tungku

tungku

2001_Maret_Edisi 122_lingkungan:
tungku

Pernahkah anda bayangkan, bahwa polusi yang dikeluarkan dari tungku dapur yang tak sehat sama dengan menghisap 100 batang rokok per hari? Memasak di tungku yang sudah dilakukan umat manusia selama ribuan tahun ternyata mengakibatkan dampak negatif yang begitu besar. Tak hanya berdampak pada kesehatan, tapi juga kerusakan hutan. Oleh karena itu Jaringan Kerja Tungku Indonesia mengadakan berbagai program untuk memperkenalkan teknologi tungku yang lebih efisien, bebas asap, hemat energi serta tepat guna.
Bencana dari hal sepele

Ancaman Bagi Keselamatan Hutan Konsumsi biomasa sebagai bahan bakar dari tahun ke tahun menunjukkan kecenderungan angka yang kian meningkat. Diperkirakan lebih dari separoh penduduk dunia masih memasak dengan menggunakan bahan bakar biomasa. Dari data yang dikumpulkan FAO dapat terlihat bahwa untuk negara Indonesia saja, penggunaan bahan bakar biomasa ini mencapai 60%-70% dari total jumlah penduduknya.

Pada umumnya penggunaan utama tungku adalah masyarakat pedesaan, hal ini disebabkan bahan bakar berupa kayu sangat mudah didapat dan kalaupun membeli harganya amat murah. Namun efisiensi tungku kayu bakar tradisional yang banyak digunakan oleh rumah tangga di pedesaan masih sangat rendah. Efisiensi yang rendah berdampak pada tingkat konsumsi bahan bakar kayu yang tinggi serta menyebabkan laju pengrusakan hutan. Bayangkan, kerusakan hutan dapat mengakibatkan tingginya erosi, pendangkalan sungai, serta dampak-dampak buruk lainnya.
Jika diperkirakan 95%, pemduduk Indonesia masih memasak air minumnya, taruh kata 12 liter (untuk 1 KK yang terdiri dari 5-6 orang) per hari, maka dibutuhkan 184.680.000.000 kilo koule kalori yang setara dengan 73.000 m3 kayu bakar atau 16.900 m3 minyak tanah. Dengan jumlah kebutuhan kayu bakar sebesar itu, maka akan banyak pohon yang ditebang dan banyak hutan yang tidak terselamatkan.

Mengancam kesehatan wanita & anak
Tungku masak yang banyak mengeluarkan asap merupakan ancaman kesehatan terbesar bagi wanita. Karena di berbagai tempat, tugas memasak berada di tangan wanita yang sekaligus mengurus anak-anaknya. Diperkirakan polusi dalam ruangan telah membunuh jutaan perempuan dan anak-anak secara tidak langsung. Asap dari tungku yang tidak efisien akan mengeluarkan zat-zat berbahaya seperti partikel debu, carbon monoksida (CO), hidroksida (HC), Nitrogen Oksida (Nox), Ozone (O3) dan Lead/Plibum (Pb). Zat-zat tersebut menyebabkan masalah kesehatan terutama pada saluran pernapasan yang telah menjadi penyebab utama kematian orang di negara berkembang. Lamanya paparan polusi dalam ruangan yang kurang ventilasi dapat disamakan dengan menghisap 100 batang rokok setiap harinya. Dari data-data yang ada terjelaskan bahwa penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan penyebab utama kematian bayi, terutama ISPA dalam bentuk pneumonia bertanggung jawab atas lebih dari 5 juta kematian bayi setiap tahun. Dan studi menunjukkan bahwa kecelakaan dan penderitaan akibat ISPA pada bayi meningkat seiring dengan jumlah waktu berada dalam dapur yang membakar biomasa. Dampak lain dari asap yang mengandung zat-zat berbahaya itu adalah penyakit paru-paru kronis, bronchitis kronis, menghambat perkembangan janin dan kanker paru-paru. Sedangkan panas yang diakibatkan penggunaan tungku dapat menyebabkan penyakit katarak.

Dampak yang ditimbukan oleh tungku yang tidak sehat ini tentunya sangat mengerikan, sehingga diperlukan teknologi tungku tepat guna yang mendukung pemeliharaan hutan, sehat serta sesuai dengan kondisi sosial , budaya dan ekonomi masyarakat pengguna tungku tersebut.

Leave a Reply

Close Menu