Tinggal Bersama Bangunan Tua

2002_Februari_Edisi 131_Lintas:
Tinggal Bersama Bangunan Tua
Punto Wijayanto

Salah satu gagasan pelestarian banguna tua adalah bagaimana masyarakat sendiri terlibat dalam usaha pelestarian. Salah satunya dengan memanfaatkan bangunan tua dan kondisinya, bahkan dengan fungsi yang berbeda dari fungsi lamanya.
Ada dua hal yang kemudia menjadi keuntungan ketika kita menggunakan kembali bangunan tua. Ruang dan kesan, Ruang disini tentu seturut program dari fungi bangunan itu semula. Misalnya, bangunan rumah akan terdiri dari ruang – ruang dari ruang makan sampai kamar tidur. Ruang – ruang ini yang dengan sedikit penyesuaian dimanfaatkan untuk fungsi baru sesuai kebutuhan.

Kemudian kesan. Bangunan tua memiliki nuansanya sendiri dibanding bangunan baru. Tidak hanya penggunaan mateial dan bentukan yang dihasilkannya yang berbeda, tapi juga suasana tempat yang dihasilkannya. Ada “cerita dari masa lalu” yang disimpannya. Maka, kita pun bertempat tinggal, berkantor, atau berkebudayaan di sebuah bangunan yang khas.
Di negara ain, pemanfaatan bangunan pusaka budaya untuk fungsi lain sama sekali bukan hal yang baru Di Kyoto, Jepang, usaha pemanfaatan machiya rumah toko tradisional menjadi galeri dan toko souvenir, sudah memberikan manfaat ekonomi yag signifikan bagi pemiliknya.

Kalau di Indonesia, di Jogja, bisa kita lihat contohnya pada Sanggar Kua Etnika di Kersan. Sanggar ini dibangun atas sebuah rumah yang banyak bagiannya sudah berupa reruntuhan. Bagian yang tampak utuh tinggal pendopo dan bangunan di sebelah Baratnya.

Sisa-sisa tersebut menarik dan dirasa peru dipertahankan, maka selain memenuhi kebutuhan ruang, oleh sang arsitek Ir. Eko Prawoto, keunikan dari reruntuhan tersbut kemudian menjadi aksen dari sanggar. Komentarnya, “itu merupakan sumber inspirasi untuk menemukan peluang dalam mewujudkan identitas lokal dalam pemaknaan yang lebih optimistik, lebih dari sekedar pengulangan masa lalu.”
Menarik untuk dikembangkan, gagasan bahwa kegiatan pelestarian pusaka budaya selain menghidupkan pusaka budaya itu sendiri, tapi juga sekaligus secara sosial, ekonomi atau budaya dapat pula menghidupi para pelaku pelestarian tersebut. Maka, pelestarian inipun dapat menjadi gerakan bersama dan terwujud nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jogja.

Leave a Reply

Close Menu