tindik

2001_Maret_Edisi 122_Gaya:
tindik
Rohamn Yuliawan/Ade Tanesia

“Saya menindik alis, bibir dan pusar biar terlihat gagah”, ujar Deny, yang ditemui di tengah mentato legannnya di malioboro. Biar terlihat ini dan itu rupanya impian setiap orang yang menindik bagian-bagian tubuhnya. Rasa sakit tak jadi masalah, yang penting “saya bisa terlihat seperti yang saya inginkan”. Tindik memang telah menjadi gaya seantero dunia, seni menghias tubuh yang sudah dikenal selama ribuan tahun silam ini kini hidup lagi menjadi ikon kebebasan , ikon pemberontakan, ikon anti diskriminasi. Tindik telah menjadi ritus baru dimana seseorang bisa memperoleh identitas yang diinginkannya.

Dalam pagelaran busana rancangan penata busana tenar Jean Paul-Gaultier, model-model yang berlenggak-lenggok di atas catwalk direkrut dari anggota kelompok penyuka tato dan tindik di London. Belum lama berselang, tindik dan juga tato ditasbihkan keberadaannya dalam pameran di American Museum of Natural History sebagai fenomena kultural yang tengah menyisir jalan menjuju pusaran untuk peradaban modern. Tindik kini menjadi bagian arus besar industri fesyen dan dengan cepat diadopsi menjadi bagian gaya hidup kalangan muda. Padahal dulu tindik hanya diasosiasikan dengan kelompok gay, sadomasokis, pelaku kejahatan atau subkultur antisosial lainnya. Trend dekorasi tubuh saat ini seolah beranjak menuju titik yang beralawanan dari seni hias tubuh akhir tujuh puluhan, dimana semangat non-konformis dan anti kemapanan menemukan bentuk dalam dekorasi tubuh. Saat itu gerombolan pengendara motor, musisi punk, mahasiswa radikal dan kaum hippies menegaskan penolakan mereka pada nilai-nilai mapan dalam masyarakat salah satunya dengan tindik atau tato. Kerlip logam atau jarum di tubuh mereka seakan merayakan penarikan diri mereka dari masyarakat dan meneguhkan individualitas mereka.
Seni Arkaik

Tindik sendiri telah menjadi bagian kultural berbagai bangsa sejak sekitar 200 tahun lalu. Lelaki bangsa Romawi menindik puting susu mereka sebagai simbol keberanian sekaligus berfungsi sebagai tempat mengantungkan belati. Kitab Kama Sutra menyebutkan tentang adanya apadravya atau tindik pada organ seksual. Praktek ini juga banyak ditemui di tengah lelaki Dayak dan Toraja denga menusukkan pin sepanjang kurang lebih 4 cm pada organ seksual primer untuk meningkatkan sensitifitas bagian tersebut. Suku Indian Carafa di Amerika Selatan menusukan bilah kayu kecil ke bibir bawah sebagai tanda telah memasuki usia dewasa, sementara wanita-wanita Ubangi di Afrika Selatan juga melubangkan bibir mereka. Para peneliti menduga corak tindik ini dimaksudkan untuk membuat gentar pedagang budak. Suku Indian Aztec dan Maya menusuk lidah mereka dengan duri sebagai tanda pengorbanan dan kantung mata mereka digantungi tindik dengan beban untuk membuat mata terlihat juling, bentuk mata yang menurut mereka terlihat indah. Tindik kerap menjadi penanda sosial dalam ritus peralihan suatu masyarakat. Praktek dekorasi tubuh di tengah masyarakat suku begitu kental dengan warna kultural ataupun fungsional. Lantas bagaimana tradisi tersebut menemukan jalannya di tengah masyarakat modern?

Menindik tubuh mengolah identitas
“Dekorasi tubuh memungkinkan pelakunya menemukan dirinya sebagai pemberontak, mengikuti mode dan bermain-main dengan identitas baru. Orang memanfaatkannya untuk melompati batasan gender, identitas nasional dan stereotip kultural,” ungkap Fakir Muafar, seorang peneliti kebudayaan. Penolakan manusia modern pada praktek penguasaan tubuh oleh kepentingan diluar dirinya, termasuk norma-norma agama, sosial ataupun aturan-aturan formal menyempil dalam bentuk adopsitradisi yang mengesahkan pemberontakan mereka. Pertauatan tradisi dengan nilai modern memunculkan istilah Modern Primitif untuk menyebut mereka yang menjalani dekorasi tubuh yang bertentangan dengan norma sosial yang berlaku. Ketika dunia fesyen merangkul, para pesohor muncul dihadapan publik dengan tindik di alis dan pusar serta bibir, seperti anggota boys band Take That, Britney Spear dan gadis-gadis Spice Girls, maka lingkaran massa pendukung kulturalnya mulai melebar
Resiko Tindik

Lepas dari kepopuleran gaya ini, tindik belum sepenuhnya diterima masyarakat. Di Amerika, masyarakat Alabama mengundangkan peraturan yang berisi larangan bagi anak dibawah umur 18 tahun kecuali dengan ijin tertulis dari orang tua atau diantar langsung oleh orang tua saat menjalani praktek ini. Peraturan serupa juga diberlakukan di 19 negara bagian lain di Amerika. Salah satu pertimbangan yang mendasari peraturan tersebut adalah resiko kesehatan tindik, misalnya tertular HIV, hepatitis atau infeksi. Seorang gadis usia 25 tahun dari Inggris dikabarkan operasi untuk membuka jalan nafasnya yang tertutup. Gigi patah, bengkak karena infeksi, tersedak hiasan tindik yang lepas adalah beberapa kasus sering dialami orang yang bertindik. Belum lagi kerepotan dalam menjaga kebersihan hiasan tindik.
Mengejar kegagahan

“Saya menindik alis, bibir dan pusar biar terlihat gagah”, ujar Deny, yang ditemui di tengah mentato lengannya di Malioboro. Bravado atau untuk keberanian serta tampil eksotis memang menjadi motif kebanyakan anak muda masa kini untuk bertindik. Ini diamini oleh Iik, penjaga counter tindik Idola Silver di supermaket Matahari, jalan Ahmad Yani Yogyakarta. ‘Kebanyakan mereka meminta tindik di bagian alis, telinga atau hidung sehingga gampang terlihat orang lain” ungkap Iik. Ongkos tindik berkisar 6000 rupiah sampai 10.000 per-lubang termasuk hiasan yang terbuat dari perak. Tindik dilakukan dengan gun piercing. Selain counter Idola Silver yang berjumlah tujuh buah di sekitar Malioboro dan jalan Solo, juga ada beberapa penindik jalanan di emperan Malioboro.
Sebagai gaya, tindik telah melepaskan diri dari nilai pemberontakan generasi tujuh-puluhan yang diwakilinya. Tindik telah menjadi bagian budaya populer yang tidak lagi membuat orang mengerutkan kening. Lagipula orang yang melakukannya dianggap tidak diskriminatif, artinya menerima masyarakat-masyarakat tradisional yang selama ini marjinal sebagai empunya akar seni tubuh ini.

Leave a Reply

Close Menu