiap kabel diusahakan menggunakan ukuran minimal 2,5 milimeter persegi (14 AWG) yang ujung-ujungnya disolder dan ditautkan erat dengan baut. Untuk menyambung dinamo, kabel dengan penampang 35 milimeter persegi (2 AWG) digunakan, agar arus listrik (maksimum 225 Amper itu) dapat tersalur dengan baik.

tabel kiriman dari pak Yohanes
sumber: https://quinled.info/2018/10/20/wire-thickness-needed/
Diagram elektrika

Terima kasih untuk mas Wahyu yang telah dengan sabar membimbing dan berbagi ilmunya.

hari ke hari..

Pabrik Bemo?

Lebih dari enam tahun lalu, pak Kinong membangun sebuah bemo dari plat metal melalui tangan kang Aeb, untuk meraih mimpi adanya bemo sepanjang masa. Hari ini, pak Kinong berada di Tangerang, diajak pak Gomas, pengusaha tangki Triton dan penggemar bemo, untuk meneruskan mimpi yang sama.

Adalah sebuah rencana, pabrik itu akan memproduksi 10 bemo baru, dari nol, dan menjualnya pada publik yang menghormati sejarah tentang adanya moda transportasi bernama bemo.

Mari kita nantikan. Apakah bemo-bemo berwarna-warni akan kembali berseliweran di negeri ini.

Bemo itu nama aslinya adalah Daihatsu Midget. Berikut ini adalah kutipan dari Wikipedia

First generation (DK/DS/MP; 1957–1972)

DK/DS series

Daihatsu Midget MP5

In August 1957 the original DKA Midget was introduced. It featured a three wheel, a single seat, a doorless cab, and handlebar steering. The engine was an air-cooled two-stroke single-cylinder design of 250 cc (ZA) which produced 8 PS (6 kW). Beginning in August 1959 it was replaced by the more comfortable DSA, which has doors and a more powerful 10 PS (7 kW) version of the ZA engine. Maximum cargo capacity was also increased, from 300 to 350 kg (660 to 770 lb).[1] There was also a rare two-seat version (DSAP), with the passenger seat offset to the left behind the driver. This required a longer passenger compartment, which encroached on the cargo area. There was also the DSV, a panel van version.

MP series

In October 1959 the MP2 Midget was introduced in Japan – updated with such features as a steering wheel, doors, and seating for two. This model had already been sold in the United States since April 1959, as the MPA, although it was marketed as the “Daihatsu Trimobile”. Companies such as Boeing and Lockheed used these little vehicles inside of their plants, for instance.[2] The engine was the same (ZA) air-cooled two-stroke one-cylinder design with 10 PS (7 kW) but an extra 80 kg (180 lb) made for a sluggish vehicle. The DSA continued to be built alongside the more expensive MP variants into the early sixties. There was again a panel van version also available.

Subsequent revisions to the MP design were soon made, resulting in the model MP3 which has the larger ZD engine of 305 cc which produced 12 PS (9 kW). In May 1960 the 200 mm (7.9 in) longer MP4 arrived, featuring roll-up door windows. In August 1961 the doors were modified, now incorporating a triangular vent window and a chromed side strip. In September 1962 the final iteration, the MP5, arrived. It was again somewhat larger than the earlier MP4, with maximum length up to 2,970 mm (117 in) and cargo space increased by 100 mm (3.9 in), to a total of 1,260 mm (50 in). As a matter of fact, nearly all body panels were altered in some way, with new marker lights installed, redesigned doors, a blunter and more rounded front, bigger vent openings in front of the doors’ leading edge, and finally a solid metal roof rather than the earlier fabric-covered opening. The MP5 also gained more chrome trim, around the headlamps and elsewhere. April 1963 saw the introduction of automatic oil mixing for the two-stroke engine. In August 1969 new safety regulations required certain lighting changes, a driver’s side headrest, and seatbelts.[2] The MP5 remained in production until December 1971, and on sale into 1972.

By 1972, 336,534 units had been produced, and production was terminated because of the falling popularity of three-wheeled models in favor of more modern four-wheeled models.[3]

The Midget I has also been sold outside Japan as the “Bajaj“, “Tri-Mobile”, or “Bemo” (Bemos in Indonesia are used as autorickshaw share taxis). It is one of the first cars manufactured by the Japanese automaker Daihatsu, known for its low cost, practical vehicles. Thai production began in 1959, with Indonesia, Pakistan, and many other countries soon following. Almost exclusively used as an autorickshaw (or ‘tuk-tuk’) the Midget was also a well known icon of public transportation in South Asia. Not meant for performance, this obscure vehicle does weave through larger traffic well, despite the fact that it only has three wheels. These original tuk-tuks are a little harder to find in modern times.

In Thailand the Midget MP4 is still in production as a Chinnaraje Midget in Chiang Mai and as a TukTuk Midget MP4 in Bangkok. The facelifted version, known as MP5 is also still manufactured by the TukTuk (Thailand) Co., Ltd. in Bangkok.

References

Route★ZERO (2012-03-04). “【ダイハツ ミゼット DKA / DSA型】 幌付3輪スクーター型トラック” [Soft top three-wheeled scooter truck (Daihatsu Midget DKA/DSA)]. 旧式商用車図鑑 [Illustrated old commercial vehicles] (in Japanese). Retrieved 2015-01-23. ポルシェ356A [Porsche 356A] (2013-09-02). “1959年 ダイハツ ミゼットMP 丸ハンドルのミゼット” [1959 steering wheel type Daihatsu Midget]. 自動車カタログ棚から [From the catalog shelf] (in Japanese). Retrieved 2015-01-23.

  1. Kießler, Bernd-Wilfried (1992), Daihatsu Automobile: Erfahrung für die Zukunft (in German), Südwest, p. 30, ISBN 9783517012254