Garis-garis di dalam Galeri

Rifky Effendy, atau yang dikenal dengan panggilan Goro, dulunya adalah seorang pembuat keramik di studio Bata Merah, kini adalah satu dari dua kurator pameran Amok Tanah Jawa yang akan dibuka di Langgeng Art Foundation di sore hari itu. Ia melambaikan tangannya menyambut kedatangan saya. Sambil tetap berdiri di samping meja penerimaan dan menyodorkan tangan untuk memberi salam, ia mengarahkan saya untuk melihat pameran di lantai bawah, mengingat masih ada sedikit waktu sebelum pameran karya seniman Moelyono yang ia kurasi itu, dibuka.

Di lantai bawah sedang diselenggarakan pameran berjudul Labirin, karya dua perupa muda lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, Rega Ayundya dan Kara Andarini yang kini tinggal dan bekerja di Jakarta. Mereka memamerkan karya-karya yang dibuat dengan media spidol di atas akrilik dan bolpoin di atas kertas. Satu di antara banyak karya yang dipamerkan di ruang berlantai semen tanpa pendingin udara itu, adalah karya Kara berjudul Stacked Space #4.

Kara Andarini
Stacked Space #4
2017
Bolpoin di atas kertas Montval 300 gsm
95 x 180 cm

Kara membuat banyak sekali bentuk garis secara berulang. Garis tipis, garis tebal, arsiran, dan titik yang dibuat agak tebal. Coretan warna hitam dari bolpen itu dibuat berulang dan merupakan kombinasi antara garis tegas dan halus, kadang vertikal, kadang horizontal, dan diagonal. Selintas karya ini terlihat sebagai gambar sederhana (sketch) dari kotak-kotak tidak beraturan yang saling bertumpuk. Berkesan abstrak, tidak sedang menyampaikan pesan yang kongkrit.

Setelah memandanginya lebih lama, saya mulai melihat garis-garis itu membentuk bidang-bidang datar: ruang, atap, dinding, jendela, dan pintu. Ada rumah dengan antena kawat di sebelah bidang putih yang di atasnya muncul garis yang mirip bulan sabit. Atap-atap miring di atas sebuah selasar yang menaungi sebuah pelataran yang berada tepat di pinggir jurang, dapat terlihat di satu bagian. Di bagian lain, agak di tengah, muncul bayangan hitam dari sesuatu yang organik, atau mungkin itu adalah kumpulan beberapa pohon cemara yang tumbuh liar dan tidak terawat. Seutas kawat besi terlihat membentang dari satu tiang bambu ke tiang lain yang agak melengkung, kemudian membelok ke tiang lain yang berada di samping dinding bangunan bertangga terjal. Selain terdapat warung-warung yang berwujud hampir kubus dan beratap seng yang ada di mana-mana, saya juga dapat menemukan toilet terbuka yang dibuat agak terpisah dari daratan, menjorok ke sungai. Bagi saya, karya ini berbicara tentang kampung susun yang sangat dinamis dan artistik.

Stacked Space #4 bisa jadi merupakan sebuah karya yang menggambarkan sebuah kampung susun yang kosong, sepi, tanpa penduduk, tanpa kehidupan. Namun setiap kali fokus mata saya berpindah, garis-garis itu seperti sedang menari bersuka ria, saling terhubung, bergetar, bermain, dan menyampaikan pesan-pesan yang sederhana – terasa kampung susun itu tidak sepi, walau tanpa penghuni. Karya ini telah memenuhi berbagai aspek formal yang perlu dipenuhi untuk dapat dianggap sebagai sebuah karya seni. Ia memiliki tegangan ekspresi maksimal, seperti yang saya rasakan saat melihat garis-garis coretan pensil dan cat minyak di atas kardus yang dibuat Joan Miró secara hati-hati atau pada gambar-gambar cepat Gustav Klimt, yang mana lukisannya kemudian berhasil menyandingkan garis-garis dan bidang-bidang geometris dengan garis dan bidang organik yang mengekspresikan emosi secara maksimal. Agak berlebihan? Mungkin.

Garis-garis pada Stacked Space #4 ini memenuhi selembar kertas yang tingginya melebihi tinggi tubuh si seniman. Entah bagaimana ia mengumpulkan energi yang demikian besar untuk dapat menghasilkan garis-garis dengan ketebalan dan gelap tinta yang konsisten. Format karya Kara yang menggunakan kertas berpotongan vertikal sebagai medium penerima ini mengingatkan saya pada lukisan gulung lansekap Dinasti Han dan dinasti sebelumnya. Obyek yang terdekat berada di bagian bawah, berurut ke atas, di mana gambar di puncak adalah obyek terjauh, yang tetap digambarkan dengan ukuran sama dengan obyek terdekat. Saya selalu menemukan hal baru ketika menggeser pandangan mengikuti garis-garis hitam itu.

Mungkin Kara adalah seorang anomali dari Generasi Milenial – generasi yang lekat dengan berbagai aplikasi teknologi dijital sejak lahir. Ia seorang anomali karena karya yang dihasilkannya tidak menunjukkan kegagapan dalam menggambarkan sebuah situasi yang sangat relevan pada saat ini. Sebuah karya yang gagap hanya dapat terjadi bila seorang seniman memaksakan diri untuk dapat menghasilkan suatu karya yang sebenarnya berjarak dari kehidupannya sehari-hari. Garis-garis pada Stacked Space #4 terlihat alamiah, tidak dipaksakan, dan seakan memiliki ceritanya sendiri-sendiri. Pengamatan yang sangat dekat pada obyek dapat dipastikan terjadi sebelum si seniman mulai menggoreskan bolpen itu di atas kertas yang pasti telah dipilihnya dengan pertimbangan yang mendalam. Lepas dari karya yang sudah baik, sangat disayangkan adanya persoalan generasi milenial Indonesia yang sangat dekat dengan pengaruh budaya asing, khususnya Amerika, yang muncul dengan jelas. Hal ini terlihat dari penggunaan bahasa Inggris sebagai judul karya dan penulisan sinopsis berbahasa Indonesia, yang kualitasnya tidak sebanding dengan dalamnya makna-makna yang dapat diangkat dari karya-karya yang dipamerkan.

Tiba-tiba suara Goro terdengar dari atas lubang tangga, tanda bahwa acara pembukaan pameran di atas, akan segera dimulai. Saya bergegas menuju tangga dan naik. Arahannya untuk saya melihat pameran di lantai bawah adalah ide yang baik. Saya sungguh beruntung, tidak melewatkan karya baik dari seniman muda yang mungkin akan makin menjadi nantinya.

Save

Save

Jawilan Hari Raya Seni

Acara pembukaan perhelatan ArtJog 10 itu terkesan biasa saja. Sebuah performance art yang diselenggarakan sehabis magrib dengan latarbelakang gedung putih Museum Nasional Yogyakarta. Pementasan itu diiringi gesekan biola, dan petikan harpa. Karya instalasi berjudul Floating Eyes karya Wedhar Riyadi, berupa tumpukan bola-bola mata berukuran besar dan berwarna warni, berdiri tinggi di beberapa kolam di sekitar pementasan. Changing Perspective yang menjadi tema ArtJog 10 itu terasa hampa. Changing Perspektif? Perspektif apakah yang berubah? Tema ini tidak tersampaikan dengan jelas oleh pementasan dalam acara pembukaan, maupun lewat karya-karya yang dihadirkan di malam itu. Mungkin kejelasan itu perlu menunggu sampai saya dapat membaca tulisan kurator pada dinding di depan pintu. Yang membuat perhelatan ArtJog ini menarik adalah bahwa saya dapat merasakan kembali mengembangnya semangat egalitarian di sebuah kota feodal itu – khususnya di dunia seni, rasa yang sama dapat saya rasakan saat penyelenggaraan Biennale Jogja ke-10 di 2009. Lebih dari 70 pameran dan pagelaran seni diadakan pada kurun waktu yang lebih kurang sama dengan penyelenggaraan ArtJog10. Tidak hanya galeri dan cafe, tembok-tembok kota pun ikut dijadikan medium berekspresi.

Dari obrolan singkat malam itu dengan Enin Supriyanto, kurator senirupa, hanya kota Yogyakarta lah yang mampu menyelenggarakan perhelatan semacam ArtJog. Secara format, ArtJog berada di antara pasar seni dan Biennale, (kegiatan seni dua tahunan). Yogyakarta menurutnya adalah kota yang memungkinkan untuk diselenggarakannya kegiatan seperti ini, karena adanya kebiasaan komunal seni khas Yogyakarta yaitu jawilan. Teknik jawilan, colekan, atau towelan, merupakan kebiasaan masyarakat Yogya untuk bergotong-royong membangun dan/atau melakukan sesuatu untuk kepentingan bersama. Jawilan sulit untuk dilakukandi antara warga di kota lain di dunia yang tidak memiliki budaya egaliter yang saling membantu, saling mendukung. Jawilan merupakan gaya informal khas warga Yogyakarta dalam mengajak masyarakat untuk melakukan sesuatu bersama-sama. Di kalangan seni Yogya, jawilan sering dilakukan dengan menyelipkannya di antara humor – sebagai ajakan untuk bergotong-royong.

Adalah sebuah paradoks di mana Yogyakarta yang merupakan suatu wilayah di Indonesia dengan budaya feodal yang kental, secara bersamaan dapat memiliki semangat egalitarian yang kuat. Menurut Enin, asal mula paradoks ini dapat dirunut ke masa beberapa tahun setelah republik ini berdiri. Di awal tahun 1946, Jakarta sebagai ibu kota Republik Indonesia dinilai tidak aman. Terdapat banyak razia, penjarahan, agresi oleh tentara Belanda di perbatasan Jakarta. Mengetahui hal itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Pakualam mengirimkan surat (atau ‘menjawil’) kepada Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno, menawarkan solusi untuk memindahkan pusat pemerintahan republik ke Yogyakarta untuk sementara waktu. Dua pimpinan kerajaan yang memiliki tata pemerintahan dan kapital yang lebih baik dari pada di Jakarta pada saat itu, membuka diri, ‘menurunkan gengsi’, demi keselamatan republik, demi keselamatan rakyat Indonesia. Hal ini memberi dampak besar bagi rakyat Yogyakarta. Di waktu itu pula Hendra Gunawan, Afandi, S. Sudjojono, dan banyak perupa lain yang sebelumnya tinggal di Jakarta, ikut pindah ke Yogyakarta. Selain banyak membuat poster-poster penyemangat dan lukisan bertema perjuangan, para seniman ini mendirikan sanggar-sanggar seni untuk dapat berbagi banyak ilmu seni di antara mereka. Pada saat ibukota sudah kembali ke Jakarta, Soekarno tidak lupa akan kontribusi para seniman di Yogyakarta dan meminta para seniman untuk mendirikan sekolah, tidak hanya sanggar. Maka muncullah sekolah seni pertama di Indonesia, yaitu Akademi Seni Rupa Indonesia.

Heri Pemad, yang sepuluh tahun lalu adalah kurir pengirim undangan pameran, kini dikenal sebagai penggagas serta pemimpin penyelenggaraan ArtJog. Ia juga melakukan banyak jawilan untuk memulai perhelatan internasional itu. Sebagai contoh, di tahun lalu, tempat penyelenggaraan yang telah menjadi langganan lokasi penyelenggaraan ArtJog selama delapan tahun, dinyatakan tertutup untuk penyelenggaraan ArtJog 9. Untuk mengatasi masalah itu, Pemad ‘menjawil’ temannya yang pada waktu itu sudah memiliki izin untuk berpameran di Museum Nasional Yogyakarta. Pemad meminta agar temannya itu membolehkan ArtJog 9 untuk menggantikan pamerannya. Jawilan Pemad memang ‘bernuansa agak lain’, yaitu dengan sedikit ‘menekan’, untuk menyerahkan hak berpameran teman demi perhelatan ArtJog. ‘Jawilan’ itu pun berhasil. Selanjutnya ArtJog mulai diadakan di Museum Nasional Yogyakarta, seperti halnya di mana ArtJog 10 digelar saat ini.

Teknik ‘jawilan’ pun dikembangkan dalam ArtJog 10. Pemad dan kawan-kawan penyelenggara ArtJog mendorong adanya Yogya Art Weeks (YAW). Menurut Pemad, YAW merupakan wujud kesadaran dirinya dalam melihat ArtJog yang tidak mungkin dapat berdiri sendiri, tanpa adanya dukungan dari banyak galeri yang membuka pintu-pintu mereka untuk juga menggelar pameran seni di tempat mereka masing-masing. Pemad ‘menjawil’ rekan-rekan di dunia seni untuk ikut memeriahkan kota Yogyakarta dengan berbagai bentuk seni, sehingga para pengunjung ArtJog tidak hanya melihat karya-karya dalam jumlah terbatas yang ada di Museum Nasional Yogyakarta, namun juga dapat melihat karya-karya yang baru dan segar dari para seniman yang ditampilkan di banyak galeri di Yogyakarta. Pada saat ArtJog 10 digelar, terdapat lebih dari 70 galeri yang juga menggelar berbagai perhelatan seni. Wisatawan lokal dan mancanegara pun banyak terlihat singgah keluar masuk dari galeri ke galeri.

Dengan hanya berjalan kaki ke Selatan, sekitar jalan Suryodiningratan dan jalan Tirtodipuran, saya dapat menikmati banyak titik lokasi yang ‘berkesenian’. Langgeng Art Foundation, sebuah galeri yang sedang menggelar pameran Amok Tanah Jawa karya seniman Mulyono dan pameran berjudul Labirin di ruang bawahnya, karya-karya ilustrasi berbingkai kayu di Kedai Kebun, kemudian ada tempat seperti Krack! Printmaking Studio and Gallery, Ark Gallery, Mess 56, dan juga banyak seni jalanan – mural – yang muncul secara ekspresif di tembok-tembok sepanjang jalan. Tak ketinggalan di sepanjang jalan desa di daerah Nitiprayan, terlihat ratusan bendera berwarna-warni digantung dengan tali di antara pepohonan. Visual sederhana yang menambah suasana desa menjadi meriah tanpa perlu hingar bingar – hanya terdengar kepakan kain tertiup angin.

Kurang lebih tiga kilometer ke arah Barat Daya Museum Nasional Yogyakarta, di daerah Nitiprayan, perhelatan dari hasil jawilan yang lebih merakyat dilakukan oleh Samuel Indratma, Putu Sutawijaya dan teman-temannya. Sangkring Art Space yang didirikan sepuluh tahun lalu itu menyelenggarakan Yogya Annual Art untuk kedua kalinya di 2017 ini. Tiga ruang pamernya, Sangkring Art Space, Sangkring Art Project, dan Bale Banjar, terisi berbagai karya seni dari beragam ‘genre’. Karya-karya seniman muda yang ditampilkan, tidak kalah menarik bila dibandingkan dengan karya-karya sedang dipamerkan di Artjog 10. Suasana di sini lebih santai, merakyat. Siapa pun dapat masuk ke ruang pamer, tanpa ada keharusan untuk menitipkan tas, untuk menikmati karya seni.

Jawilan telah kembali menjadi teknik yang ampuh di dalam budaya populer kota Yogyakarta untuk mengembangkan diri, khususnya dalam bidang seni. Saya teringat dengan penyelenggaraan Biennale Jogja X di 2009. Waktu itu perhelatan seni dua tahunan bergengsi itu terasa sedang mengembalikan ‘roh’nya menjadi kegiatan seni untuk dan bersama rakyat. Waktu itu, berbagai karya seni muncul di berbagai sudut kota Yogyakarta. Apakah itu senirupa, seni musik, performance art, dan lain-lain tidak lagi kentara kategorisasinya, masyarakat terlibat, berpatungan, dan bersama mengusung berbagai kegiatan dengan gembira. Sebuah perhelatan dengan semangat seni kerakyatan – kurang lebih seperti semangat yang didorong S Sudjojono dengan seni rupa kerakyatannya di 1946.

Kota Yogyakarta di Mei 2017 seperti sedang melaksanakan perayaan seni secara ‘los-stang’ – perayaan yang cenderung terlihat tidak ada yang mengkoordinir, namun seperti ada ‘jiwa’ yang membuat antara satu dan yang lain seperti terhubung – merayakan seni. Saya tidak melihat adanya cara lihat baru Changing Perspective, seperti yang menjadi tema perhelatan. Yang behasil saya lihat kembali adalah teknik jawilan yang telah berhasil menjadi medium produktif di Yogyakarta. Semoga teknik jawilan dapat semakin mendorong munculnya hari raya seni di masa mendatang. Sebuah hari raya seni untuk dan oleh rakyat yang berkesenian.

Gejala Universal yang Indah

Sebuah kritik sosial dalam bentuk karya seni rupa dipaparkan dengan sangat baik oleh Setu Legi dan kawan-kawan melalui karya berjudul Universal Syndrome. Bagi saya, karya ini secara jelas menggambarkan situasi masa kini, di mana kelembutan alam semesta secara nyata berdampingan dengan berbagai perusakan yang dibuat oleh manusia dengan alasan membangun kehidupan. Ini bukan soal gejala universal. Karya ini bercerita tentang fakta yang terjadi saat ini.

Karya Setu Legi ditempatkan pada sebuah ruang yang luasnya kurang lebih sama dengan ruang-ruang pamer lainnya di dalam ArtJog 10 – yaitu sekitar 4 x 8 meter. Situasi sesak dan sempit segera terasakan ketika memasuki ruangan itu. Keempat dindingnya adalah ‘kanvas’ bagi mural yang menggunakan tanah liat sebagai media lukisnya. Mural yang menggambarkan proses pembangunan, antrian kendaraan, asap, gedung, yang berdampingan dengan ratusan manusia berwajah datar itu mengelilingi sebuah tiang besi berbentuk batang pohon yang menembus payung kain batik yang berlubang di tengahnya. Di beberapa titik di depan mural terdapat beberapa rangkaian batang-batang besi yang diletakkan di atas kantung semen dan karung. Rangkaian batang-batang besi itu masih kosong, belum terisi semen, belum menjadi tiang-tiang beton yang akan menopang sebuah konstruksi.

Melihat dari bawah, payung berkain tipis yang terbuka lebar itu hampir menutupi langit-langit ruangan. Kesan sesak tadi menjadi sedikit terobati oleh keindahan visual berteknik batik yang muncul dari adanya sorotan cahaya lampu di atasnya. Siluet dari sebuah bintang besar mendominasi bagian tengah payung. Gambar itu diisi oleh garis-garis berwarna coklat tua dan muda, seperti yang biasa terlihat pada penampang sebuah batang pohon yang ditebang. Di sekitar siluet, warna biru muda menjadi latar belakang bagi gambar-gambar rasi bintang. Terdapat deretan teks dengan garis-garis di antara mereka, dan beberapa satelit berukuran kecil yang semuanya berwarna senada dengan kain.

Di dalam karya ini Setu dan kawan-kawan berhasil menghadirkan karya seni bernilai estetika tinggi. Setu mengolah nilai-nilai formalistik dengan sangat baik di samping memunculkan kekuatan ekspresivistik yang memadai. Nilai-nilai formalistik di dalam karya ini dapat dijumpai antara lain dalam penggunaan teknik batik pada payung dan penggunaan tanah liat pada mural, keduanya memperlihatkan kemampuan teknis yang maksimal. Payung yang luasannya dibuat hampir melingkupi keseluruhan ruang itu dapat dianggap sedang menggambarkan alam semesta. Ia ditampilkan melalui teknik batik yang mengekspresikan kelembutan mempesona. Di sekelilingnya, mural dibuat dengan menggunakan tanah coklat yang diguratkan secara kasar untuk mengekspresikan kehidupan yang serba cepat, serba instan, dan nir makna. Keseimbangan dan kuatnya dua aspek formalistik dan ekspresivistik inilah yang mendorong karya ini sehingga dapat dianggap sebagai karya seni berestetika tinggi.

Melihat karya Setu ini, saya teringat dengan karya-karya kelompok Paper Moon Puppet. Dua karya yang sangat berbeda secara formal, namun saya menangkap adanya kesamaan ekspresi dan pesan. Penggunaan warna-warna yang pucat, deformasi pada bentuk, dan garis yang cenderung tidak lurus adalah beberapa elemen teknis yang muncul pada keduanya. Kesamaan ekspresi yang dapat saya rasakan adalah adanya suasana genting dan was-was yang selalu hadir bersamaan dengan lontaran pesan-pesan yang esensial, serta adanya secuil pandangan pesimis pada usaha-usaha bernilai estetis yang sebenarnya menyenangkan untuk dieksplorasi.

Sebuah kritik sosial berupa karya seni rupa, hadir di sebuah ruang pamer ArtJog 10. Karya Setu menghadirkan realita secara elegan di hadapan banyak manusia yang memiliki kecenderungan merusak alam semesta.

Baru Jalan

Karya berjudul On the Way ini bisa jadi merupakan awal dari sebuah ibadah kesenian dalam bentuk lain bagi Suranto “Kenyung”. Seperti yang diceritakan Heri Pemad yang turut mengkurasi karya-karya ArtJog 10, enam bulan sebelum perhelatan ArtJog 10 digelar, Kenyung dikenal sebagai pekerja seni yang sering membantu di saat persiapan sebuah pameran. Kenyung biasa menjadi asisten produksi bagi seniman yang akan berpameran. Cerita mengenai Kenyung menjadi berbeda, ketika proposal karya yang diajukan pada para kurator ArtJog 10 diterima. “Diterima, dengan catatan tentunya”, kata Pemad. Ibadah kesenian yang biasa Kenyung lakukan sebagai tukang seni, kemudian bergeser menjadi seniman muda berbakat.

Di sebuah ruangan putih, karya terakota milik Kenyung diletakkan, menjauh dari pintu masuk, sehingga pada saat pertama saya melihatnya, ia nampak seperti sebuah bangunan batu-bata yang berada jauh di ujung sebuah ruang yang memanjang. Kesadaran saya menghentak, ketika mendekati karya tersebut dan mendapatinya di hadapan saya sebagai sebuah karya seni yang dikonstruksi oleh ribuan miniatur batu-bata. Berbeda dengan miniatur kota Madurodam di Den Hag, Belanda Selatan yang terkenal itu, tumpukan batu-bata mini yang membentuk dua bangunan ini tidak jelas, apa pesan yang ingin disampaikan.

Karya Kenyung berupa tanah liat yang dibentuk persegi panjang berukuran kecil yang kemudian dibakar dan menghasilkan lempengan terakota berwarna coklat kemerahan, layaknya batu-bata yang umum digunakan untuk membangun rumah. Batu-bata Kenyung berukuran mini, masing-masing 12 x 24 x 5 mm, luasnya tidak lebih besar dari kuku orang dewasa. Lebih dari 3.000 keping batu-bata mini yang diproduksi oleh Kenyung sejumlah 800 keping per hari itu, disusun menjadi dua bangunan berupa tembok yang melengkung. Dari atas, kedua bangunan itu berbentuk seperti amuba – oval – dan hampir bersentuhan pada satu sisi. Pinggiran bagian atas tembok terlihat tidak rata, bahkan seperti pernah runtuh di beberapa bagian. Sebuah gundukan reruntuhan atau timbunan batu-bata cadangan, tampak ditumpuk di dekat persimpangan dua bangunan itu.

Secara teknis, Kenyung membuat ribuan batu-bata mini dengan kualitas detail yang sulit diikuti. Setiap batu-bata memiliki karakternya masing-masing – khas hasil produk industri rumahan. Bentuk dan keberagaman warna batu-bata yang diproduksi mendekati benda aslinya di dunia nyata. Bentuknya yang persegi empat, memiliki dimensi panjang, lebar, dan tinggi yang proporsional. Di antara batu-bata mini yang umumnya berwarna coklat ke merahan, ada pula yang merah merona, dan beberapa yang hitam legam karena diletakkan terlalu dekat titik api saat proses pembakaran. Ribuan terakota persegi empat itu sangat mirip dengan apa yang dapat kita temui di toko-toko bangunan, dengan beda hanya pada ukuran dan adanya huruf A, R, dan T yang terembos di satu sisinya.

Namun secara ekspresivistik, belum terlalu jelas apa yang ingin ia sampaikan. Apakah ini adalah karya pemicu? Pemicu untuk adanya karya-karya seni yang menggunakan elemen batu-bata mininya? Kenyung mungkin membuat batu-bata mininya untuk dapat digunakan dan susun ulang seperti LEGO – kotak-kotak plastik berwarna-warni, bertonjolan sebagai ‘pengunci’, yang dikenal dunia sebagai mainan modular yang dapat disusun menjadi bentuk apapun. Kurator ArtJog 10 mungkin melihat besarnya nilai formalistik dari karya Kenyung, sehingga dapat dianggap ‘cenderung lengah’ dalam memperhatikan nilai ekspresivistiknya. Wujud visual yang ditampilkan terlihat lebih dominan, maksimal, dibandingkan dengan apa yang ingin diekspresikan oleh seniman muda tersebut.

Bagi saya, Kenyung seperti berusaha melontarkan gagasan sederhana, yaitu: membangun. Membangun apa saja dari hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. Membangun adalah bagian dari mengonstruksi kehidupan yang bermakna. Dengan batu-bata skala mikro, sang seniman menghadirkan sebuah elemen estetika sehari-hari ke dalam sebuah ruang pamer yang putih, terang-benderang, bebas distorsi, untuk mengingatkan tentang pentingnya hal yang sepele. Kenyung mengingatkan saya tentang batu-bata, sebagai benda sepele, merupakan hasil sebuah proses kerja yang ditangani serius, sehingga kualitas yang diperoleh kemudian dapat menunjang fungsi apapun yang ditetapkan untuknya.

Karya On the Way di dalam ArtJog 10 dapat dianggap melakukan pendekatan estetika dengan baik. Batu-batu bata mini sebagai obyek inti pada karya dibiarkan untuk ‘berbicara’ sendiri, tanpa dibebani konteks atau teks yang dimiliki seniman. Pendekatan rekonstruktif pun dirasa sedang diusahakan. Hal ini terlihat dari dinding batu-bata mini yang dibuat melingkar secara organik, seperti sedang membangun sebuah narasi – satu hal yang belum tersampaikan dengan jelas. Benar apa kata Heri Pemad, Suranto “Kenyung” baru memulai ibadah seni yang sesungguhnya. Karya On the Way dapat saja mengubah perjalan hidup seorang Kenyung. Perjalanan Kenyung masih panjang dan berliku untuk mencapai tujuan beribadah yang diharap telah ia tentukan.

Save

Lingkar Api I Wayang Piki Suyersa

Siang itu saya berkunjung ke Sangkring Art Space, sebuah tempat yang dibangun sepuluh tahun lalu di daerah Nitiprayan, Yogyakarta. Sangkring adalah nama seorang leluhur dari Putu Sutawijaya, pemilik tempat, seorang seniman asal Bali yang menetap di Yogyakarta sejak 1990. Di samping bangunan tinggi besar itu terdapat jalan masuk selebar satu setengah mobil, dengan tembok di kanan-kirinya – menyerupai lorong sepanjang 12 meter. Pada tembok-tembok setinggi enam meter itu terlihat beberapa karya yang ditempel atau digantung. Karya-karya di tembok-tembok berwarna putih kotor yang terlihat masif itu merupakan hasil karya dari seniman-seniman muda yang diundang oleh Sangkring untuk berkarya di ruang seni ini selama empat bulan – residensi. Beragam material seperti kayu dan besi terlihat menjadi medium yang banyak digunakan, selain cat-cat akrilik berwarna cerah.

Satu di antara beberapa karya yang ditampilkan adalah karya I Wayang Piki Suyersa berjudul Circle of Fire. Karya ini menggunakan material alumunium tipis, yang dibiasa digunakan sebagai kemasan minuman ringan bersoda dan beralkohol, yang digunting, dipotong, dibentuk, diwarnai serta dipilin menjadi benda-benda berterbangan menyerupai bola-bola api. Puluhan ‘bola api’ dengan berbagai ukuran yang mengingatkan saya pada serial kartun Dragon Ball itu, memiliki ‘lidah-lidah’ yang meruncing pada ujungnya. Mereka berwarna-warni, tersebar, berterbangan seolah-olah menyerbu, mengarah pada sebuah lingkaran di tengah seperti cincin yang terbuat dari besi bundar bergerigi, berwarna merah tua, dengan lingkaran berlubang banyak dan berwarna keemasan di dalamnya. Lingkaran kedua di bagian luarnya, berukuran lebih besar namun tipis sehingga terlihat lebih ringan. Lingkaran yang terbuat dari besi pipih bergerigi berwarna coklat yang menyerupai karat ini, mengingatkan saya pada ‘batas suci’ yang sudah seharusnya dibiarkan ‘bersih’ dan tenang. Di antara lingkaran tengah dan kedua, terdapat lima ‘bola api’ yang berukuran lebih besar dari ‘bola-bola api’ lainnya. Kelima ‘bola api’ yang didominasi oleh warna merah ini ‘berhasil’ menerobos lingkaran kedua dan menyentuh tepi cincin bergerigi, namun menyisakan lubang kosong di tengah. Lidah-lidah api mereka pun lebih besar dari pada yang lain. Perhatian pada komposisi melingkar yang memusat pada lempeng cincin bergerigi tebal itu dipecah oleh ‘bola-bola api’ yang bertebaran bebas di sekelingnya.

Lempeng alumunium yang dipotong secara tidak berpola, dan dipilin pada beberapa ujungnya sedikit banyak berhasil menghadirkan gerak. Dengan memanfaatkan material lempeng metal tipis yang sedikit berkilau, sang seniman berhasil memunculkan tampilnya bayangan yang ditimbulkan oleh lekukan-lekukan lempeng ke berbagai arah, menguatkan efek ‘bergerak’ dan memberi kesan dinamis, membuat karya yang menempel di tembok itu menjadi ekspresif. Pengolahan material terlihat tidak berpola, nampaknya dipotong dengan alat yang sederhana, mungkin gunting, dilakukan secara cepat, tidak teratur apalagi berpola, untuk membentuk ‘bola-bola api’ tersebut. Beberapa ‘lidah api’ terlihat ramping di sini dan terlalu besar di sana, serta terdapat tinggalan ‘kesalahan’ potong pada beberapa sisi yang menguatkan pendapat, bahwa saya pun dapat membuat karya seperti itu.

Dari hasil yang ditampilkan, pewarnaan dengan bahan cat akrilik sepertinya digunakan pada karya ini. Sayangnya informasi mengenai medium yang digunakan pada karya tidak dituliskan secara lengkap – hanya ditulis ‘mixed media’ pada caption. Cat berbasis air ini membuat kilau lempeng-lempeng alumunium menjadi redup. Pada beberapa bagian, sapuan cat berwarna-warni itu mendekati gaya ornamental, walau terlihat maksud dari seniman adalah untuk menguatkan kesan bahwa lempengan-lempengan itu memiliki bentuk dan kedalaman – tiga dimensi. Sapuan cat warna-warni itu mengingatkan saya pada kapal otok-otok, mainan kegemaran saya di zaman dulu. Suryesa, sang seniman, nampaknya membiarkan sisi belakang dari lempeng-lempeng alumunium itu bebas dari cat, sehingga ketika permukaannya meliuk dan mengintip, maka akan terpantul kilauan cahaya.

Karya Suyersa terlihat relevan dengan kehidupan masa kini. Seperti begitu banyak enerji dan semangat yang menggelora di dunia ini yang berusaha merangsek masuk ke sebuah inti yang telah ditentukan dan disepakati bersama sebelumnya. Jumlah manusia yang selalu bertambah, seperti tidak jemu menerobos batas-batas demi mencapai ruang hampa yang belum tentu dapat ia pahami. Secara keseluruhan, pendekatan pameran luar ruang di jalan masuk ke area di bagian belakang Sangkring Art Space itu menggunakan pendekatan estetika. Karya-karya pada pameran ini tidak bercerita mengenai apa yang melatarbelakangi karya. Pengunjung yang ‘kebetulan’ lewat, cukup menikmati apa yang terlihat dari karya-karya yang digantung atau ditempelkan pada tembok-tembok masif itu. Hal ini mengingatkan saya pada pernyataan Hans Jorg Furst yang dikutip Mikke Susanto dalam bukunya Menimbang Ruang Menata Rupa, bahwa “pameran seni tidak bermaksud untuk menyediakan informasi tentang latar belakang budaya objek, tetapi merepresentasikan kualitas estetik dari objek itu sendiri.”

Circle of Fire karya I Wayang Piki Suyersa berhasil menghentikan langkah saya dari depan ke area belakang Sangkring Art Space. Walau sebentar, karya ini telah ‘mengganggu’ benak saya dengan kesederhanaannya dalam komposisi dan ekspresi naif yang dilontarkan oleh sapuan cat pada lempeng-lempeng alumunium tipis itu.

Lukisan yang Ingar Bingar

Saat berkeliling, masuk-keluar dari banyak ruangan yang ada di Museum Nasional Jogjakarta, saya sempat melihat karya Dedy Sufriadi ini sebentar. Hanya sebentar, sebelum lampu mati – sebelum gelap gulita. Saat terhentinya waktu untuk menikmati lukisan dengan kondisi gelap itu, saya seperti diberi tanda untuk kembali di hari lain, di saat lampu menyala dan pengunjung tidak terlalu berdesakan. Dua hari kemudian, saya kembali ke Museum Nasional Jogjakarta, tempat di mana ArtJog 10 diselenggarakan. Sambung rasa dengan karya berwarna kuning itu pun terjalin kembali – kali ini bebas hambatan.

Karya ini berukuran besar, digantung pada satu dari banyak dinding yang dibangun khusus untuk perhelatan ArtJog 10. Lukisan dengan cat akrilik berwarna kuning keemasan dan spidol hitam di atas kanvas berbingkai kayu berwarna putih gading ini sepanjang empat meter lebarnya dan setinggi manusia pada umumnya. Dalam karya berjudul yang sulit dimengerti: Hypertext, Senjakala Berhala dan Antitesis #1, Dedy Sufriadi berhasil memberdayakan dua ukuran spidol permanen yang umum ada di pasaran, mungkin bermerk Snowman tipe 550 dan G12, untuk menghasilkan visual dari narasi-narasi, tanpa terlalu kentara memperlihatkan keterbatasan tebal huruf yang dapat dihasilkan. Teks-teks berwarna hitam di depan latar berwarna kuning itu ditulis dengan tangan, kadang besar dan tebal, lebih sering berukuran kecil dan tipis. Seluruh permukaan kanvas itu dipenuhi oleh tulisan berbahasa Indonesia yang diapit oleh garis-garis horizontal yang dibuat seadanya, tanpa penggaris.

Teks pada karya Dedy ini terlihat seperti sedang berteriak atau marah-marah, karena semuanya menggunakan huruf besar – huruf kapital tanpa kait. Kombinasi besar-kecil dan tebal-tipisnya huruf yang muncul berhasil membuat karya itu menampilkan sebuah komposisi visual yang dinamis. Badan teks berukuran besar dan berhuruf tebal di satu ‘paragraf’ dengan tepat disandingkan dengan barisan teks dengan huruf yang berukuran lebih kecil bergaris tipis. Huruf-huruf yang berkelompok itu, masing-masing terlihat ekspresif, mereka secara bersama-sama seolah-olah menjejalkan teriakan yang hingar bingar dan bisikan yang lugas ke dalam kepala saya. Tanda baca dan spasi antar kata yang biasa menemani sebuah tulisan menghilang di dalam karya ini, membuat pencarian awal dan akhir kalimat menjadi mustahil untuk dilakukan. Kerapatan jarak antar huruf yang bervariasi kadang memberi sedikit ruang untuk bernafas. Lukisan ini terlihat sedang menyampaikan banyak sekali pesan yang disampaikan secara berjejal dan hiruk pikuk, sehingga meninggalkan kesan bahwa jangan-jangan memang hanya residu dari pesan itulah yang ingin disampaikan.

Dari lukisan karya Dedy ini saya menangkap pesan tentang banjir informasi, banjir kata-kata, dan ketidaksempurnaan dalam pendidikan di sekolah perihal menulis halus yang memberi kebebasan munculnya berbagai ekspresi secara non-linear. Rentetan informasi yang dikirim melalui berbagai perangkat elektronik dan diterima melalui beragam gawai yang tersedia di sekeliling kita sering memunculkan rasa terkepung dalam benak. Kesempatan untuk diam, mengendapkan, dan memprosesnya menjadi sesuatu yang produktif sering kali merupakan hal yang langka, bila tidak bisa disebut tidak ada. Di mana-mana terjadi kepadatan kata-kata walau sebetulnya kita masih memiliki hak untuk memilih: mau mengurainya atau tidak. Kehidupan hingar bingar informasi dan kata-kata itu pun dibarengi dengan kegagalan pendidikan, khususnya pendidikan mental melalui pelajaran budi pekerti. Pelajaran menulis halus dianggap tidak berguna, dihilangkan, karena sudah ada papan ketik yang dapat menghasilkan tulisan dengan tingkat keterbacaan sesuai standar yang diakui oleh industri. Kita menjadi lupa akan adanya pendidikan mental yang mengajari kita untuk dapat mengontrol diri; kapan waktu yang tepat untuk menekan pinsil agar tulisan dapat terlihat tebal, kapan saatnya untuk sedikit meringankan pergelangan tangan agar dapat menghasilkan garis tipis pada huruf yang sedang ditulis. Kontrol diri ini menjadi penting saat ia dibutuhkan dalam menghadapi situasi kontemporer, di mana kebebasan berekspresi, yang sesuai dengan teori pasca-modern itu, telah ikut memerdekakan pihak-pihak yang tidak paham soal budi pekerti.

Sebuah tulisan, teks, memang selalu perlu untuk ditinjau secara berulang. Teks yang tertulis belum tentu bermakna seperti apa yang terbaca. Selain secara denotatif, teks perlu diperiksa kembali apakah memiliki makna konotatif di baliknya. Dalam hal ini kehadiran konteks menjadi penting, agar makna teks yang tepat dapat diperoleh. Karya Dedy Sufriadi ini memiliki nilai estetika yang baik sekali karena didukung oleh nilai-nilai formalistik dan ekspresivistik yang tinggi. Dedy menggunakan berbagai kemampuan teknis yang dimilikinya secara berimbang dengan kemampuannya dalam mengekspresikan pemikiran yang ingin disampaikan.

Mengembangkan Keinginan

IMG_3324

Bazaar Art Jakarta 2016. Di Ballroom Ritz Carlton, lantai lima Pacific Place, Jakarta 25-28 Agustus 2016.

Menurut informasi dari penyelenggara; 42 galeri mewakili 550 seniman menampilkan 1,650 karya, terlibat di perhelatan tahunan yang ke delapan ini.

Tidak berbeda jauh dengan suasana di mal untuk konsumen tingkat atas pada umumnya, suasana di ruang seluas 7,500 meter persegi itu dingin, rapih, ramai. Pengunjung yang umumnya wangi dan trengginas melihat-lihat dan berfoto di depan ribuan karya yang ditampilkan dalam ruang-ruang sementara yang dibentuk oleh tembok-tembok putih tinggi dengan papan-papan nama galeri dipasang di satu ujungnya.

Di satu sudut, tergeletak karya Yayoi Kusama: Pumpkin. Karya ini merupakan versi mini dari karya yang serupa yang ada di Gandaria City Mall.

IMG_3332

Citra perhelatan ini dikelola dengan kosmetika serba luar-negeri. Penyelenggara benar-benar berusaha menggelar ‘peristiwa’ internasional. Bahasa Inggris di kartu-kartu informasi, penunjuk arah maupun kaus panitia. Karya seni kinetik berupa perangkat gamelan yang dibunyikan dengan motor listrik, terbata-bata menyambut pengunjung di pintu masuk. Karya ini mungkin yang paling dekat menyatakan bahwa ‘ini Indonesia’. Di seberangnya, barang-barang sehari-hari mulai dari helm, tas dan sepatu kanvas, ‘direspon’ oleh banyak seniman rupa, sedikit memunculkan gaya ‘lowbro’. Rasa agak aneh muncul ketika gaya karya seni jalanan itu ditampilkan dalam kotak-kotak kaca yang ‘dibenam’ di dalam tembok/partisi putih yang steril dan aman vandal. Sebuah Ferari merah yang dipajang di tengah ruang sebelum masuk ke wilayah galeri yang berjualan memunculkan pertanyaan apakah ia merupakan karya seni atau barang yang juga dijual namun dari kategori komoditi lain.

Semua terlihat ‘hepi’.

Sepotong-potong, terdengar yang berjualan menawarkan berbagai keuntungan, pastinya bukan menjelaskan risiko kerugian, dari investasi yang menggiurkan. Mereka kurang lebih sama gesitnya seperti penjualan properti di pameran lain di ruang lain. Para penjual sigap menentukan siapa yang perlu disapa, ditawarkan penjelasan komoditi yang ditawarkan. Bila seorang pengunjung tidak masuk dalam kriteria pembeli potensial maka, ia dibiarkan berlalu, melihat-lihat, tanpa gangguan (penawaran).

Banyak pengunjung ‘jenis yang lain’ terlihat senang; berhasil berdiri di depan lukisan warna-warni tanpa meninjau rasa diri setelah melihat karya itu untuk pertama kali, berfoto diri dengan wajah sedikit ditundukkan dan mengacungkan dua jari membentuk simbol ‘v’ untuk ‘victory’ atau ‘peace’ – tidak jelas – mengikuti tip yang banyak beredar di dunia maya untuk memperoleh hasil ‘selfie’ yang menggugah selera sesama. Rasa, getaran, inspirasi yang didapat dari melihat sebuah karya seni, sepertinya tidak menjadi penting di sini. Pengunjung ‘jenis’ ini  cukup senang mendapati karya dengan warna, bentuk, dan ukuran yang ‘enak’ dilihat dan dapat mengambil foto untuk disebar di media sosial setelahnya. Sederhana.

Tanpa bermaksud cerewet, pasar seni ini tampak berusaha betul untuk menghadirkan komoditi pasar ‘baru’ bagi para konsumen tingkat atas. Konsumen yang konsumtif, yang biasa mendasari keputusan pembelian atas keinginan, bukan kebutuhan.

Saya? Saya cukup senang, menemukan karya Indieguerillas di sana.

IMG_3330 IMG_3331

 

 

 

 

Save

Save

Save

Oleh-oleh Farhan dari Itali

Setelah sekian lama, senang bertemu lagi dan mendengar cerita Farhan Siki. Kemarin ini, 23 Agustus 2016, Farhan berbagi di Pusat Kebudayaan Itali di jalan HOS Cokroaminoto, Jakarta.

Ada dua pdf Farhan yang dapat diunduh melalui tautan berikut ini;

farhan di itali
la prima volta

Mural Bapak Pendiri Bangsa

Tembok di lantai enam itu terbuat dari gypsum. Ia dipenuhi berbagai poster pameran dan pengumuman kadaluarsa. Tembok itu adalah satu dinding yang menyambut saya saat keluar dari lift – sambutan yang tidak merusak suasana hati. Saat itu hari ulang tahun ke-71 Republik Indonesia mendekat. Saya ingin membuat sesuatu.

Indra Bhakti bersemangat ketika diajak ngobrol mengenai rencana menanggapi  tembok yang tidak bermartabat itu. Empat lembar papan kayu lapis berukuran 122 x 244 cm dan beberapa kaleng cat akrilik pun dipesan.

Beberapa minggu kemudian, lukisan empat bapak pendiri bangsa pun muncul – menempel pada tembok itu. Ada Tan Malaka, Soekarno, Hatta, dan Syahrir di depan syair Indonesia Pusaka. Warna merah hampir mendominasi empat lebar kayu lapis yang ditempel pada dinding dengan paku. Bagian bawah dibiarkan memunculkan warna kayu yang dibiarkan apa adanya. Lambang negara, Garuda Pancasila mengantung di sisi kirinya, tidak di atas, tidak di bawah, segaris dengan bagian dada para pendiri bangsa. Di sisi kanan terdapat dua pigura. Satu pigura berisi Marilyn Monroe, yang lain Karl Marx. Simbol dari kapitalisme Amerika dan pemikir yang sering disalah-artikan.

Pernah di suatu siang saya duduk di hadapan mural itu, di antara dua pintu lift. Di tengah hiruk pikuk, hilir mudik mahasiswa atau dosen yang tidak acuh, saya memutar beberapa video dokumenter hitam putih. Saya proyeksikan video-video itu pada bidang (yang agak kosong) di bawah dua pigura pada mural, menonton video tanpa suara, mendengarkan lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki dan Indonesia Raya karya WR Supratman. Sebuah siang yang absurd.

Dengan mural ini, Indra Bhakti berhasil mengilustrasikan empat bapak pendiri bangsa dengan sederhana. Saya menjadi menunggu saat-saat untuk keluar dari lift di lantai enam itu. Saya merasa ada kesenangan tersendiri disambut dengan sesuatu yang sederhana dan bermartabat, karena menurut saya, itulah Indonesia Raya.

Selamat ulang tahun ke-71 Indonesia.

Save

Save