Via Via A Joker Travellers Café – Kafe Kembara: Kafe Untuk Beragam Etnik

1998_Juni_Edisi 091_bahas:
Via Via A Joker Travellers Café – Kafe Kembara: Kafe Untuk Beragam Etnik

Berkembangnya teknologi informasi tercanggih sekalipun, ternyata tak menghilangkan kebutuhan manusia untuk memutarkan informasinya dengan ngobrol-ngobrol di kafe. Via Via A Joker Traveller Café yang bertempat di Jl. Prawirotaman Yogyakarta, nampaknya masih percaya bahwa antar manusia tetap diperlukan di segala abad. Seperti yang dikatakan Mie Cornoedus, pemilik Via Via kebangsaan Belgia di Yogyakarta, “Disini informasi paling penting, dan kita ingin menyediakan informasi dari seluruh dunia, juga ingin menjadi tempat bertemunya bangsa dari berbagai belahan dunia”. Betul yang dikatakan Mie, di Via Via Segala buku, brosur, komik, Koran, majalah tersedia untuk dibaca siapapun. Juga setiap malam diputar slide tentang berbagai masyarakat di Indonesia, dan yang lebih penting lagi siapapun bisa saling kontak dengan para pendatang dari macam-macam bangsa, sehingga kafe kecil ini benar-benar hidup. Siapa yang mengira bahwa Via Via berawal dari sebuah mimpi sekumpulan “Tour Leader” dari Belgia yang ingin mewujudkan filosofi sebuah perjalanan.

Mural dan Yogyak-ART-a Via Via !
Ketertarikan Via Via pada seni terwujud dari ide perjalanannya yang bernama Yogyak-ART-a, dimana mereka menghantar para pendatang ke berbagai pusat kesenian, studio seniman dan acara-acara kesenian tradisional maupun modern yang berlangsung di Yogyakarta. Museum Affandi, gallery Cemeti, komunitas seniman di daerah Nitiprayan, menjadi kontak budaya yang unik.

Dan tidak sekedar berkutat dengan perjalanan, Via Via pun menyerahkan tembok kafenya sebagai media ekspresi seni. Di bulan September 1997, Via Via menyambut baik usul perupa Samuel Indratma untuk membuat mural di Via Via. Selama 1 minggu penuh, Samuel mengerjakan muralnya dari jam 11.00 malam hingga pagi hari. Dan yang perlu dicatat, Mie sebagai pemilik Via Via sangat menghargai kebebasan ekspresi seniman. Ia tidak khawatir, ketika tema dari karya mural ini sebenarnya sangat ironis untuk sebuah kafe. Dalam muralnya Samuel Indratma hendak menggambarkan kesatiran para pelancong yang diungkap dengan gaya humor komikal. Sampai saat ini, Mural Blues karya Samuel Indratma masih menjadi bagian dari tembok Via Via kafe.

COMIX-JUICE !
Untuk semakin menghidupkan kontak antara pendatang, Via Via Travellers Café akan membuat program Comix Juice yang awalnya hanya sebuah obrolan spontan antara Mie dan Samuel. Obrolan ini berbuntut dengan semangat mewujudkan ide komunikasi lintas budaya lewat komik. Program ini akan melibatkan seluruh kafe Via Via di Honduras, Senegal, Spanyol, Belgia dan Indonesia. Di setiap kafe tersebut akan diletakkan sebuah buku kosong dimana para pendatang kafe bisa membuat komik tentang perjalanannya di buku tersebut. Selain itu para seniman di masing-masing negara pun dapat mengekspresikan pengalamannya lewat buku. Comix Juice. Setelah 6 bulan, buku Comix Juice itu akan dikumpulkan dari seluruh Via Via untuk diedit yang nantinya diterbitkan menjadi sebuah buku komik lintas budaya. Program ini akan berjalan sejak akhir juni 1998.

Jazz Juice !
Via Via memang tak pernah berhenti. Setelah commix juice, ide menggear jazz akuistikan dimulai ada akhir juni ini. Tak sekedar menggelar Jazz, pertunjukan musik ini pun memungkinkan adanya improvisasi, kolaborasi, jam session yang tentunya menghidupkan kontak antara pemain dan penonton. Ide dan ide terus mengalir, sehingga Via Via bukan hanya kafe untuk beragam etnik tapi juga untuk beragam ide.

Terima kasih kepada Mie Coernoedus

Belgia, Desember 1971
Waktu itu sekumpulan “tour leader” [pemandu tur] Belgia mendirikan sebuah organisasi nir Laba yang bernama “Pik-Nik Reisbegelelding”. Tujuan utama mereka adalah bertemu dengan berbagai kebudayaan diseluruh dunia, maka akan terjadi saling pengertian dan saling menghargai antara sesama manusia. Dan “travelling” adalah salah satu cara untuk memperkaya pengalaman seseorang.

Belgia, Oktober 1981
10 tahun kemudian beberapa pelancong dari organisasi Pik-Nik ini memasak kembali ide-idenya hingga menemui kematangannya di tahun 1981-yaitu saat lahirnya konsep “The Joker Tourism” yang hendak menghantar para pelancong melintasi ragam etnik, ragam budaya di seluruh dunia. Mereka biasanya mengatur perjalanan sebuah kelomok kecil [8-12 orang] dan menjual tiket pesawat. Seluruh paket yang ditawarkan The Joker Tourism bisa dijangkau oleh berbagai kalangan, dan mereka pun menawarkan sebuah bentuk alternative perjalanan. Tidak sekedar mengantar turis, The Joker selalu berpijak pada filosofi perjalanan yang sudah mereka bangun selama bertahun-tahun. Bagi The Joker, perjalanan adalah sebuah eksplorasi-perjalanan adalah meluangkan waktu untuk merasakan pengalaman unik dan mengejutkan. Dan hal ini dapat ditemukan melalui kontak langsung antara pelancong dengan kebudayaan masyarakat setempat. Dengan keseriusan yang penuh humor, perkembangan The Joker Tourism semakin pesat, kini sebanyak 250 Tour Leader telah mengorganisasikan berbagai perjalanan ke seluruh dunia.

Belgia, Juni 1995
1995 merupakan tahun momentum bagi para “tour leader” Joker untuk mewujudkan impian berikutnya “mendirikan kafe di berbagai belahan dunia sebagai tempat bertukarnya informasi, bertukarnya pengalaman, bertukarnya pemahaman tentang berbagai kebudayaan. Dai ride ini maka lahirlah “Via Via Travellers Café” di Louvain, Belgia, Juni 1995. Sejalan dengan filosofi “The Joker”, maka segala informasi yang ada di Via Via bukan sekedar tempat indah di album pariwisata, tapi informasi yang berdasarkan pada pengalaman nyata para pelancong. Oleh karena itu, Via Via biasanya menyediakan buku untuk para tamu dimana mereka bisa menulis apa saja tentang pengalamannya. Buku ini pun dibaca oleh para pelancong yang datang dan pergi.

Belgia-Yogyakarta, Desember 1995 !
Dan pada bulan Desember 1995, Via Via Yogyakarta dibuka, yang diikuti oleh pembukaan Via Via di Honduras, Senegal, Antwerpen dan Spanyol. Khusus untuk Yogyakarta, Via Via menawarkan berbagai program alternative, seperti belajar memasak masakan jawa, tari jawa, batik, belajar bahasa Indonesia. Disamping itu berbagai program perjalanan menarik secara kreatif telah disusun oleh Mie. Misalnya bersepeda keliling pelosok kampung di Yogyakarta ke candi Prambanan dengan sepeda-memahami kehidupan para petani-dll. Para pelancong Via Via juga diminta untuk menghargai penduduk setempat, kebudayaan dan alam mereka. Dengan cara inilah mereka bisa saling berkomunikasi dan memperoleh pengalaman kontak budaya.

Leave a Reply

Close Menu