Hilangkan, gantikan, lupakan, dan bebaslah dari masalah

Sejak Juni 2017 bemo berangsur-angsur dihilangkan dari jalan-jalan di ibukota. Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta seperti tidak mempertimbangkan bahwa dengan menghilangkan bemo, maka ia juga menghapus sejarah yang dimiliki alat transportasi untuk menyambut perhelatan Ganefo itu, dan menghilangkan berbagai kenangan di sekitar keberadaan bemo yang dimiliki publik. Di negara ini memang publik dibiasakan untuk cepat lupa.

Dishub menganggap pihaknya telah melaksanakan tugas dengan tepat, karena telah melakukan sosialisasi dan mengeluarkan surat penertiban sebelumnya. “Sebelum penertiban, sudah digelar pertemuan dengan para pemilik. Mereka sudah sepakat direvitalisasi,” kata Kepala Dishub DKI Jakarta, Andri Yansyah, Senin, 24 Juli 2017[1]. Sebagai catatan, sosialisasi yang dilakukan, lebih banyak dihadiri oleh pihak organda dan wakil pemilik bemo yang berpihak pada penjual kendaraan pengganti.

Lepas dari dukungan dishub pada berkembangnya mentalitas pelupa, kata revitalisasi pada pernyataan kepala dinas itu pun tidak tepat, karena yang terjadi adalah penggantian bemo dengan bajaj. Bemo dihilangkan dari peta transportasi umum DKI Jakarta, karena kondisi dan keberadaannya sudah dianggap sudah tidak layak. Bemo tidak sedang di-vital-kan kembali menjadi alat transportasi kota. Bemo sekedar dihilangkan.

Hal lain yang menjadi pertanyaan adalah pernyataan dari pemerintah bahwa bemo-bemo itu digantikan oleh bajaj. “Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Widjatmoko mengatakan, bajaj yang memiliki roda empat mulai diuji coba di Jakarta. Uji coba itu dilakukan selama 3 bulan mulai 19 Juli 2017.”[2] Bila mengacu pada definisi yang tertulis di dalam undang -undang Republik Indonesia nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu lintas dan angkutan jalan, bemo dapat dikategorikan sebagai kendaraan bermotor umum dalam trayek, sedangkan bajaj adalah kendaraan bermotor umum tidak dalam trayek. Bagaimana satu hal dapat digantikan oleh hal lain yang berbeda dalam cara beroperasinya? Ditambah lagi, menurut undang-undang tersebut kendaraan umum beroda tiga tidak dikenal.[3]

Beberapa pertanyaan lain yang perlu dikritisi kemudian, antara lain, adalah: 1. Berapakah jumlah bajaj yang kini telah beroperasi? Apakah belum mencapai jumlah maksimumnya yang menurut Kepala Bidang Angkutan Jalan Dinas Perhubungan DKI Emmanuel di 2015 tidak boleh melebih 14,424 buah?[4] Dengan mengalihkan bemo ke bajaj, apakah tidak akan melebihi ‘kuota’ dan akan menimbulkan masalah baru? 2. Apakah publik, khususnya pemilik dan pengemudi angkutan umum, telah mengetahui tentang adanya Rencana Induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan baik Nasional, Provinsi, maupun kabupaten/kota seperti yang tercantum dalam undang-undang tersebut? Mengajak partisipasi publik (secara tepat tentunya) merupakan asas yang tercantum dalam undang-undang juga bukan?

Di pihak lain, para pengemudi dan pemilik pengemudi bemo memiliki masalahnya sendiri. Mereka terbiasa (atau dibiasakan) untuk tidak berpikir panjang dan cenderung menunggu peruntungan. Mereka berharap kinerja Dishub sama dengan masa kepemimpinan gubernur-gubernur sebelumnya, yaitu ‘anget-anget tai ayam’. Tunggu beberapa minggu, bila petugas sudah lupa, bemo-bemo akan dapat bebas beroperasi lagi – tentunya dengan memberi kontribusi pada petugas dinas di lapangan.

Masalah pelupaan memang akut di negara ini. Hal ini diperparah dengan ketidaktepatan dalam penggunaan kata dan ketidakjernihan berpikir dalam mengatasi masalah. Manusia memang cenderung memperumit masalah.

 

[1] http://www.beritajakarta.id/read/47312/-dishub-rampungkan-tahap-awal-revitalisasi-bemo–#.WXw8JoXBdFU

[2] http://megapolitan.kompas.com/read/2017/07/21/15564481/ada-bajaj-roda-empat-di-jalanan-jakarta-ini-kata-dishub

[3] https://beritagar.id/artikel/berita/bajaj-beroda-tiga-akan-pensiun-dari-jalanan

[4] http://jakarta.bisnis.com/read/20150106/77/388351/setelah-batasi-sepeda-motor-ahok-buat-zonasi-bajaj

Antara Teknologi dan Kesetaraan: Studi Kasus Bemo Bertenaga Listrik

Di 2011 sebuah kelompok warga Jakarta mulai melakukan upaya revitalisasi atas keberadaan bemo (becak motor) sebagai moda transportasi kota Jakarta. Teknologi kendaraan bertenaga listrik diajukan oleh kelompok madani itu sebagai alternatif dari pelarangan bemo untuk beroperasi. Bemo bertenaga listrik (bemo gatrik)[1] merupakan solusi karena, bagi kelompok tersebut, peniadaan bemo akan ikut menekan daya imajinasi, inspirasi, dan inovasi warga Jakarta – bila tidak bisa disebut menghilangkan satu dari banyak akar kebudayaan kota.

Kelompok yang terdiri warga kota dari berbagai latar belakang ini beranggapan bahwa bemo perlu dilestarikan, karena memiliki sejarah yang panjang dan mengkonstruksi budaya kota Jakarta. Terlebih akibat dari kepunahannya akan lebih banyak memberi dampak buruk dari (sekedar) soal risiko peremajaan transportasi kota. Bagi sebagian warga kota Jakarta, bemo merupakan bagian dari kehidupan mereka. Bemo merupakan moda transportasi murah meriah yang dapat menelusuri jalan-jalan kecil di antara perumahan, sehingga memungkinkan warga kota untuk berpindah tempat dengan efisien di dalam jarak yang terlalu jauh untuk dilakukan dengan berjalan kaki, terlalu dekat bila menggunakan kendaraan bermotor lain. Bemo merupakan kenangan masa lalu yang tidak ingin dilupakan. Hal lain yang sangat disayangkan bila bemo dibuat punah adalah artikulasi yang dapat timbul kemudian adalah konotasi bahwa konsumsi benda-benda baru lebih diutamakan. Benda lama dianggap tidak berguna dan perlu diganti, tanpa memperhitungkan nilai kebudayaannya. Dalam hal ini, bemo sebagai obyek yang telah ikut mengonstruksi kebudayaan kota Jakarta dianggap tidak berguna.

Becak motor itu awalnya adalah kendaraan pengangkut barang produksi pabrik Daihatsu antara 1957-1963. Oleh Presiden Soekarno bemo dijadikan kendaraan pengangkut penumpang untuk menyambut perhelatan olahraga internasional di Jakarta, pada Ganefo di 1963. Di 1996 Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Soerjadi Soedirdja mengeluarkan Surat Keputusan Gubernur yang intinya melarang beroperasinya bemo di ibukota. Bemo yang beroda tiga dan bertenaga mesin 2-langkah (2-tak, berbahan bakar bensin campur oli) itu dilarang beroperasi, harus diremajakan, atau lebih tepatnya digantikan, dengan kendaraan roda empat bermesin 4-langkah (4-tak, berbahan bakar bensin).

Sejak Surat Keputusan Gubernur itu berlaku, banyak bemo yang ditangkap untuk dihancurkan. Sebagai pengganti, pengemudi bemo diberi fasilitas kredit kendaraan Angkutan Pengganti Bemo (APB) yang beroda empat. Faktor ketidaksiapan birokrasi dan banyaknya oknum di lapangan mengakibatkan ratusan pengemudi bemo itu tidak dapat menggunakan fasilitas yang ditawarkan. Bemo-bemo yang terjaring diperjualbelikan secara tidak resmi, sehingga ratusan bemo yang terjaring itu kembali beroperasi, walau tanpa surat-surat resmi. Karena bemo menjadi sebuah kendaraan yang tidak legal, jumlah pemasok suku cadang untuk kendaraan beroda tiga itu makin lama makin berkurang, mengakibatkan suku cadang bemo pun sulit didapat. Para pengemudi bemo bergelut dalam situasi yang sulit. Selain mereka perlu bersiasat untuk menghadapi aparat hukum, mereka perlu memberdayakan kreativitas yang tinggi untuk membuat bemo-bemo mereka mampu untuk terus beroperasi demi dapat tetap menghasilkan uang untuk hidup mereka dan keluarga.

Untuk mengatasi masalah tersebut, di 2012 sebuah kelompok madani warga Jakarta mendorong program revitalisasi bemo. Selain melakukan pendekatan ke pihak pemerintah, kelompok ini berpatungan dan bergotong-royong menghadirkan berbagai teknologi yang mudah, murah, dan cocok untuk diterapkan pada bemo. Harapannya, teknologi yang tepat dapat mendorong perbaikan kehidupan para pengemudi bemo. Teknologi diharapkan dapat menghadirkan kesetaraan.

Berbagai eksperimen dilakukan yang utamanya adalah untuk menjawab permasalahan inti, yaitu agar bemo tidak mengakibatkan polusi suara dan udara. Mulai dari eksperimentasi menggunakan gas hidrogen yang disalurkan ke karburator untuk menekan gas buang, sampai akhirnya berhasil membangun sebuah bemo bertenaga listrik (bemo gatrik) berbadan serat kaca (fiberglass). Usaha patungan dan gotong-royong sebagian kecil warga Jakarta itu banyak membantu dalam proses eksperimentasi, sehingga bemo gatrik dapat meluncur ke Balai Kota untuk mengajukan sebuah alternatif transportasi kota yang bebas polusi udara dan suara di Februari 2013.

Teknologi motor listrik (Brushless Direct Curent motor) dan baterai jenis Solid Lead Acid (SLA) yang digunakan untuk menggerakkan purwarupa (prototype) bemo gatrik mampu mengangkut beban jarak pendek, sesuai dengan kebutuhan para pengemudi bemo. Teknologi motor tanpa sikat itu meminimalisir adanya kebutuhan perawatan berbiaya tinggi, seperti penggantian pelumas secara berkala. Baterai SLA merupakan wadah penyimpan energi listrik yang paling minimal untuk suatu aplikasi kendaraan listrik. Masa operasinya cenderung panjang, yaitu dapat mencapai dua tahun. Saat uji coba untuk menarik penumpang, bemo gatrik mampu menempuh sekurang-kurangnya jarak 15 kilometer dengan beban enam penumpang di belakang dan satu di depan, sebelum kemudian perlu dilakukan pengisian baterai (charging) selama enam jam. Kemampuan ini dianggap dapat menjawab kebutuhan para pengemudi bemo yang mengangkut penumpang empat sampai lima rit di pagi hari pukul 6-9 dan di sore hari pukul 16-19.

Teknologi yang diaplikasikan pada sebuah purwarupa bemo gatrik itu diharapkan dapat sedikit banyak meningkatkan posisi tawar para pengemudi bemo di mata birokrasi pemerintah, sehingga negosiasi dapat terjadi secara setara. Berbagai usaha dilakukan untuk menghadirkan teknologi yang dapat dikelola secara mandiri, tanpa tergantung pada produsen skala industri, namun ternyata tidak mendapat tanggapan yang setara dari pihak pemerintah. Para pengemudi bemo tetap dihadapkan pada pelarangan yang tercantum di dalam Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta yang dikeluarkan pada 1996.

Imajinasi, inspirasi, dan inovasi melalui teknologi tenaga listrik pada bemo gatrik ternyata memperlihatkan tidak majunyanya cara pikir aparat negara. Hal ini dapat disimpulkan, bila tidak ingin berasumsi bahwa teknologi kendaraan listrik akan menggeser, mengecilkan, sehingga menurunkan pendapatan pabrik kendaraan bertenaga bahan bakar minyak – fosil. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Edward Tenner dalam bukunya Why Things Bite Back, bahwa pada setiap langkah maju di dunia teknologi, bersamanya akan membawa kemunduran satu langkah yang tidak terduga.[2] Dari studi kasus program revitalisasi bemo gatrik di Jakarta, kita dapat melihat bahwa kehadiran teknologi tidak selalu menghadirkan kesetaraan di tengah-tengah masyarakat. Untuk mencapai kesetaraan dalam berkehidupan perlu didampingi adanya pemikiran kritis dan niat progresif dari setiap pihak yang terlibat dalamnya.

 

[1] Program Revitalisasi ini dapat diketahui lebih lanjut melalui situs aikon.org.

[2]A step forward in technology tends to bring with it an unexpected step backward. A step forward for some people frequently brings with it a step backward for others.” Dikutip dari tulisan Profesor Freeman Dyson berjudul Technology and Social Justice di dalam kuliah umum Nizer 1998. Freeman Dyson adalah akademisi di Institute for Advanced Study in Princeton, New Jersey. Di unduh dari tulisan situs Carnegie Council November 25, 1997. https://www.carnegiecouncil.org/publications/archive/nizer_lectures/004 pada 21 Juni 2017, pukul 09:35.

Revitalisasi Bemo Jakarta sebuah Gagasan

revitalisasi-bemo-jakarta2

Becak Motor (bemo) merupakan Warisan Budaya Kota Jakarta

Bemo tidak hanya akan diremajakan namun akan direvitalisasi menjadi ikon ibukota Jakarta.

Bemo 2016 merupakan sarana transportasi penunjang TransJakarta yang bebas polusi dan berbudaya.

Bemo 2016 melayani penumpang di dalam trayek yang sudah ada dan mempublikasikan materi pendidikan bagi warga kota.

Cuplikan spesifikasi;

  1. Bertenaga listrik minimal 9KW
  2. Baterai LiFePo4
  3. Jangkauan minimal 150 Km setiap pengisian, dengan efisiensi minimal 40KWH
  4. Pengisian baterai maksimal 3 jam.
  5. Aplikasi panel surya dan baterai cadangan tersedia di pangkalan.
  6. Lolos Uji Tipe layak menjadi sarana transportasi umum lingkungan.
  7. Jumlah penumpang tujuh orang @ 80Kg: Satu orang di depan sebelah pengemudi, enam penumpang duduk berhadapan di belakang.
  8. Material lokal minimal 90%.
  9. Bagian sisi kap/atap penumpang sebagai papan publikasi layanan masyarakat, bagian atas kap adalah panel surya yang berfungsi mendukung pengisian baterai.
  10. On Board Unit terhubung dengan Operation Control Center di kantor pusat Transjakarta. Global Positioning System. QLUE Transit.
  11. Tiket elektronik.

Fungsi (yang sudah diuji coba)

  • Angkutan Lingkungan: transportasi penunjang TransJakarta,
  • BemoBaca: Perpustakaan Keliling
  • Bemoskop: Bioskop/layar tancap keliling

Fungsi alternatif

  • Distro: Kendaraan outlet penjualan cindera mata DKI Jakarta,
  • Kios penjualan pulsa listrik,
  • Kendaraan makanan cepat saji (food-truck).

Kolaborasi

  1. TransJakarta
  2. PT KAI
  3. Perusahaan Listrik Negara
  4. Telkom
  5. Dinas Pariwisata
  6. Badan Arsip dan Perpustakaan
  7. Dewan Kesenian Jakarta sebagai pengelola program
  8. Badan Ekonomi Kreatif

Koperasi simpan pinjam yang dibentuk akan melakukan investasi 300 bemo bertenaga listrik yang akan dioperasikan dalam tujuh trayek yang saat ini masih dijalankan oleh bemo-bemo yang perlu diremajakan di kawasan;

  1. Bendungan Hilir
  2. Buaran
  3. Grogol
  4. Karet
  5. Mangga Besar
  6. Manggarai
  7. Stasiun Kota

Pemilik/pengemudi bemo yang ada ditukar dengan satu bemo bertenaga listrik[1]. Bemo lama akan dihancurkan, material dijual ‘kiloan’ dan diserahkan sebagai uang muka kepada koperasi.

Pemasukan bemo 2016 diperoleh dari;

  1. Harga tiket elektronik Rp 3,000,- per penumpang satu kali jalan[2]. Dana ini langsung masuk ke rekening pengemudi, setelah dipotong retribusi bagi Pemda DKI Jakarta dan Koperasi.
  2. Pendapatan tambahan adalah dari pembayaran sponsor pada kap dan program pendidikan[3] di rusunawa/kampung kota.
  3. Sewa dari tamu hotel berbintang.

Koperasi membiayai kebutuhan operasional bulanan, berupa;

  1. Pemeliharaan bemo
  2. Program
  3. Marketing

[1] Untuk sementara ini, uang muka yang telah disepakati oleh para pemilik/pengemudi bemo adalah sebesar Rp 1,5 juta dengan melampirkan fotokopi Kartu Keluarga, BPJS, KJP dan rekening Bank DKI. Pembayaran angsuran Rp 1 juta/bulan. Dengan pembayaran lunas dalam 48 bulan (4-tahun). Jika Nilai satu bemo (diperkirakan) Rp 40,000,000,-/buah (menurut media untuk produk bajaj listrik PT Arrtu Media Energie maka, bila dikalikan 300 bemo, nilai investasi koperasi adalah Rp 12 Miliar.

[2] Satu bemo berpotensi untuk melayani 7 penumpang x 10 jalan = 70 penumpang x 300 bemo = 21,000 orang per hari x tiket Rp 3,000,- = Rp 63 juta per hari x 30 hari = Rp 1,89 miliar per bulan.

[3] Masing-masing pangkalan memiliki minimal dua BemoBaca dan dua Bemoskop yang beroperasi dengan melayani publik dalam hal perpustakaan dan layar tancep yang berisi berbagai penyuluhan. Produsen non produk tembakau yang memasang iklan layanan masyarakat pada kap bemo yang beroperasi di trayek, mendapat kesempatan untuk memiliki program di kampung kota yang dikelola oleh Dewan Kesenian Jakarta.

Save

Save

Save

Paguyuban Bemo Jakarta Bertemu dengan Sudinhub

Jumat, 9 September 2016 pertemuan berkala Paguyuban Bemo Jakarta dihadiri oleh Suku Dinas Perhubungan samping stasiun Kota. Menurut beberapa pemilik/pengemudi bemo, itu adalah kali pertama pemerintah mau ‘turun ke bawah’ berbincang saling tukar sudut pandang. Terima kasih kepada Ibu Regitta dan pak Verdiansyah dari Dinas Perhubungan yang dengan sigap membantu usaha para pengemudi bemo sejak pertemuan terdahulu.

Melanjutkan diskusi yang sebelumnya diadakan di kantor Dinas Perhubungan dan obrolan di Jalan Kimia, siang itu kedua pihak saling memberi masukan.

Inti obrolan jelas. Pemerintah DKI Jakarta akan meremajakan (menghapus) bemo dari Jakarta kurang dari tiga bulan dari hari ini, di akhir 2016. Para pengemudi bemo diharapkan oleh pemerintah untuk mengajukan solusi kendaraan pengganti yang dapat diwujudkan oleh adanya kerjasama dengan produsen kendaraan pengganti yang telah lolos Uji Tipe dan memiliki pihak penanggung dana yang diwakili oleh sebuah koperasi. Pihak pemilik dan pengemudi bemo memiliki banyak sekali pertanyaan, antara lain seperti apakah kendaraan pengganti bemo itu, sistem trayek saat ini akan tetap ada,  harganya berapa, garansi, cara pembayaran dan banyak lagi.

Dalam kurang dari tiga bulan ini, para pengemudi bersepakat untuk mengusahakan (mencari produsen atau membangunnya sediri) kendaraan pengganti bemo dengan kendaraan berbentuk dan berkapasitas seperti bemo yang ada sekarang, lolos Uji Tipe Kementrian Perhubungan, ramah lingkungan dan dapat menjadi ikon ibukota.

Siang itu banyak sekali yang dibicarakan. Banyak harapan di pertemuan itu. Mari kita lihat sejauh mana pemerintah kota mengadopsi kepentingan (sebagian) warganya.

Save

Save

Soal Bemo di Dinas Perhubungan DKI Jakarta

Undangan dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta diterima Hari Kamis, 1 September 2016 malam. Banyak perdebatan di antara pengemudi bemo tentang sah atau tidaknya undangan tersebut. Dari yang tadinya semua wakil dari pangkalan bemo akan hadir, pada saat waktunya, hanya wakil dari pangkalan Bendungan Hilir, Karet dan Grogol yang hadir.

Selain pihak Dishub yang diwakili oleh pak Mas Des (?) dan mbak Regatta, hadir dalam pertemuan tersebut pihak Organda, Koperasi Kolamas Jaya.

Ada sembilan dasar hukum yang digunakan;

  1. Undang-undang nomor 22 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
  2. Keputusan Menteri Perhubungan nomor 35 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan dengan Kendaraan Umum. Khususnya pasal 28d dan 32.2b
  3. Peraturan Menteri Perhubungan nomor 32 2016 yang mencantumkan soal mobil penumpang angkutan lingkungan dapat saja beroda tiga.
  4. Peraturan Daerah nomor 5 2014 tentang Transportasi. Khususnya pasal 50.1 dan 51.2c.
  5. Keputusan Gubernur DKI Jakarta nomor 1471 30 Oktober 1989 tentang Rayonisasi Angkutan Penumpang Umum.
  6. Keputusan Gubernur DKI Jakarta nomor 84 2004 tentang Pola Transportasi Makro.
  7. Instruksi Gubernur DKI Jakarta nomor 33 1996 tentang Pelaksanaan Peningkatan Pelayanan dari Bemo Menjadi Bus Kecil.
  8. Surat Gubernur DKI Jakarta nomor 1356/-1.711.5 22 Mei 1996 tentang Peremajaan Bemo.
  9. Surat Keputusan Kepala DLLAJR DKI Jakarta nomor 331 1996 30 Agustus 1996 tentang Penetapan Trayek dan Rute Kendaraan Pengganti Bemo.

Menurut data 2 September 2016 yang diperoleh dari survey lapangan Dinas Perhubungan jumlah bemo berdasarkan wilayah dan trayek adalah sbb.;

Jakarta Pusat

  • Bendungan Hilir Pejompongan tercatat 63 bemo dengan 30 bemo di antaranya masih beroperasi.
  • Karet – FO Sudirman tercatat 16 bemo dengan  12 bemo di antaranya masih beroperasi.

Jakarta Barat

  • Jalan Latumenten, Grogol – Duta Mas, Jelambar tercatat 40 bemo dengan 30 bemo di antaranya masih beroperasi.
  • Olimo – Mangga Besar – Pintu Air – Pasar Baru tercatat 24 bemo dan beroperasi.

Jakarta Selatan

  • Manggarai – RS Cipto Mangunkusumo tercatat 25 bemo dengan 22 bemo di antaranya masih beroperasi.

Jakarta Utara

  • Pademangan – Stasiun Kota tercatat 40 bemo dengan 35 bemo di antaranya masih beroperasi.

Jakarta Timur

  • Jalan dr Radjiman – Pulo Jahe tercatat 20 bemo dengan 12 bemo di antaranya masih beroperasi.

Total terdapat tujuh trayek dengan 228 bemo yang tercatat dan 165 di antaranya masih beroperasi.

Rekaman pertemuan dapat didengar di sini, sini dan di sini.

Pemerintah DKI ingin ‘merapihkan’ moda transportasi kotanya. Pemerintah itu mulai melakukan penertiban dari bus-bus besar Transjakarta, kemudian bus ukuran sedang seperti Metromini (oranye) dan Kopaja (hijau), sekarang tiba ‘giliran’ kendaraan transportasi kecil: termasuk Bajaj dan bemo. Bemo sebenarnya sudah dianggap tidak ada secara de jure sejak 1996, namun secara de facto 200 bemo lebih masih melayani penumpang dari kalangan bawah sampai pekerja kantoran. Para pemilik dan/atau pengemudi bemo diberi waktu sampai akhir 2016 untuk beralih ke alat transportasi umum lain, seperti Bajaj biru Berbahan Bakar Gas (BBG) dan minibus.

Dari pertemuan 2 September 2016 di kantor Dinas Perhubungan di Jatibaru, Tanah Abang itu, pemilik/pengemudi bemo diharapkan mematuhi alternatif yang ditawarkan, yaitu peremajaan melalui koperasi Kolamas Jaya yang didukung Organda. Prosesnya masih belum benderang betul, namun sederhananya adalah pemilik/pengemudi bemo menyerahkan bemo masing-masing untuk dihancurkan dan diberi kredit (melalui kerjasama ‘leasing’ dan koperasi) kendaraan roda tiga atau empat, sesuai pilihan.

Setelah dipertanyakan, alternatif ‘peremajaan’ bemo dapat dilakukan dengan mengajukan bemo yang ‘segar’ baik penampilan dan aspek teknisnya, sesuai dengan ketentuan yang disusun oleh Kementrian Perhubungan, berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan nomor KM 9 2004, tentang Pengujian Tipe Kendaraan Bermotor Menteri Perhubungan. Proses yang perlu dilalui antara lain adalah merancang ulang, pembuatan prototipe, melalui berbagai ujian untuk mengurus surat-surat kelayakan jalan, seperti yang diperoleh produsen otomotif selama ini. Ini adalah hal yang ‘berat’ bila dilakukan hanya oleh sekelompok pengemudi bemo yang ingin tetap menggunakan bemonya sebagai mata pencaharian.

Save

Save

Pak Kinong dan Kawan-kawan 17an

Empat bemo warna-warni beriiringan dari Karet, Manggarai, Proklamasi, Gondangdia dan pulang lewat Balaikota. Konon mumpung pak polisi sedang upacara peringati 71 tahun negara (yang konon sudah) merdeka.

Di paling depan, BemoBaca putih dengan rak buku yang terlihat karena terpal penutupnya dibuka sepanjang jalan, dikemudikan oleh pak Kinong. Di belakangnya adalah pak Mahmud dengan bemo berwarna biru milik pak Iin. Atap bagian penumpang diselimuti kap berwarna merah bergambar Sutan Syahrir.Kemudian bemo ungu dengan kap merah bergambar Tan Malaka beserta pesannya yang diambil dari Buku Madilog. Bemo ungu itu baru selesai dicat dan kali ini disupiri pak Yadi yang ditemani pak Sugeng di sebelahnya. Paling belakang adalah bemo pak Mamat. Bemo yang paling ‘sehat’ dan rapih itu diselimuti rajutan benang poly warna-warni hadiah dari Kelompok RajutKejut tahun lalu.

Di tengah perjalanan, rombongan pak Kinong mampir ke kediaman mbak Gita di seberang Gedung Proklamasi, yang tidak disangka telah menyiapkan makan siang yang lezat di atas meja makan yang panjang. Terima kasih mbak.

Santai menyusuri jalan-jalan menebar polusi udara dan suara.

IMG_3095 IMG_3096 IMG_3097 IMG_3099 IMG_3107 IMG_3108 IMG_3109 IMG_3111 IMG_3113 IMG_3115 IMG_3116 IMG_3117 IMG_3125 IMG_3137 IMG_3140

Bemo akan Punah?

Tertulis di fotokopi surat Dinas Perhubungan DKI Jakarta bernomor 4823/-/819 bertanggal 23 Juni 2016, konon ada surat Ketua DPU Angkutan Lingkungan Organda DKI Jakarta nomor 002/dishub-angling/vi/2016 tanggal 8 Juni 2016 perihal Percepatan Penggantian Angkutan Bemo.

IMG_2382_dishub-bemo

Pagi tadi pak Kinong membahas rencana menanggapi surat tersebut. Rencana yang terdiri dari berbagai butir itu perlu dilakukan, setidaknya mengusahakan kepastian nasib beliau beserta teman-teman sesama pengemudi bemo.

Rencananya antara lain;

  1. Mengajukan surat permintaan audisi di depan Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi Provinsi DKI Jakarta, Bapak Andri Yansyah,
  2. Mempersiapkan suatu usul/skema kerja-bersama antara pengemudi bemo dan Dinas Pariwisata (misalnya) yang dapat menjadi alternatif bagi rencana pemprov untuk melakukan ‘peremajaan’ dengan ‘menggantikan’ bemo dengan kendaraan lain,
  3. Mengumpulkan dukungan dari warga kota, khususnya para penumpang bemo yang selama ini terbantu dengan adanya alat transportasi jarak pendek ini,
  4. Mengusahakan segera proses ‘kosmetika’; merapikan eksterior dan mencari solusi praktis untuk menjawab permasalahan polusi udara dan suara. Antara lain mencoba untuk mengajak produsen bajaj listrik dalam negeri, yang konon telah memperoleh izin dari pihak yang berwenang soal kelaikan jalan/operasi.

Mohon doa restu.

Save

Pak Kinong Presentasi di FSRD DKV Untar

Jumat, 15 April 2016.

Di hadapan dosen Desain Komunikasi Visual dan Desain Interior Fakultas Senirupa dan Desain Universitas Tarumanagara, pak Kinong berbagi cerita soal perkembangan program Revitalisasi Bemo Karet dari 2011 sampai kemarin.

Melalui pak Arief Adityawan, pihak FSRD Untar sebenarnya telah mendukung program pak Kinong ini sejak lama. Di hari itu sedikit lebih diformalkan, selain untuk melatih pak Kinong memberi presentasi, juga untuk mengajak pada dosen FSRD Untar untuk terlibat lebih jauh.

Di sore itu juga, bantuan biaya perbaikan untuk bemo pak Ari disepakati. Hal ini penting, karena pak Kinong dan teman-teman di trayek stasiun Karet – Sudirman sedang gencar melakukan perapihan 17 bemo yang ada di sana. Para pengemudi bemo sedang berusaha untuk melakukan perbaikan layanan dan fisik bemo masing-masing, dengan harapan para penumpang makin nyaman dan pemerintah provinsi DKI Jakarta memperoleh pesan yang ingin disampaikan, bahwa adalah baik untuk bemo tetap ada.

Mengingat keterlibatan Desain Komunikasi Visual dan Desain Interior FSRD Untar dalam program ini sangat berharga, pak Kinong mengajak teman-teman di institusi pendidikan ini untuk memanfaatkan apa yang dimilikinya dan teman-teman di Karet untuk kepentingan bersama.

Salma, penggiat Juki & Friends, juga bergabung untuk menceritakan kolaborasi yang telah dilakukan selama ini dengan kegiatan BemoBaca dan Bemoskop.

Photo0991 Photo0995 Photo0996  IMG-20160415-WA0011 IMG-20160415-WA0013 IMG-20160415-WA0014