tentang kelas menengah

2000_Juli_Edisi 114_middle class :
tentang kelas menengah
-
Kalau ada sekelompok kecil orang yang punya kekuatan untuk melakukan perubahan dalam sebuah negara salah satunya adalah kelas menengah. Sebagai the creative minority, kelas menengah dianggap kreatif, jarak pandanngnya jauh ke depan, tahu arah yang harus ditempuh, mampu menggerakkan lapisan bawah, dan pada waktu yang sama mengubah pandangan serta mengarahkan lapisan atas, dengan segala keunggulan kapasitas waktu yang sama mengubah pandangan serta mengarahkan lapisan atas. Dengan segala keunggulan kapasitas tersebut, tidak mengherankan bila segala harapan untuk sebuah perubahan ke kondisi bernegara yang lebih baik dilimpahkan ke pundak kelas ini.
Tentunya, akan menjadi sangat panjang bila kita harus mendebatkan mana yang lebih dahulu muncul, industrialisasi yang mendorong terciptanya kelas menengah atau kelas menengalah yang menjadi pendorong indrustrialisasi, yang pasti, ada semacam kepercayaan bersama bahwa meningkatnya proporsi kelas menengah dalam sebuah negara cenderung diikuti oleh peningkatan permintaan akan kualitas hidup di semua aspek.

Sedahsyat itukah pengaruh kelas menengah di Indonesia?
Hasil penelitian litbang Kompas sekitar empat tahun yang lalu, mungkin agak mengecewakan harapan kita pada kelas yang identik dengan penghasilan yang relative besar, pendidikan tinggi, dan luasnya akses informasi ini. Karena meskipun pandangan tentang demokrasi dan hak asasi manusia bisa dibilang sama dengan kelas menengah di negara-negara Barat, tingkat keterlibatan kelas menengah kita ternyata masih sangat-sangat rendah. Bahkan keterlibatan dalam bidang sosial dan lingkunganpun, jumlahnya masih terpaut jauh di bawah keterlibatan kelas menengah di Filipina.
Akankah perubahan di Indonesia di motori kelas menengah?

Beberapa kalangan dengan sinis berpendapat bahwa bila yang dimaksudkan perubahan itu adalah meningkatnya konsumerisme, boleh jadi kelas menengahlah yang sangat mampu menjadi pelopornya. Dan mereka bertambah sinis dengan semakin banyak saja mobil-mobil Completely Built Up berkeliaran di jalan-jalan yang justru semakin tidak terpelihara karena alasan krisis ekonomi berkepanjangan. “Sepertinya mereka lebih sibuk membaca majalah-majalah otomotif, dari pada membuat perubahan dalam masyarakat. Kalau situasi menjadi gawat, mereka aman bersembunyi di rumah yang nyaman (bisa main game, internet, atau karaoke), bisa berbelanja melalui telepon atau malah sudah punya persediaan makanan segunung karena dapat bocoran informasi.”

Untungnya, kami (ya, kami merasa beruntung) tidak merasa harus sesinis dan sepesimis itu. Beberapa teman, yang bilang digolongkan ke dalam kelas menengah, menyimpan banyak bukti bahwa masih ada harapan terhadap kelas menengah Indonesia untuk memainkan peranannya dalam perubahan.

Sekitar empat tahun yang lalu, dua orang teman kami yang lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain-ITB memboyong keluarga dan harapan mereka ke sebuah desa kecil di Temanggung, Jawa Timur (salah satu dari desa tersebut) Obsesi mereka tentu saja “industry” yang selain berkaitan dengan fondasi efisiensi, efektivitas, dan produktifitas, juga dapat mengajak orang-orang untuk membuat kegiatan bersama. Sebuah kegiatan dimana orang-orang yang terlibat mengetahui arah yang dituju, merasa bangga (bukan cuma sekedar menjadi buruh), dan punya martabat (tidak semata jadi kuli). Sampai saat ini, mungkin belum bisa menyebut mereka sebagai pengusaha kerajinan yang sukses, tapi nampaknya ada prestasi besar yang akan dituai dari kehadiran mereka di desa, sebuah pemberdayaan. Tidak hanya karena para pengrajinnya mulai mengikuti program pension dan asuransi, tapi lebih penting, telah terbuka sebuah kesempatan belajar bersama (antara yang berpendidikan dengan yang tidak) untuk dapat menikmati kerja dan bangga atas upayanya. Bersama-sama mereka memaknai pilihan yang harus diambil (mengapa melakukan ini, bukan itu) dan mencermati kemana proses kerja mereka akan bermuara.

Informasi untuk kelas menengah
Kalau kami membidik kelas menengah sebagai sasaran penyebaran informasi budaya, itu karena kami masih punya keyakinan besar terhadap kekuatan “terpendam” yang mereka miliki. Dengan memakai atribut identitas kelas menengah, kami terus mencoba memperkenalkan mereka lebih dekat pada masalah-masalah yang terjadi, pada pencapaian-pencapaian yang berhasil dilakukan, pada kualitas-kualitas yang ada di sekitar mereka. Karena dengan melihat lebih dekat akan memberi kesempatan kepada mereka untuk memilih tindakan yang paling tepat. Pada titik itu, kelas menengah kita akan dapat melakukan peranan yang sebenarnya.

Karena itu kami mempunyai gaya
Kafe, spa, sport club, note book, mobil, dan telepon genggam, adalah sebagian dari atribut yang paling sering disebut untuk menggambarkan kelas menengah kita. Semua berbau penampilan. Menurut hasil penelitian Kompas tahun 1996, Jakarta paling tidak dihuni oleh sekitar 21% kelas menengah (jumlah ini kemungkinan besar berkurang akibat krisis ekonomi yang terjadi). Dari jumlah itu, berapakah yang benar-benar memahami gaya hidup yang mereka tampilkan? Artinya, tahu betul alasan atas pilihan yang mereka ambil, bukan semata karena iklan, kecenderungan, atau hanya “merasa harus memilikinya”. Terus terang kami pun tidak mengetahui persis jawabannya, tapi ada kecurigaan bahwa “anak pembangunan dari ibu industrialisasi” ini seringkali menyukai pilihan-pilihan instan, semua serba cepat diterima, serba cepat pula disingkirkan.

Sekarang India, besok pokemon, lusa pikir-pikir lagi…
Keranjingan gaya, sudah kerap dialami oleh sebagian kelas menengah kita. Mulai dari gaya sensual India sampai gaya kartun Pokemon, semua dilalap dalam sesaat. Memang, itu bukan berarti busana Ghea atau selendang Bin House tidak banyak peminatnya, tapi pernahkah sentuhan tradisional kita diantar oleh bangsa kita sendiri untuk bisa begitu menjadi semonumental Pokemon, misalnya. Orang-orang Jepang begitu bangga dengan Pokemon hingga tidak ragu mencat armada Japan’s All Nippon Airwaysnya dengan karakter tokoh monster mini tersebut. Pokemon telah dipilih dengan sebuah pemahaman (baik di sisi baik dan buruknya). Sementara, kita nampaknya lebih senang membuntuti pilihan-pilihan orang lain.

Informasi adalah kunci unuk membuka pemahaman. Adalah kewajiban media informasi (apapun bentuknya) untuk terus membekali masyarakat agar mengetahui sebab dan akibat dari beragam pilihan yang disodorkan. Untuk itu kami mempunyai rubrik Gaya…informasi alternative untuk memahami pilihan-pilihan terbaru yang dijadikan gaya hidup kelas menengah kita.

Leave a Reply

Close Menu