Yati Pesek: Masyarakat yang menginginkan saya jadi pelawak

1998_Maret_Edisi 088_bahas:
Yati Pesek: Masyarakat yang menginginkan saya jadi pelawak

Pesan Wanita dalam kancah perlawakan di Indonesia seringkali mengenaskan. Wanita hanya menjadi pajangan dan obyek lelucon. Biasanya modal utama mereka adalah kecantikan dan bentuk tubuh cukup sintal. Sedikit saja yang memiliki kemampuan melawak, tercatat dalam sejarah antara lain, Raden Ayu Srimulat, tarida, Ratmi B29, sofia, Nunung, dan kini yang sedang naik daun adalah Yati Pesek. Pastinya mereka telah melampaui jalan hidup yang spesifik hingga mengantarkan dalam dunia perlawakan.

Yati Pesek. Wanita ini sungguh sangat ekspresif. Setiap obrolannya selalu disertai gerak tubuh yang luwes dan tawa lepas yang menyegarkan lawan bicaranya. Dengan pembawaan seperti itu, tak heran jika dirinya punya modal kuat dalam dunia perlawakan yang umumnya dirambah kaum pria. Tapi siapa yang mengira bahwa dirinya tak pernah bercita-cita manjadi pelawak ternama. “Masyarakatlah yang menghantar saya menjadi pelawak”, ungkapnya di kediamannya di Yogyakarta.

Yati Pesek menjalani hidup tanpa rencana muluk, namun dengan tekun ia memahami potensi diri dan mengembangkannya. Ia lahir dari keluarga seniman tradisional dan masa kanak-kanaknya dilewati di dunia panggung wayang orang Ngesti Pandowo Semarang. Sedari kecil angan-angannya sudah terbentuk, yaitu tampil di pentas wayang orang. Tanpa teori teater, Yati Pesek langsung pelajari berbagai karakter manusia yang tampil diatas panggung sampai terbentuk anggapan bahwa panggung merupakan miniature dunia nyata.

Angan-angannya mulai terwujud saat Yati mendapat peran menari dan menyanyi. Sejak itu ia dikenal sebagai Pesek Kecil, yaitu duplikat ibundanya yang berhidung pesek. Kegemarannya menari telah begitu merasuk sehingga kegiatan sehari-harinya lebih banyak digunakan untuk melatih otak tubuh. Sembari memasak pun, yati sering menggemulaikan gerak tubuhnya. Melalui proses panjang inilah cita-cita Yati Pesek semakin terbentuk, yakni menjadi seniman tradisional.

Lompatan Yati tidak tanggung-tanggung, ia mendaftar di sebuah kelompok kethoprak paling bergenggsi, yaitu Kelompok Siswo Budoyo di Tulung Agung. Seperti halnnya memilih aktor, pak Sis, pimpinan Kethoprak Siswo Budoyo menerima pemain baru dengan sistem seleksi. Tanpa mengandalkan kecantikan wajah, Yati akhirnya dinyatakan lulus serta dipercaya untuk memainkan peran-peran penting di panggung kethoprak. Yati kerap mendapat peran sebagai emban (pembantu) yang bisa nembang (nyanyi) dan melucu. Kebetulan wajahnya memang mendukung peran ini, sehingga ia tinggal mengasahnya dengan maksimal dan penonton pun akan merasa terhibur.

Lazimnya sebuah dunia panggung, seorang perempuan yang terlibat di kancahnya kerap dicap negatif. Yati Pesek begitu sadar akan pandangan tersebut sehingga dia menjaga dirinya dengan cara memisahkan kehidupan panggung dan kesehariannya. Ia bernasib baik karena orang tuanya terkenal di dunia kesenian tradisional Jawa sehingga masyarakatpun menghormati dirinya sebagai seorang seniman.

Setelah 12 tahun menggeluti dunia ketoprak, Yati Pesek diboyong suaminya ke Yogyakarta. Di kota ini ia tak pernah berfikir bahwa kiprahnya dalam dunia kesenian masih berlanjut. Di Yogyakarta, ia betemu Romo Handung yang membawanya dalam acara Janaka KR merupakan dagelan khas Yogyakarta yang mengkritik tanpa harus menyakiti lawan. Di sinilah Yati dituntut kritis terhadap berbagai permasalahan masyarakat. Citranya sebagai pelawak semakin tegas saat ia menjadi bintang tamu dalam kethoprak plesetan yang melejit di tahun 1992’an. Bersama Alm. Daryadi, Marwoto, dan Didik N. Thowok ia telah memperkuat kethoprak plesetan yang sempat bertahan hingga tahun 1993. Demi mengasah kepiawaian lawaknya, Yati Pesek kerap mempelajari gaya para pelawak lain sehingga langsung bisa beradu di panggung. Dalam pementasan lawak biasanya tidak mementingkan latihan, pelawak cukup diberikan penuangan alur cerita lalu mengembangkan improvisasinya di panggung. Ia sendiri tetap mempertahankan gaya Yogya yang menurutnya halus tapi lucu, “slow tapi mantap”, istilahnya.

Bagi Yati tentunya tidak mudah memantapkan diri dalam dunia lawak yang terlanjur dikuasai kaum pria. Beberapa pelawak pria senior, bahkan memandang wanita tidak pantas menjadi pelawak, sehingga kebaradaannya kerap tidak diperhitungkan.

Menghadapi hal ini, Yati Pesek selalu bertekad untuk membuktikannya di panggung, yaitu saat ia berhasil membuat penonton tergelak. Ia pun sering menjadi bahan olok-olok pelawak lain, tapi Yati Pesek mampu menimpalinya kembali dengan lawakan yang lebih segar.

Untungnya, tanpa memandang pria atau wanita, jika masyarakat udah menghabiskan seorang menjadi pelawak, honorpun tidak dibagi berdasarkan jenis kelamin. Biasanya pihak yang berhasil memperoleh “job” akan mendapat bagian lebih tinggi.

Dalam perjalanan karirnya, Yati Pesek telah memperluas jangkauannya ke dunia perwayangan. Dia adalah pelawak wanita pertama yang memasuki humor di panggung wayang kulit. Baginya melawak di pentas wayang kulit lebih sulit, karena ia harus menjaga diri agar pusat perhatian penonton tetap pada sang dalang. Selain bertambah pengalaman, tentunya melawak di panggung wayang kulit bisa memberikan tambahan untuk hidup. Yati Pesek sungguh sadar bahwa suatu saat masyarakat tidak lagi menginginkannya, sehingga ia sudah menyiapkan kegiatan di hari tua. Bersama suami tercinta, ia membangun rumah makan berjudul “Yati Pesek” di daerah Prambanan.

Leave a Reply

Close Menu