Terumbu Karang

1997_akhir Agustus_Edisi 075_bahas:
Terumbu Karang

Kalau Indonesia terkenal sebagai surga wisata bahari, salah satunya adalah karena hampran terumbu karangnya, yang merupakan salah satu yang paling kaya di dunia. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa terumbu karang tidak saja merupakan salah satu ekosistem tertua, yang terbentuk sekitar 450 juta tahun yang lalu, tapi sekaligus sebagai “hutan tropis” di kedalaman air. Artinya, ketika tangan manusia merusaknya, manusia harus bertanggung jawab atas hilangnya sebuah ekosistem tertua dan terkaya. Dan hal tersebut tidak mudah untuk digantikan dalam waktu dekat. Sebagai gambaran, untuk membentuk sejengkal karang tidak saja dibutuhkan waktu bertahun-tahun tapi juga keseimbangan alam yang memungkinkan berbagai unsur pembentuk karang dapat hidup dengan baik.

Secara fisik, terumbu karang adalah tampilan dari keindahan alam bawah air, yang juga berfungsi sebagai pelindung pantai dan pulau dari kikisan arus dan ombak. Dan, tidak hanya itu, terumbu karang pun merupakan habitat bagi ribuan jenis biota laut, termasuk udang dan ikan. Sebagai asosiasi maritime, terumbu karang sepenuhnya dibentuk oleh aktivitas biologis. Pada dasarnya, asosiasi ini merupakan deposit massif dari zat kapur yang diproguksi oleh berbagai organism lainnya. Zat kapurlah yang kemudian member ciri sebuah karang yang kokoh dan Nampak tidak bernyawa.

Pembentuk utama teumbu karang adalah koloni karang yang merupakan jaringan jasad renik yang disebut polip. Hewan renik, yang berkembang biak dengan membelah diri ini, merupakan penyantap larva udang, yang lewat didekatnya. Dalam mempertahankan hidupnya, polip zoozanthellae, semacam ganggang bersel satu. Polip memberikan tempat hidup dan karbondioksida yang dibutuhkan ganggang untuk imbalannya, ganggang akan memberikan tambahan makanan dan oksigen, di samping membantu pembuatan rangka kalsium karbonat dan memunculkan beragam warna pada permukaan karang.

Dengan cara hidup sepeeti itu, sinar matahari merupakan kebutuhan mutlak. Karena itu, terumbu karang hanya dapat dijumpai pada kedalaman sampai 100 meter. Keruhnya air laut, yang sering disebabkan oleh aliran sungai yang membawa lumpur dan limbah, menjadi penghalang bagi ganggang untuk berfotosintesa. Pada saat ganggang mati, karang pun segera akan berwarna putih dan ajalnya pun semakin mendekat.

Saat ini, terumbu karang tidak saja mengalami kerusakan karena lumpur dan limbah, bahan peledak dan racun pun menjadi musuh utamanya. Keseimbangan alam tidak lagi tercipta untuk melestarikan daur hidup di perairan yang kian tercemar. Dan tinggalan dari ratusan juta tahun lalu pun mungkin akan segera punah.

Sumber: Terumbu Karang, WWF
Wells,Sue & Nick Hanna, The Greenpeace Book of Coral Reefs, Blandforf, 1992

Leave a Reply

Close Menu