Wirausaha Telur Makmur

Pak toni siang itu ditemu di kawasan kemanggisan. Ia tinggal di Blitar, dekat makam bung karno.

Setiap minggu, pak Toni mengarungi pantura 16-24 jam perjalanan ke Jakarta, mengantar pesanan telur ayam.
Dengan dua kali mengisi solar di tengah perjalanan, ia mengeluarkan Rp 750 ribu. Biaya ini tertutup dengan ongkos yang dibayar oleh pemesan, sebesar Rp 2juta per truk

Setiap pengiriman, ia mengangkut 320 tumpuk x 9 lapis kertas telur = 5 ton= 3,500 butir, senilai Rp 65 juta

Di kampungnya di Blitar, telur ayam itu dijual Rp 9rb/kg. Ia menjualnya Rp 13 ribu per kilogram pada pedagang besar, yang kemudian menjualnya eceran di pasar atau dari kiosnya seharaga Rp 19 ribu per kilogram.

Konon pak Toni memperoleh untung minimal Rp 5juta per sekali kirim.

Setelah membongkar muat telur-telur itu, ia akan ke Pulo Gadung. Langganan lain. Ia biasa mengangkut bahan pakaian dari sana ke Blitar dengan ongkos angkut yang sama.

Ia bersemangat sekali bolak-balik pantura, sendiri, tanpa kenek.
Senang mendengar cerita pak Toni siang itu..

catatan: harga ‘tatakan’ bubur kertas itu Rp 300,- per lembarnya

This Post Has One Comment

  1. Cerita yang sangat menarik. Semoga saya bisa seperti beliau.. Sukses buat Pak Toni dan Admin. Terima kasih..

Leave a Reply

Close Menu