Tiga Puisi di Pembukaan Pameran

KEPAK KARCIS

Setelah menetapkan tujuan
lembaran karcis berhamburan
dari mulut loket menjadi kepak
ribuan laron keluar liang
menjalani takdir sekali terbang
hingga di stasiun engkau turun
sayap sayap robek berhamburan
meratapi lantai dingin peron.

Tapi ada saja yang tak puas menghirup
terang setelah sekian lama terbekam gelap.

Dengan sayap basah muka tekuk lipat
engkau kembali terbang mencurangi takdir
hingga lusuh membuatmu terjerembab kembali
menjelma rayap menggerogoti bantalan kayu jati.

Stasiun Depok Lama, 26 Maret 2008

MELATA KERETA

“Mengapa kereta melata seperti ular, Ibu?”

Sebab dusta telah mematahkan sayapnya
hingga tubuh rentanya terseok
membawa berjuta beban hidup
sejarah masa lalu seburam riuh
kehidupan kini tidak terpelihara
terus diperkosa dan diperkosa.

“Tapi dalam rahimnya kupercayakan perjalananmu.”

Karena selalu ada yang menggurat
anggan di atas bantalan kayu jati
menempa harapan selurus rel waktu
walaupun kita tidak pernah bisa lelap
karena selalu ada yang merusak mimpi.

Hingga selamanya,
sekardus resah terikat di peron tunggu
membaca lembaran kasih ibu terjahit
celana dalam dekap degup kecemasan
menanti gema suara menuntun langkah
pada jalur mana kereta berderak
membawa tubuh terhimpik sesak
menghitung stasiun tak beranjak
berdesak dalam gelap menerka sinyal
melata dan terus melata menuju entah
berserakan dalam kutuk batu-batu.
“Kalian selalu saja nakal,
memecahkan kacamata Ibu
hingga tak terajut lagi jejak-jejak baru….”

Stasiun Cawang, 23 November 2006

DUA PULUH DETIK! YANG MENENTUKAN

Dua puluh detik! Pintu KRL-Ekonomi seperti lubang pembuangan yang menghamburkan segala kotoran yang sudah berdesakan dan mati-matian ditahan dari stasiun sebelumnya, tapi tak bisa bernafas lega karena…

Dua puluh detik! itu juga, pintu KRL-Ekonomi seperti lubang perawan yang diperkosa bertubi-tubi tanpa kenal ampun oleh hasrat yang berdesakan dan tak bisa menunggu kereta berikutnya, karena kesempatan adalah…

Dua puluh detik! yang tidak boleh disia-siakan, setelah sekian lama menunggu dalam ketidakpastian, tanpa ada perhatian yang menenangkan, tanpa ada pemberitahuan yang memberi harapan, dan dalam…

Dua puluh detik! penumpang hanyalah kotoran yang tersia-sia, dan selamanya dalam…

Dua puluh detik! kita akan memperkosa dan terus memperkosa.

Depok – Cawang, sebuah perjalanan panjang

Leave a Reply

Close Menu