Laporan dari Kadikoy

Setelah instalasi pameran Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) dilakukan di dua hari sebelumnya, hari ini, pukul 10 pagi (pukul 14 WIB), Muze Gazhane Biennale Istanbul ke-17 dibuka untuk kalangan media massa.

Sejak pagi tadi, Serap, koordinator pelaksana lapangan, bersama enam anggota timnya – semua adalah perempuan yang energik – melakukan persiapan akhir, termasuk ‘briefing’ bagi para pemandu pameran.

Hari ini sampai dengan Sabtu, 16 September 2022 perhelatan Istanbul Biennale dibuka untuk kalangan terbatas. Pembukaan resminya baru tanggal 17, hari Sabtu.

Materi PBI terdiri dari sepeda tua lengkap dengan keranjang berisi buku di kanan kirinya, meja dan bangku kayu dengan cemilan dodol dari Garut dan kwaci, serta buku-buku di atasnya.

Sebuah ilustrasi peta Indonesia pada dinding dengan benang-benang kasur berwarna putih bersaling-silang menghubungkan paku-paku payung berwarna-warni, menggambarkan lintasan pengiriman buku dalam program Free Cargo Literacy dan hubungan kekerabatan antar simpul pustaka yang terbentuk.

Sebuah layar LCD berdiri tegak di samping tulisan Berbagi Rasa Merdeka dan özgürlük hissini paylaşmak (bermakna sama) mengapit peta yang dibuat oleh tim Istanbul Biennale, menampilkan cuplikan dari berbagai aktivitas relawan PBI yang bergerak di banyak pojok Nusantara. Berbagai foto dan video yang dikumpulkan oleh para relawan sejak berbulan-bulan sebelumnya itu diedit secara sederhana, dan dibuat untuk muncul secara berulang. Audionya dapat didengar melalui dua ‘headphones’ yang memperdengarkan narasi PBI, mars PBI sampai musik dangdut koplo berjudul ‘Sayang’ aransemen dari Orkes Melayu Areva, Sukoharjo.


Pameran PBI di ruang seluas lebih dari 40 meter persegi itu menempati ruang depan bangunan bekas gudang batubara yang direvitalisasi selama bertahun-tahun dan baru dibuka 9 Juli 2021 yang lalu.

Kuratorial teks oleh Ute Meta Bauer, Amar Kanwar, David Teh: "Alih-alih menjadi pohon besar, sarat dengan buah yang manis dan matang, dua tahunan ini berusaha belajar dari penerbangan burung-burung, dari lautan yang dulu penuh sesak, dari kimia pembaruan dan nutrisi bumi yang lambat. Mungkin tidak ada pertemuan besar, tidak ada pertemuan yang diatur dalam satu waktu dan tempat; alih-alih itu mungkin penyebaran, fermentasi yang tidak terlihat. Benang-benangnya akan ditarik bersama-sama, tetapi mereka akan berlipat ganda dan menyimpang, pada kecepatan yang berbeda, bersilangan di sana-sini tetapi tanpa kulminasi yang bising, tanpa simpul akhir. Biarkan dua tahunan ini menjadi kompos. Ini mungkin dimulai sebelum dimulai dan berlanjut dengan baik setelah selesai." https://bienal.iksv.org/en/17th-istanbul-biennial/curatorial-statement

Teks untuk pameran jaringan relawan Pustaka Bergerak Indonesia untuk Istanbul Biennial ke-17:
Berbagi Rasa Merdeka dan Masa Depan

Buku adalah wadah informasi, pengetahuan, dan kebijaksanaan. Ketika berpindah dari satu tangan ke tangan lain, ia mengumpulkan kualitas baru: hadiah, tanda cinta dan perhatian, ekspresi komitmen dan solidaritas.

Kami sedang dalam proses (panjang) untuk mendorong gerakan literasi akar rumput. UNESCO menggambarkan literasi sebagai “alat identifikasi, pemahaman, interpretasi, penciptaan, dan komunikasi di dunia yang semakin digital, dimediasi teks, kaya informasi, dan dunia yang cepat berubah.” Pustaka Bergerak Indonesia menggambarkan literasi sebagai karya membentuk solidaritas, berbagi kebebasan dan masa depan.

Sambil bersenang-senang memupuk persahabatan dan solidaritas, para relawan mengarungi laut dengan perahu kayu mereka, menunggang kuda poni, sepeda, vespa, dll membawa buku kepada orang-orang di daerah terpencil di sebagian dari 13 ribu pulau di Indonesia. Para relawan datang dari berbagai latar belakang: pembuat kunci, pemulung, guru, nelayan, penunggang kuda, siswa, satpam, ibu rumah tangga, dll. Para relawan membawa senyuman kepada anak-anak yang senang membolak-balik halaman buku warna-warni di tangan mungil mereka, dan kepada orang dewasa untuk memiliki lebih banyak ide tentang apa yang akan dimasak besok.

Muncul lebih kuat dan lebih bijaksana dari pandemi global, para relawan menemukan kata untuk meningkatkan semangat mereka: Gaspol. Gaspol adalah tindakan memampukan daya secara batas maksimal. Ini adalah sikap untuk terus bergerak maju mengatasi segala rintangan. Ini berhubungan pada sampai batas tertentu vitalitas benih yang jatuh dan tersembunyi untuk terus tumbuh ke arah matahari.


Semoga pameran ini dapat berguna untuk meluaskan jaringan dan memompa semangat relawan PBI untuk terus bergerak.

#interaksibudaya #ditjenkebudayaan #kemkominfo #perpusnas #indihome #berbagirasamerdeka #parapenciptaperistiwavid


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *