Bemo akan Punah?

Tertulis di fotokopi surat Dinas Perhubungan DKI Jakarta bernomor 4823/-/819 bertanggal 23 Juni 2016, konon ada surat Ketua DPU Angkutan Lingkungan Organda DKI Jakarta nomor 002/dishub-angling/vi/2016 tanggal 8 Juni 2016 perihal Percepatan Penggantian Angkutan Bemo.

IMG_2382_dishub-bemo

Pagi tadi pak Kinong membahas rencana menanggapi surat tersebut. Rencana yang terdiri dari berbagai butir itu perlu dilakukan, setidaknya mengusahakan kepastian nasib beliau beserta teman-teman sesama pengemudi bemo.

Rencananya antara lain;

  1. Mengajukan surat permintaan audisi di depan Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi Provinsi DKI Jakarta, Bapak Andri Yansyah,
  2. Mempersiapkan suatu usul/skema kerja-bersama antara pengemudi bemo dan Dinas Pariwisata (misalnya) yang dapat menjadi alternatif bagi rencana pemprov untuk melakukan ‘peremajaan’ dengan ‘menggantikan’ bemo dengan kendaraan lain,
  3. Mengumpulkan dukungan dari warga kota, khususnya para penumpang bemo yang selama ini terbantu dengan adanya alat transportasi jarak pendek ini,
  4. Mengusahakan segera proses ‘kosmetika’; merapikan eksterior dan mencari solusi praktis untuk menjawab permasalahan polusi udara dan suara. Antara lain mencoba untuk mengajak produsen bajaj listrik dalam negeri, yang konon telah memperoleh izin dari pihak yang berwenang soal kelaikan jalan/operasi.

Mohon doa restu.

Save

Uji coba jalan ke luar kandang.

15 Februari 2013. Uji coba jalan ke luar kandang.
Problem: Temperatur controller mencapai 71 derajat celcius, yang merupakan batas maksimum default, setelah berjalan tidak lama/jauh -mungkin 1 Km.
Mungkin karena ‘pemaksaan’ motor pada jalan tanjakan yang terjal di awal percobaan..

Brand & Design Seminar #2

Yudha Bianto

Serial Diskusi 11: Jakarta KOMPLEKS!

Koalisi Warga untuk Jakarta 2030 mengundang seluruh warga untuk turut hadir dalam Serial Diskusi 11 Jakarta KOMPLEKS! Bagaimana Memahami Persoalan Jakarta yang kompleks secara utuh.

Hari/Tanggal: Kamis/11 Februari 2010
Jam: 14.00 – 17.00 WIB
Tempat: Humanitarian Forum Indonesia Meeting Room
Lt. 2, Gedung Pusat Dakwah PP Muhammadiyah
Jl. Menteng Raya 62, Jakarta
(untuk informasi, hubungi jakarta2030@gmail.com)

Sila kunjungi situs kami: koalisijakarta2030.wordpress.com untuk mengetahui perkembangan kami dan diskusi-diskusi terdahulu.

Pengantar Diskusi:
Kesalahan manusiawi ketika manusia memiliki kecenderungan berpikir linear dan keterbatasan dalam memahami persoalan yang komplek. Sepertinya itu pula yang terjadi dalam perumusan RTRW 2030 oleh Bappeda, sebuah penyederhanaan (kalau bukan pengabaian) terhadap kompleksitas persoalan, sebagaimana diungkapkan Hendro Sangkoyo dalam Diskusi 9: Ekonomi kota silam.

Padahal kemampuan memahami persoalan secara utuh merupakan prasyarat dalam merancang strategi yang efektif. Jika hanya mengacu pada kejadian (gejala), penanganan persoalan pun cenderung bersifat reaktif dan tidak memecahkan akar persoalannya. Tanpa kemampuan memahami persoalan secara utuh hingga menyentuh struktur persoalan maka penerapan kebijakan tak ubahnya menjadi ajang uji-coba dan sebagai akibatnya resiko kegagalan, yang seringkali tak kecil nilainya, harus ditanggung oleh warga.

Salah satu contoh nyata kebijakan yang hanya mengatasi gejala adalah mengatasi kemacetan dengan membangun jalan. Kemacetan hanya berkurang sesaat setelah jalan baru selesai dibangun, karena kondisi bebas macet ini kemudian justru menjadi daya tarik untuk menggunakan mobil/motor pribadi. Sementara meningkatnya kebutuhan mobilitas penduduk, yang menjadi akar persoalannya tetap tidak tersentuh.

Oleh karena itu Serial Diskusi 11 akan mengusung tema “Bagaimana memahami persoalan Jakarta yang kompleks secara utuh?“ dengan narasumber Bapak Muhammad Tasrif. Tujuan diskusi ini adalah meningkatkan pemahaman peserta antara lain terkait dengan:

Bagaimana suatu perilaku muncul dari struktur sistem pada kebijakan yang dibuat&dilaksanakan.

Bagaimana sudut pandang berbeda dapat memperkaya pemahaman terhadap struktur persoalan.

Apa yang dimaksud dengan membuat perubahan yang bersifat struktural.

Bagaimana mengembangkan skenario dalam perencanaan

Bagaimana menentukan parameter pengendalian

Diharapkan pemahaman ini dapat membantu Koalisi Warga untuk Jakarta 2030 dalam meletakkan aspek sosial-ekonomi-budaya, permukiman, lingkungan dan infratruktur kota Jakarta dalam suatu kerangka tinjauan yang utuh; serta merumuskan usulan yang SMART untuk perbaikan RTRW 2030.

Muhammad Tasrif: menyelesaikan sarjana Teknik Elektro di ITB dan Master of Engineering dalam bidang Industrial Engineering and Management di Asian Institute of Technology. Gelar doktor diselesaikan di ITB dalam bidang Ilmu Teknik dengan disertasi tentang pemodelan system dynamics. Telah menulis artikel akademik di beberapa jurnal nasional dan internasional seperti Journal of Energy Policy dan Jurnal Studi Pembangunan. Juga telah memberi presentasi di konferensi internasional dalam bidang kebijakan energi, system dynamics, dan simulasi dan pemodelan.
Saat ini menjabat sebagai Ketua Program Magister Studi Pembangunan ITB. Aktif dalam komite nasional antara lain National Implementing Committee for Promotion of Renewable Energy, Energy Efficiency, and Greenhouse Gas Abatement dan Pengawas Independen Pelaksanaan Tarif Dasar Listrik.

Ingin tahu apa yang bisa warga lakukan?
Sila kirim email kepada kami: peranserta@gmail.com

Jakarta Kota Gagal!

Tulisan Elisa di Koalisi Warga Kota Jakarta untuk 2030..

Kota bisa gagal dan sakit jika perencanaannya gagal.

Selama ini, banyak orang yang menimpakan kesalahan kota kepada IMPLEMENTASI atau PENERAPAN. Karenanya, untuk bisa berhasil, sebuah kota setidaknya harus memiliki proses perencanaan dan rencana yang baik pula.

Dan dalam rencana tersebut tercakup pula bagaimana cara penerapan terbaik. Itu berarti kota tersebut harus memiliki visi bersama yang berpangkal dari keinginan baik warganya.

Ini berarti juga kota tersebut harus memiliki strategi (berupa pilihan-pilihan pendekatan/metode dan rangkai tindakan), target yang jelas (baik secara kuantitas, kualitas, dan waktu) yang spesifik dan terukur. JAKARTA GAGAL (hingga saat ini) karena PERENCANAANNYA GAGAL memenuhi syarat-syarat minimun itu.

Apabila ditarik mundur, Perencanaan Kota Jakarta – yang produknya disebut Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI Jakarta, telah dimulai dari tahun 1965. Memang perencanaan tersebut memiliki jangka waktu masing, tetapi perencanaan dari tahun 1965 hingga yang terkini 2010 adalah produk perencanaan yang minim partisipasi publik, dan penuh ‘apa maunya pemerintah’. Lalu, setelah 45 tahun berlalu, pertanyaan besarnya adalah: Apakah model perencanaan ala tahun 1965 itu membuat Jakarta menjadi kota yang lebih baik?

Jika Tidak, berarti kita, warga dan pemda, harus merubah pandangan dan pola pikir. Rencana Tata Ruang bukan lagi eksklusif milik birokrat dan teknokrat, tapi Rencana Tata Ruang adalah milik Warga-Warga kota tersebut.

Mari bersama-sama kita berpartisipasi dalam proses perencanaan penataan ruang di wilayah DKI Jakarta.

Sampaikan uneg-uneg’ anda ke: jakarta2030@gmail.com, ‘add account facebook’ ini atau ikut ‘milis’ ini, ikut ambil bagian dalam petisi. dan jadilah warga yang bersuara!

(lebih lengkapnya ada di koalisi warga untuk Jakarta 2030)

2030_curve