trotoar untuk penyandang cacat

2000_April_Edisi 111_peduli:
trotoar untuk penyandang cacat
Ade Tanesia/Rohman Yuliawan

Kasus Malioboro – Yogyakarta
Dari segi ukuran, kawasan Malioboro memang memiliki trotoar yang luas. Di tahun 1970-an, walaupun Soejono AJ (alm) membuat kebijakan untuk mengundurkan bangunan sekitar enam meter untuk membangun trotoar. Hal ini sudah sangat baik, namun luasnya ruang trotoar. Hal ini sudah sangat baik, namun luasnya ruang trotoar Malioboro kemudian digunakan oleh pedagang kaki lima, warung dan lahan parkir. Lalu muncul pemikiran agar ruang trotoar ini sebaiknya juga diperuntukkan bagi para penyandang cacat yang selama ini tak pernah diperhitungkan dalam rancangan tata kota. Adalah Yayasan Dian Desa bekerjasama dengan para pemerhati kota Yogyakarta yang mengawali kepedulian terhadap hak penyandang cacat atas kotanya. Pada tahun 1998, kepedulian ini mulai diwujudkan dengan pembuatan jalur khusus untuk para penyandang cacat. Jalur itu berupa lantai tegel bergaris-garis menonjol dan berwarna kuning, yang dibangun di sepanjang trotoar depan Hotel Garuda sampai dengan DPRD DIY. Menurut Ferri dari Yayasan Dian Desa, sayangnya jalur tersebut malah tetap disesaki kendaraan roda dua yang parkir di trotoar dan warung-warung yang menutupi sebagai jalur.

Jalur ini sebenarnya proyek percontohan bagi kota-kota lain di Indonesia. Jika proyek di Malioboro tersebut dipandang berhasil, maka akan dilaksanakan di kota-kota lain. Ironisnya, para penyandang cacat seolah masih enggan memanfaatkan fasilitas yang diperuntukkan bagi mereka. Mungkin ini disebabkan sosialisasi proyek yang kurang terarah. Para tukang parkir dan para pedagang itu pun kurang mengerti hakekat keberadaan jalur terebut, bahkan mereka belum pernah melihat penyandang cacat memanfaatkan jalur itu.

Sebenarnya, itu mengenai aksesibilitas dalam UU No. 4 tahun 1997 Tentang Penyandang Cacat sudah sering diangkat dalam berbagai forum. Namun kertas-kertas di seminar tersebut tidak berujung pada tindakan nyata. Tidak heran jika para penyandang cacat selalu skeptis dalam menanggapi isu-isu tersebut. Ini sebuah PR besar bunga ini.

Leave a Reply

Close Menu