NFT Hutan Rakyat

Senang mengetahui adanya program Perusahaan Hutan Tanaraya (Perhutana).

Program yang dimunculkan oleh kelompok seni Jatiwangi Art Factory (JAF)[2] ini mendorong perlindungan pada hutan rakyat[3] dengan mencatatkan keberadaan lahan yang dikelola oleh Perhutani[4], sebuah lembaga negara) pada rantai-blok (blockchain).

Perhutana menginjeksi ‘energi kontemporer’ pada Perhutani.

Sekilas, Perhutana itu menawarkan sebidang tanah berukuran 4 x 4 meter untuk dimiliki publik. Publik yang membelinya seharga Rp4 juta per 16 meter persegi itu akan memperoleh: 1. Sebidang tanah yang kemudian diwakafkan/dihibahkan untuk menjadi Hutan rakyat atas nama pembeli, 2. Sebuah sertifikat kepemilikan fisik berupa sebuah batu bata terbuat dari terakota, 3.  Sertifikat kepemilikan digital dalam format Non-Fungible Token (NFT), token yang tak tergantikan dan tercatat selamanya di rantai-blok.. Jadi.. kira-kira semacam adopsi hutan begitu.

Saat ini Perhutana sedang menggelar programnya itu di Documenta 15 dan mendapat reaksi positif dan tentunya juga negatif. Satu di antara reaksi negatif yang diterimanya dapat dibaca di sini.

Saving and destroying the planet

In the vast Hübner Areal venue of Kassel’s industrial east, the Indonesian collective Jatiwangi Art Factory’s large exhibition displaying their practice of creating clay tiles is accompanied by a confusing message about the enviroment. The collective, which are based in the Northern Majalengka area of Java, are attempting to protect swathes of rainforest that are under threat from industralisation and human expansion.

To counteract this, they are offering 16m sq. plots of the forest for sale, each of which will be considered “sacred” and protected by Indonesian law. However, the plot comes not only with a title deed, but a corresponding NFT too. The recent controversy around the environmental impact of cryptocurrency and other blockchain-based assets makes one question whether the best way to protect the planet is by emitting more carbon into the atmosphere.

Sepertinya Kabir Jhala, penulis artikel di artnewspaper.com di atas itu, tidak cukup memiliki referensi tentang rantai-blok. Ia menyamaratakan mekanisme konsensus dari semua rantai-blok seperti jaringan Bitcoin. Cuplikan tentang cara kerja rantai-blok bisa diintip di sini. Rantai-blok Bitcoin menggunakan mekanisme proof-of-work (PoW) sebagai cara mevalidasi transaksi. Mekanisme PoW mengakibatkan para validator di dalam rantai-blok Bitcoin itu berlomba untuk membesar kemampuan komputer mereka, yang otomatis meningkatkan kebutuhan energi (listrik). Menurut sebuah artikel BBC[6], konsumsi listrik untuk melakukan proses validasi transaksi di jaringan Bitcoin mencapai 121 ribu Terawatt per jam, yang konon lebih besar dari konsumsi negara Argentina, Belanda, atau Arab Saudi.

Perhutana memanfaatkan pasar NFT Hic-et-nunc/objkt (NFT marketplace) yang berada di atas rantai-blok Tezos. Mekanisme konsensus yang digunakan oleh rantai-blok Tezos adalah proof-of-stake (PoS). Berbeda dengan rantai-blok Bitcoin yang menggunakan mekanisme konsensus proof-of work (PoW). Pada rantai blok Tezos, setiap validator perlu membeli dan ‘mempertaruh atau memancangkan’ (stake) koin XTZ untuk dapat ikut memroses transaksi dan memperoleh bayaran untuk itu. Rantai-blok Tezos menggunakan energi dua juta kali lebih rendah dari pada energi listrik yang digunakan pada rantai-blok Ethereum[7] yang menggunakan mekanisme konsensus PoW sama dengan rantai-blok Bitcoin. Konon pada awal Agustus 2022 Ethereum akan berubah ke mekanisme konsensus PoS).

Perhutana bisa menjadi sebuah alternatif untuk melakukan konservasi, pada hal ini: hutan. Perhutana mengaitkan cara pengelolaan hutan yang konservatif dengan ‘dunia baru’ yang terus bergerak, dunia digital. Mungkin di saatnya nanti, Perhutana akan membangun rantai-blok yang ramah lingkungan lengkap dengan pasar NFT-nya sendiri, sehingga dana publik yang terkumpul dapat benar-benar berada di dalam wilayah yang terkait, yaitu Indonesia. Perhutana pun dapat mengembangkan pemetaan berbasis kesepakatan-pandai (smart contract) seperti yang ditawarkan oleh NextEarth.io. Untuk peta dasarnya mungkin dapat berkerja sama dengan Perhutani dan/atau Badan Pertanahan Nasional, kemudian meletakkan grid di atasnya dengan menggunakan Mapbox Tiling Service atau yang sejenis.

Menyenangkan!


[2] https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/07/18/mengenal-jatiwangi-art-factory-pusat-seni-dan-budaya-di-majalengka

[3] https://kmmh.fkt.ugm.ac.id/2021/01/19/hutan-rakyat-solusi-alternatif-dalam-mendukung-pembangunan-hutan-indonesia-yang-lestari/

[4] https://www.perhutani.co.id/tentang-kami/struktur-organisasi/divisi-regional/janten/kph-majalengka/

[6] https://www.bbc.com/news/technology-56012952

[7] https://nftnow.com/guides/everything-to-know-about-the-tezos-blockchain-and-nfts/

Senang mengetahui adanya program Perusahaan Hutan Tanaraya

(Perhutana).[1]

Program yang dimunculkan oleh kelompok seni Jatiwangi Art Factory (JAF)[2] ini mendorong perlindungan pada hutan rakyat[3] dengan mencatatkan keberadaan lahan yang dikelola oleh Perhutani[4], sebuah lembaga negara) pada rantai-blok (blockchain).

 Perhutana menginjeksi ‘energi kontemporer’ pada Perhutani.

Sekilas, Perhutana itu menawarkan sebidang tanah berukuran 4 x 4 meter untuk dimiliki publik. Publik yang membelinya seharga Rp4 juta per 16 meter persegi itu akan memperoleh: 1. Sebidang tanah yang kemudian diwakafkan/dihibahkan untuk menjadi Hutan rakyat atas nama pembeli, 2. Sebuah sertifikat kepemilikan fisik berupa sebuah batu bata terbuat dari terakota, 3.  Sertifikat kepemilikan digital dalam format Non-Fungible Token (NFT), token yang tak tergantikan dan tercatat selamanya di rantai-blok.. Jadi.. kira-kira semacam adopsi hutan begitu.

Saat ini Perhutana sedang menggelar programnya di Documenta 15 dan mendapat reaksi positif dan tentunya juga negatif. Satu di antara reaksi negatif yang diterimanya dapat dibaca di sini.

Saving and destroying the planet

In the vast Hübner Areal venue of Kassel’s industrial east, the Indonesian collective Jatiwangi Art Factory’s large exhibition displaying their practice of creating clay tiles is accompanied by a confusing message about the enviroment. The collective, which are based in the Northern Majalengka area of Java, are attempting to protect swathes of rainforest that are under threat from industralisation and human expansion.

To counteract this, they are offering 16m sq. plots of the forest for sale, each of which will be considered “sacred” and protected by Indonesian law. However, the plot comes not only with a title deed, but a corresponding NFT too. The recent controversy around the environmental impact of cryptocurrency and other blockchain-based assets makes one question whether the best way to protect the planet is by emitting more carbon into the atmosphere.

Kabir Jhala, penulis artikel di artnewspaper.com itu, sepertinya kurang cukup memiliki referensi tentang rantai-blok. Ia menyamaratakan semua rantai-blok seperti jaringan Bitcoin. Rantai-blok Bitcoin menggunakan mekanisme proof-of-work (PoW) sebagai cara mevalidasi transaksi. Mekanisme PoW mengakibatkan para validator di dalam rantai-blok Bitcoin itu berlomba untuk membesar kemampuan komputer mereka, yang otomatis meningkatkan kebutuhan energi (listrik). Menurut sebuah artikel BBC[5], konsumsi listrik untuk melakukan proses validasi transaksi di jaringan Bitcoin mencapai 121 ribu Terawatt per jam, yang konon lebih besar dari konsumsi negara Argentina, Belanda, atau Arab Saudi.

Perhutana memanfaatkan pasar NFT Hic-et-nunc/objkt (NFT marketplace) yang berada di atas rantai-blok Tezos. Mekanisme validasi transaksi yang digunakan oleh rantai-blok Tezos adalah proof-of-stake (PoS). Pada Tezos, setiap validator perlu membeli dan ‘mempertaruh atau memancangkan’ (stake) koin XTZ untuk dapat ikut memroses transaksi dan memperoleh bayaran untuk itu. Rantai-blok Tezos menggunakan energi dua juta kali lebih rendah dari pada energi listrik yang digunakan pada rantai-blok PoW Ethereum (yang konon pada awal Agustus 2022 akan berubah ke PoS).[6]

Jadi Perhutana dapat dianggap sebagai sebuah alternatif yang betul untuk melakukan konservasi, khususnya hutan. Perhutana mengaitkan cara pengelolaan hutan yang konservatif dengan ‘dunia baru’ yang terus bergerak, dunia digital. Mungkin di saatnya nanti, Perhutana akan membangun rantai-blok yang ramah lingkungan dan pasar NFT-nya sendiri, sehingga dana publik yang terkumpul dapat benar-benar berada di dalam wilayah yang terkait, yaitu Indonesia. Pertahana pun dapat mengembangkan pemetaan berbasis kesepakatan-pandai (smart contract) seperti yang ditawarkan oleh NextEarth.io. Untuk peta dasarnya mungkin dapat berkerja sama dengan Perhutani dan/atau Badan Pertanahan Nasional, kemudian meletakkan grid di atasnya dengan menggunakan Mapbox Tiling Service atau yang sejenis.

Menyenangkan!


[2] https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/07/18/mengenal-jatiwangi-art-factory-pusat-seni-dan-budaya-di-majalengka

[3] https://kmmh.fkt.ugm.ac.id/2021/01/19/hutan-rakyat-solusi-alternatif-dalam-mendukung-pembangunan-hutan-indonesia-yang-lestari/

[4] https://www.perhutani.co.id/tentang-kami/struktur-organisasi/divisi-regional/janten/kph-majalengka/

[5] https://www.bbc.com/news/technology-56012952

[6] https://nftnow.com/guides/everything-to-know-about-the-tezos-blockchain-and-nfts/

Leave a comment

Your email address will not be published.