Yang masih bertahan, Sol Sepatu Rido

1998_Februari_Edisi 087_Nuansa:
Yang masih bertahan, Sol Sepatu Rido

Benarkah kota Jakarta menjadikan nasib lebih baik? Setidaknya impian bernasib lebih baik telah memicu Pak Rido Yuwono meninggalkan Purworejo, Jawa Tengah. Ia tak pernah membayangkan bahwa setibanya di Jakarta, dirinya akan menjadi tukang sol sepatu.

Mula-mula nasibnya diadu sebagai pedagang kain di pasar Santa, salah satu pasar tertua di daerah Kebayoran. Namun nasib kembali tak bisa ditolak, karena sejak berdirinya pasar Blok M.., para pelanggan pasar santa banyak yang membelot. Jadilah pasar Santa sepi pengunjung sehingga pedagang mulai gulung tikar atau alih profesi tak terkecuali Pak Rido. Tanpa pengetahuan dan keahlian, Pak Rido nekat jadi tukang sol sepatu. Kebetulan dia mendapat pergantian kios di luar pasar, sehingga tidak perlu megeluarkan biaya kontrakan, “modal dasar buka reparasi sepatu tidak terlalu besar, makanya saya ambil usaha kecil-kecilan ini”, jelas Pak Rido di kiosnya.

Sementara mempersiapkan segala peralatan soal sepatu, Pak Rido mencuri ilmu dari Orang Cina di Pasar Pagi. Awalnya, Pak Rido minta agar sepatunya direparasi, dan sembari menunggu, diperhatikannya jurus-jurus membetulkan sepatu. Ilmu curian ini modal pertamanya. Kini, sudah 23 tahun Pak Rido berpredikat sebagai tukang sol sepatu.

Ketika negara ini menghadapi masa-masa sulit, bukan hanya para pengusaha yang berkerut dahi, Pak Rido semakin gundah memikirkan usahanya. “Semua barang naik. Dulu sol tiber seharga Rp. 18.000,-, sekarang naik jadi Rp. 36.000,-, keluhnya.

Namun, ia tetap bertahan membeli bahan tersebut agar mutu kiosnya tidak menurun. Berbeda dengan sol sepatu pikulan, garapan Pak Rido memang lebih rapi dan kuat. Selain keterampilan, ia memilih bahan yang sedikit mahal tapi kuat. misalnya untuk sol sepatu pria dipilih bahan karet sintesis agar tidak mudah patah, sedangkan jahitannya memakai benang good year dan nilon.

“Kebayoran itu daerah elit, jadi kita tentukan harga yang sedikit mahal tapi mutu baik. Pelanggan saya kebanyakan ibu-ibu, bahkan ada juga Orang Korea”, lanjutnya. Tidak asal omong, pernyataannya bisa terbukti dari penilaian salah seorang pelangganya, “Daripada di toko reparasi sepatu, mendingan di sini. Mutunya sama dengan toko reparasi modern, tapi harganya lebih murah. Sek mura sepatu jenis ini harganya sudah Rp. 60.000,-, jadi daripada beli baru, mending keluar uang Rp. 15.000,- untuk reparasi.”

Setiap kali reparasi, Rido menetapkan rentang harga antara Rp. 5000,- [kerusakan pada hak sepatu] s/d Rp. 20.000,- [ganti sol sepatu]. Omzetnya per hari sebesar Rp. 50.000,- dan masih harus dipotong Rp. 4000,- untuk biaya tetribusi pasar. Seluruh pekerjaan ditangani sendiri oleh Pak Rido karena ia merasa tidak mampu mengupah pegawai.

Sumber:
hasil wawancara dengan Pak Rido Yuwono di Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Mc.Dowell Colling. “Shoes Fashion and Fantasy”, Thames and Hudson: 1989

Leave a Reply

Close Menu