Tentang Judi

1997_akhir April_Edisi 067_bahas:
Tentang Judi

Dalam cerita Mahabrata, seorang pandawa pun rela menjadikan istrinya yang bermana Drupadi sebagai taruhan, saat berjudi dengan pihak Kurawa. Ini sebuah cerita yang memperlihatkan betapa seseorang yang sudah ketagihan judi, mau melakukan apapun demi permainan ini. Judi merangsang dua sifat dasar yang dimiliki oleh manusia, yaitu keinginan untuk meraih keuntungan dan adanya kenikmatan tersendiri saat menghadapi kondisi yang tidak pasti. Tak heran jika hampir seluruh negara di dunia memiliki peraturan yang cukup ketat di seputar  permainan judi. Tapi untuk menghapusnya…..? mungkin itu hanya impian, karena mungkin keberadaan judi sejalan dengan usia kehidupan manusia di bumi. Bahkan dalam Mahabrata, dunia sendiri dipahami sebagai pemainan judi.

Artefak-Artefak Judi

Para Arkeolog menemukan artefak-artefak yang membuktikan adanya permainan judi di Mesir sejak tahun 3500 sebelum masehi. Lukisan-lukisan di kuburan, atau hiasan-hiasan di peninggalan keramik menunjukkan adanya barang undian bernama Astragali. Juga adanya papan tulis untuk mencatat seluruh hasil permainan judi. Astragali adalah tulang kecil dari pergelangan kaki anjing atau domba. Orang-orang Yunani dan Romawi pun memainkan astragali dan kerap membuat tiruannya dari bahan batu logam yang dibubuhi figure-figur tertentu, Astragali tetap dimainkan oleh suku India Amerika dan Arab.

Artefak lainnya adalah “Lempar Tongkat” yang terbuat dari kayu atau gading. Tongkat ini ditemukan di Yunani, Roma, Inggris kuno, orang-orang Maya dan Mesir.

Juga yang sampai saat ini terkenal adalah permainan dadu. Dadu sudah dikenal jauh sebelum kelahiran Yessu Kristus. Namun permainan ini lebih sering digunakan untuk mengambil undian, sifatnya masih tebak-tebakan. Hanya di tangan Bangsa Arya, dadu tidak sekedar memilih undian, tapi juga permainan yang penuh resiko. Bahkan ada sebuah puisi dari kumpulan himne Vedic yang mengatakan : Kamu penjudi……janganlah bermain dengan dadu, tapi bajaklah tanah itu. Hargailah setinggi milikmu sendiri. lIhatlah ternak dan istri kamu.

Yang termasuk judi !

Di alun-alun kidul Yogyakarya, setiap malam seringkali sekelompok orang membanting taruhannya untuk menebak nomor-nomor mobil yang akan lewat. Dengan kata lain, segala hal bisa dijadikan ajang taruhan.

Yang paling sederhana ialah mata uang logam. Mata uang dilempar dan jika seseorang menebak sisi mata uang yang keluar, maka berhak mandapat taruhannya. Ada pula judi lewat kartu, seperti permainan poker yang memasukkan unsure strategi. Permainan kartu judi yang khas Amerika ialah Black Jack, sedangkan Perancis terkenal dengan Trente et Quarante-nya yang dimainkan di Monte Carto.

Dadu merupakan permainan yang memperhitungkan tingkat kemungkinan sebuah sisi kubus keluar, juga seperti bola didalam putaran roulette. Tidak jarang pula taruhan dalam pertandingan atletik, sepakbola, pacuan kuda. Semuanya adalah kombinasi antara strategi dan keberuntungan.

Sejak abad 17, Casino atau rumah judi telah dikenal di beberapa tempat. Di abad 20, Casino biasanya satu lokasi dengan tempat liburan. Di Amerika Serikat, Casino hanya legal di daerah Nevada dan New Jeresey. Selain Casino, tempat paling terkenal berlokasi di Perancis dan Monano.

Lotre!

Dalam permainan lotre, ada tiket yang dijual dengan harga pas dan kemudian diundi secara random. Pemenangnya akan mendapatkan hadiah-hadiah. Permainan lotre ini pertama kali muncul di Perancis pada tahun 1520. Pada abad 20, lotre merupakan permainan yang membayar pajak terbesar di Amerika dan Eropa. The Irish Hospitals Sweeptakes telah menjalankan lotre setiap tahunnya sejak 1930-1986. Lotre ini berupa tiket untuk menuliskan nama dari kuda-kuda yang masuk ke Grand National Sweeptakes, pacuan kuda Inggris yang terkenal.

Agaknya judi memang akrab dengan kehidupan masyarakat Bali, terbukti dengan adanya lontar khusus untuk pegangan, penjudi, misalnya untuk berebut arah kalau menghadapi arena judi, berdasarkan baik buruknya waktu dan juga berdasarkan “urip” sebuah hari.

Di bali ada 2 jenis budi, yaitu yang sifatnya kolosal, beramai-ramai sehingga pemainnya tidak terbatas seperti sabung ayam dan permainan-permainan lain yang muncul diluar arena sabung ayam. Serta yang bersifat agak pribadi karena pemainnya terbatas dan membutuhkan ketenangan sehingga judi ini diselenggarakan I rumah-rumah atau menemani begadang melayat orang kematian.

Sabung Ayam
Sebelum pemerintah menghapuskan segala bentuk perjudian (1 April 1981), sabungan ayam – dalam bahasa Bali disebut Tajen – diselenggarakan secara resmi di sebuah balai khusus sabungan ayam yang disebut wantilan. Wantilan untuk tajen ini dimiliki hampir setiap desa adat, luasnya sekitar 50 x 50 m, di buat berundak-undak menurun ke tengah, tetapi persis ditengahnya dibuat meninggi lagi sebagai arena perkelahian ayam. Arena itu bentuknya bujur sangkar dengan sisi sepuluh langkah kaki orang dewasa. Ditengah-tengah arena ada lagi bujur sangkar kecil berisi satu langkah, ditandai dengan garis.

Ayam yang siap dengan taji dibawa oleh pakembar menuju salah satu sudut yang diyakini membawa keberuntungan. Langkah awal adalah memperkenalkan kedua ayam kepada petaruh yang mengelilingi arena. Caranya, kedua pakembar membawa ayamnya ke tengah bujur sangkar kecil, dihadap-hadapkan, diadu-adu, tetapi tidak dilepas. Akan kelihatan bagaimana kedua jago itu berdiri tegak dengan leher menjulang dan penjudi mulai menebak mana yang layak dijagokan. Selain perkenalan, pakembar berdiri dan penjudi mulai memasang taruhannya. Kemudian ditandai bunyi kemong dari wasit dimulailah pertarungan yang bisa berlangsung lama karena sama kuat (atau sama lemah), atau dalam keadaan sekarat tak jarang ayam hanya mendekati lawannya, tetapi tidak berlaga. Pada saat itu saya kemong menaruh ceeng dengan belangga yang penuh air. Jika tempurung kelapa itu tenggelam sampai tiga kali tapi ayam tetap juga tidak berlaga maka kemong dipukul. Kedua pakembar mengambil ayamnya masing-masing, kemudian membawanya ke bujur sangkar keci di tengah arena. Dalam posisi berhadapan langsung itu, ayam dilepas setelah dirangsang untuk lebih bringas. Biasanya ayam terangsang lagi, sampai ada yang betul-betul terkapar parah. Ayam dinyatakan kalah jika kedua lututnya menyentuh tanah.

Sering terjadi, ayam itu ngambek, walau sudah berhadapan langsung. Saya kemong menghitung lagi dan jika waktunya tiba si ayam tetap bandel maka kemong dibunyikan dan saya berteriak : pruput ! Pruput sama menenganggkan seperti adu pinalti di sepak bola. Kedua ayam dikurung dalam kuruangan yang terbuat dari anyaman bamboo dan dalam posisi yang bertolak belakang kedua ayam itu dilepas (tetap dalam kurungan) dengan perhitungan yang ketat dari saya kemong. Ayam mana yang mematuk lebih dulu dinyatakan menang, andaikan dalam batas waktu hitungan puput itu lawannya tidak mambalas. Tapi jika dalam batas waktu pruput itu terjadi patuk mematuk, kurungan itu dingkat kembali dan saya berteriak : palu……, artinya status kedua ayam dinyatakan berlaga lagi. Ronde selanjutnya diulang seperti tadi, dilepas dari jarak panjang lalu jarak pendek, dan jika tidak ada yang kalah, kembali pruput. Di ronde pruput ini sering terjadi keajaiban, ayam yang lebih parah tiba-tiba mengambil inisiatif untuk mematuk, dan tentu saja menang jika lawan tidak membalas. Tetapi tidak setiap pruput persoalan selesai, sering juga terjadi kedua ayam tidak saling mematuk, tapi juga tidak runtuh. Maka, hasilnya dinyatakan seri dan kedua ayam diambil pemiliknya, langsung disembelih.

Ayam yang kalah menjadi hak milik ayam yang menang, disebut cundang. Pemilik taji yang ayamnya menang mendapat bagian sepotong paha dari ayam cundang itu. Sedangnya pemilik taji yang ayamnya kalah mendapat betis ayam cudang – mungkin supaya praktis mengembalikan taji ke pemiliknya, tidak usah membuka ikatannya.

Sabungan ayam adalah pesta. Hura-hura yang dinantikan warga desa. Beragam pedagang ditemukan disana : baju, mainan anak-anak dan tentu saja makanan bahkan tukang jual obat juga menggelar dagangannya disana, disertai atraksi sulapnya. Yang pasti, diluar wantilah pasti ada bermacam-macam permainan judi. Jika anda ingin mengetahui perbandingan menang-kalah suatu pertandingan olahraga atau pertanyaan mengenai olahraga, dapat menghubungi Kantor berita Reuters telp: 021-3446494.

Di luar arena sabung ayam adalah kocok-kocok, koles, trui, dan togtog. Judi untuk tingkat pemula disebut kocok-kocok, karena sebelum dimulai dikocok dulu. Kemudian biasanya permainan judi akan meningkat sesuai dengan tingkat usia : keles, trui dan togtog.Yang melawan Bandar. Sedangkan penyelenggara judi dalam keles, trui dan togtog, disebut bolandang yang memungut cukai. Bandar taruhan siapa yang menang taruhan paling banyak dia yang berhak dan ditunjuk menaji Bandar taruhan. Ketiga jenis judi tersebut sama-sama sesuai dengan arah empat angin : utara, barat, selatan dan timur. Nilai 1 yang menang = utara, dua = barat, tiga = selatan dan empat = timur. Jadi lima dan Sembilan yang menang utara, enam dan sepuluh barat dan seterusnya. Kalau yang menang bidang barat, pemasang dibidang selatan draw. Petaruh yang menang dibarat dibayar lebih dahulu dari uang petaruh yang kalah ditimur. Kalau pembayarannya kurang barulah bayarnya sampai sebatas yang diperjanjikan sebelumnya. Dengan demikian Bandar kalah, dan untuk putaran selanjutnya kedudukan Bandar adalah pada alat yang dipakai, yaitu :

Trui
Hampir sama dengan keles tapi alatnya menggunakan bola bundar putih dari sejenis batu-batuan yang lebih kecil dari telur ayam. Pada dua ujungnya yang lonjong ditaruh angka kecil satu dan dua dengan menggunakan lambang seperti mata dadu atau domino. Kemudian disisi lain adalah lambang bilangan tiga sampai enam.Dua bola trui itu oleh Bandar taruhan diputar disebuah piring khusus, bersih, mengkilat dan sangat rata. Dalam permainan keles, penjudi memasang setelah Bandar mengambil uang kepeng, tetapi main truli kebalikannya. Penjudi memasang terlebih dahulu pada bidang-bidang yang tersedia. Setelah usai, belandang memberi perintah kepada Bandar taruhan untuk melepas kedua bola trui kepiring. Cara mutarnya terserah Bandar, tetapi bila bola trui itu sampai keluar untuk kedua kalinya (satu kali masih dapat ampun) maka Bandar didenda atau istilahnya kena gebog  modal dasar Bandar diambil paksa dan dibagikan kepada pemasang dengan urutan yang terbanyak bertaruh. Saat terakhir bergulirnya kedua bola, petaruh biasanya memberikan semangat dengan menggoyangkan badannya kesamping atau kebelakang. Tidak boleh kearah depan/piring karena bisa menimbulkan angin dan mempengaruhi gerak bola. Setelah berhenti belandang mencolek piring pertanda angka paling atas dari kedua bola trui itu sah untuk kemenangan. Dua angka itu digabung sebagai penentu pemenangnya.

Togtog
Menggunakan uang kepeng sebanyak 16 keping dan sepotong kayu sebagai alas tangan untuk menangkap uang tersebut. Bandar memegang uang itu ditangan kanan, tangan kiri siap menangkap uang yang dilempar tangan kanan. Menangkapanya dengan telapak tangan bertumpu ke kayu itu, seperti menepuk nyamuk dilantai. Petaruh mebak bunyi uang yang ditangkap Bandar, karena tidak mungkin bisa melihat uang yang ditangkap itu, karena prosesnya terlalu cepat. Bedanya dengan keles atau trui, petaruh saling mendahului melempar uang taruhannya pada bidang-bidang taruhan. Yang paling cepat menebak dan memasang uangnya, berarti uangnya berada dideretan terdepan. Nantinya paling awal pula dilayani, baik menang amupun kalah walau jumlahnya kecil. Setelah semua petaruh memasang, dengan urutan siapa paling cepat, belandang memberi isyarat kepada Bandar apakah uang kepeng di bawah telapak tangan kiri itu ditambah lagi atau tidak.

Jenis-jenis judi diatas adalah judian yang muncul dikeramaian, sedangkan judi yang lebih bersifat pribadi karena pemainnnya terbatas adalah ceki dan domino – ini judi kelas rumah.

Ceki
Dimainkan oleh lima orang karena itu ada istilah “judi pancasila”. Menggunakan kartu cina juga berjumlah seratus dua puluh. Semuanya punya nama. Setiap jenis berjumlah empat, jadi dari keseluruhan dari kartu itu ada tiga puluh macam. Tiga puluh ini terbagi lagi menjadi sepuluh persekutuan.

Domino
Main domino di Bali menggunakan kartu lima di tangan dan satu kartu diletakkan sebagai pembuka, tidak diturunkan oleh pemain, seperti umumnya main gaple di Jawa. Dengan demikian ada kartu sisa yang tidak dipakai, karena pemain domino haya empat orang. Kalau seorang pemain tidak bisa memainkan kartunya, ia harus mematikan sebuah kartunya dan menaruh dibawah. Jadi selain menebak kartu lawan, penjudi domino versi Bali juga harus bisa menebak kartu apa yang tidak main.Mengocok domino di Bali tidak boleh lebih dari dua kali. Kartu itu cukup dikacau di bawah, kemudian setelah terkumpul dikocok sekali saja lebih dari sekali, apabila berkali berkali-kali dianggap tidak sah dan curang karena bisa mengatur letak kartu-kartu itu. Memang penjudi domino di Bali cerdik sekali memainkan kartu yang hanya 28 buah itu, kalau boleh dikosok lebih dari sekali. Beda dengan di Jawa, kartu main dikocok berkali-kali untuk menghindari tuduhan curang.

Sejak 1 April 1981 keadaan sudah banyak berubah, tajen tetap dilakukan tetapi tidak mudah diketahui karena tempatnya sengaja dipindah-pindah, biasanya ditegalan kosong, ditengah perkebunan atau perkuburan desa. Wasitnya pun tidak lagi selengkap dulu. Walaupun ada juga sabung ayam yang resmi diadakan dengan ijin pemerintah, tapi dilaksanakan tanpa taruhan, tanpa hukum-hukum layaknya seperti sabung ayam. Ini adalah jenis sabung ayam yang berkaitan dengan upacara keagamaan, yang disebut tabuh rah.

Sumber:
– Colliers encyclopedia Vol. 10, 1993, New York
– Encyclopedia Britanica Vol.7 1979

Leave a Reply

Close Menu