Category: 1999 09 Edisi 104

  • Community paper itu bernama Entho Cothot

    1999_September_Edisi 104_peduli: Community paper itu bernama Entho Cothot Era reformasi tidak saja ditandai dengan lahirnya lebih dari 1.600 Surat izin Usaha penerbitan Pers (SIUPP) baru. Lebih dari itu, di masa penuh perubahan serba cepat ini, masyarkat pun dihadapkan pada sebuah pemikiran baru, bahwa beragamnya media massa tidak menjamin sebuah pemahaman yang betul tentang persoalan di […]

  • Darimana Datangnya Benda-benda Mas Kawin Kuno?

    1999_September_Edisi 104_milikita: Darimana Datangnya Benda-benda Mas Kawin Kuno? “Sekarang sulit sekali mendapat gading. Banyak pedagang yang merubahnya menjadi gelang, liontin, cincin, dll. Padahal sebenarnya gading adalah peninggalan moyang kami. Memang tak ada gajah d flores, tapi gading menjadi barang bernilai sejak dulu kala”, ujar mama Maria, sambil menenun kain di kampung Koting B di Flores […]

  • Membakar mempelai wanita!

    1999_September_Edisi 104_selip: Membakar mempelai wanita! “Bagi saya, lebih baik seorang gadis hidup atau melajang, daripada harus dihina oleh pengantin laki-laki yang menuntut mas kawin,” Mahatma Gandhi. Waktu itu tanggal 16 Februari 1980, New Delhi, Sudha Goel sangat berbahagia karena akhirnya ia dipersunting oleh Laxman Kumar. Tak terbayang bahwa pernikahannya akan menjadi neraka baginya. Hanya satu […]

  • Kalau Mas Kawin Terlalu Mahal !

    1999_September_Edisi 104_selip: Kalau Mas Kawin Terlalu Mahal ! Dalam sebuah rencana pernikahan, sering kali tuntutan mas kawin memberatkan pihak yang berkewajiban membayarnya. Pada masyarakat Sikka di flores, muncul lelucon-lelucon tentang pria yang lebih baik memperistri orang luar daripada mereka harus membayar mas kawin yang kadang nilainya terlalu besar. Sementara di pihak perempuan, tuntutan mas kawin […]

  • Mas Kawin dalam Subkultur Gay!?

    1999_September_Edisi 104_selip: Mas Kawin dalam Subkultur Gay!? Pernikahan dalam hubungan sesama jenis kelamin sebenarnya sudah terjadi sejak jaman kuno, dan yang menarik, mereka pun mengenal mas kawin. Misalnya pada masyarakat Azande di Afrika, para pria yang berada di medan perang seringkali tak sempat memiliki isteri. Akhirnya mereka “memperisteri” pria muda untuk memuaskan hasrat biologisnya. Seperti […]

  • Mas Kawin

    1999_September_Edisi 104_selip: Mas Kawin “Kalau menikah, yang kawin itu bukan hanya kamu dan pasanganmu, tapi juga keluarga. Ikuti saja kemauan mereka.” Ungkapan semacam ini kerap muncul dalam obrolan sehari-hari, sekaligus menunjukkan bahwa nilai lembaga pernikahan masih dianggap tahap peralihan kehidupan manusia yang sangat penting, karena pernikahan tidak sekedar melegitimasi hubungan pria dan wanita, tapi juga […]