Tradisi Tulis Indonesia Tidak Banyak Dikenal Apalagi Dipelajari

1997_awal September_Edisi 076_peduli:
Tradisi Tulis Indonesia Tidak Banyak Dikenal Apalagi Dipelajari

Sebuah buku yang diterbitkan Yayasan Lontar tahun 1996, Illuminations: The Writing Tradition of Indonesia, bisa jadi disebut sebagai dokumentasi luar biasa dari kekayaan budaya bangsa Indonesia. Dari halaman ke halaman, kita seakan mendapat pembuktian bahwa tidak selamanya benar menyebut minat yang rendah baca tulis bangsa Indonesia adalah produk dari lebih kuatnya tradisi lisan dibanding tradisi tulis.

Sejak tahun 400,kita bahkan telah mengenal tulisan seperti yang tertera pada prasasti Yupa di Kutai, Kalimantan Barat. Prasasti berbahasa Sansekerta ini, tidak saja menjadi bukti kuatnya pengaruh agama dan peradaban India di Asia Tenggara, tapi juga merupakan bukti pertama tradisi tulis menuis di Indonesia, yaitu tulisan Jawa, Sunda, Bali, Batak dan Bugis.

Dari bentuk prasasti, tradisi tulis Indonesia berkembang dalam bentuk naskah. Bukti tertua naskah yang pernah ada berasal dari tahun 856 berupa dokumen lelgal yang ditulis dalam bentuk 29 stansa yang dalam bahasa Jawa Kuno disebut kakawin.

Selanjutnya, berbagai naskah mengenai kisah, peristiwa, ajaran, dan urusan kenegaraan ditulis dia atas daun lontar, bamboo, kulit kayu, dan kertas. Naskah tidak saja dibuat dalam tulisan Jawa Kuno, tapi juga dalam tulisan Arab yang sering kali dihiasai gambar indah menawan. Surat dari P.A.A. Suryakusuma Raganata dari Pamekasan, Madura kepada Gubernur Hindia Belanda yang dibuat pada tahun 1749 adalah salah satu contoh Arab berhias rangkaian bunga lengkap dengan cap segel. Surat dalam bentuk indah semacam ini banyak dikirimkan oleh berbagai pemuka masyarakat kepada pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-17

Tradisi tulis di Indonesia mencatat pula tulisan Batak yang tidak banyak diketahui sampai pada pertengahan abad ke-19. Pada tahun 1849, The Netherlands Bible Society menugaskan ahli Linguistik Herman Neubroner van der Tuuk untuk mempelajari bahasa Batak. Dia kemudian tidak saja menjadi orang Eropa pertama yang melihat Danau Toba, tapi juga menjadi penulis tatabahasa dan kamus bahasa Batak Toba. Kini, warisan van der Tuuk berupa contoh-contoh literature lisan maupun tulisan Batak serta lebih dari lima puluh buku kulit kayu (putasha) menjadi koleksi berharga bagi perpustakaan Universitas Leiden.

Mencermati keragaman naskah kuno, tidak saja mengajak kita memahami banyak kejadian di masa silam, tapi juga mengingatkan kita bahwa masih banyak tradisi tulis Indonesia. Karena ternyata, kita pun telah lama cakap menulis berbagai buah pikiran di atas lontar, bamboo, kulit kayu, tulang, dan kerta.[a!]

Sumber:
Kumar, anna and john h.Mcglynn, Illuminations;The Writing Tradition of Indonesia, The Lontar Foundation, Jakarta,1996.

 

 

Leave a Reply

Close Menu