Tradisi mencukur rambut di berbagai daerah

1997_awal Desember_Edisi 082_bahas:
Tradisi mencukur rambut di berbagai daerah

Dalam tradisi suku bangsa, cukur rambut biasanya dikaitkan pada upacara siklus hidup yaitu masa peralihan dalam kehidupan seseorang. Upacara ini berfungsi untuk mengesahkan status tertentu dan dianggap dapat memberikan kekuatan pada diri seseorang ketika mulai memasuki tahapan kehidupan yang baru.

SELAPAN
Pada adat jawa, cukur rambut atau cukuran merupakan bagian dari upacara Selapanan, yaitu saat bayi memasuki usia 35 hari, yang menurut tradisi jawa berarti hari jadi seseorang atau Wiyosan Tingalan dalam istilah golongan bangsawan. Cukuran yang kerap disebut upacara Pasaran (pasar berarti cukur) merupakan babak awal dari upacara Selapan. Dalam tata cara kraton, yang pertama kali berhak mencukur rambut kepala si bayi adalah sultan, kemudian diteruskan secara bergilir oleh para kerabat puteri angkatan tua (pinisepuh). Selama proses pencukuran biasanya kemenyan dibakar dan kepala bayipun dibasahi dengan air kembang setaman. Setelah rambut habis tercukur, maka dilanjutkan dengan proses pengguntingan kuku. Seluruh guntingan rambut dan kuku dimasukkan ke dalam kotak kayu atau kendhil baru, lalu dibungkus dengan kain putih untuk nantinya dibawa kepelataran masjid agar ditanam di tempat penanaman ari-ari si bayi.

Untuk kalangan petani jawa, pencukuran rambut dilakukan oleh dukun yang mengolesi kepada bayi dengan air sabun agar mudah dicukur. Kemudia cukuran rambut itu ditaruh dalam mangkuk berisi air yang diberi daun dadap srep dan bunga.

NGUTANGIN BOK
Dalam tradisi Bali, cukur rambut dilakukan ketika bayi memasuki usia 1 tahun atau 210 hari dalam hitungan tahun saka Bali. Di saat ini, sang bayi didandani dengan baju merah dari kain brokat, pergelangan tangan dan kakinya dihiasi gelang emas, lehernya dikalungi dengan baru sapir dan rubi. Setelah itu, upacara cukuran pun siap dimulai dan dipimpin oleh seorang pendeta. Tidak seluruh rambut bayi akan dicukur habis, biasanya di bagian tengah kepala sengaja disisakan beberapa helai rambut yang dipercaya dapat menolak bala penyakit. Sebagai penutup upacara diadakan pertunjukan wayang semalam suntuk.

CUKUR RAMBUT GEMBEL
Anak-anak kecil di daerah pegunungan Dieng, Wonosobo kerap ditumbuhi rambut gembel yaitu rambut berukuran 30-40 cm berupa gumpalan yang saling merekat. Terdapat 3 jenis rambut gembel : gembel pari, yang untaian rambutnya merekat kecil-kecil; gembel debleng; yang berukuran besar seperti bulu domba, dan gembel jata: yaitu kumpulan rambut besar, tapi tak melekat jadi satu.

Menurut legenda masyarakat Dieng, anak yang terlahir dengan rambut gembel dianggap cucu dari Kyai Kaladate, seorang raksasa berambut gembel. Oleh karena itu, rambut rambut gembel tidak boleh sembarangan dicukur, karena dapat mengakibatkan sakit atau bahaya maut. Kalau ada yang putus, maka sisanya harus disimpan sebaik-baiknya unutk menghindari bencana. Ketika anak berambut gembel berusia 3 atau 4 tahun. Ia boleh mengajukan permintaan yang kelak menjadi persayaratan pencukuran rambutnya. Ada yang minta lembu, kambing, dan semua permintaan itu wajib dipenuhi setibanya waktu upacara pencukuran.

Upacara pencukuran dilakuakn ketika anak rambut gembel berusia 6-7 tahun, yaitu saat pertama kali giginya tanggal. Upacara dilakukan pada malam hari – si anak dikenakan pakaian yang terbagus dan didudukkan di kursi atau tidak serta didampingi seseorang yang memayunginya. Di depannya ditaruh sesaji seperti panggang ayam, tumpeng robyang, nasi berbentuk kerucut dengan aneka lauknya. Sebelum upacara cukuran, anak gembel biasanya mengulangi permintaannya dahulu, kemudian sehelai rambutnya dipotong dengan gunting. Rambut gembelnya dimasukkan ke dalam pinggan berisi air dan bunga-bungaan, lalu ditanam di bawah rumpun pohon pisang atau ditaruh dalam tempat penyimpanan beras (pendaringan). Menurut kepercayaan kalau rambutnya dibuang sembarangan, anak tersebut akan makin kurus dan menemui ajalnya.

LAMPU BARBER atau BARBER’S POLE
Dia banyak tempat tukang cukur dan barber shop, kita masih sering menyaksikan tabung lampu dengan garis-garis spira merah putih yang berputar melingkar. Letaknya sebagian besar di dekat pintu atau bersebelahan dengan papan nama. Bila tidak ada tabung tersebut, kedudukannya biasanya digantikan dengan garis-garis diagonanl yang diwarbai dengan cat.

Spiral merah putih ini adalah symbol tukang cukur bedah di Abad Pertengahan yang hingga kini masih dipergunakan secara luas, meskipun tidak ada lagi praktek pembedahannya. Dulu, kedua warna ini diartikan sebagai darah dan pembalutan para “pasien” yang menjalani pembedahan.

Kalau ada yang ditarik untuk mengkoleksinya, lampu barber atau barber’s pole ini dapat dibeli di Pasar Baru atau Glodok, Jakarta seharga Rp. 150.000 sampai Rp. 200.000,-

Sumber:
Surjomihardjo, Abdurachman, “Kota Yogyakarta 1880-1930” UGM Press: 1988, Yogyakarta. Hasil wawancara dengan Pak Subiyanto, pengelola Barber Shop Masa Baru.
Chamber Encyclopedia. Encyclopedia Britanica Vol. 2. “Aku Ingin Tahu”… The World Book Encyclopedia. Upacara tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta. Proyek Inventarisasi & Dokumentasi Kebudayaan Daerah 1981/1982. Dokumentasi Seminar : Poncosutirto, Sularjo, “Anak Gembel di daerah Wonosobo. Covarrubias, Miguel. “Island of Bali”. Oxford Singapore: 1987.

Leave a Reply

Close Menu