tentang infomasi

2000_Juli_Edisi 114_informasi :
tentang infomasi

Kalau penyebaran informasi yang kami pilih untuk bisa menjadikan [aikon!] ada dan berarti, itu karena kami dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak mudah di tanah air kita ini untuk mendapatkan informasi. Informasi jalan raya kadang dibuat begitu sulit dibaca dan dimengerti. Kebun binatang lebih banyak memberikan kesempatan rekreasi murah dari pada menjalankan fungsinya sebagai sarana edukasi (karena hampir tertutup kemungkinan kesempatan bagi kita untuk mendapat informasi memadai mengenai kehidupan satwa yang kita lihat). Bagian informasi di isntansi pemerintah sepertinya lebih senang membuat aturan berbelit tentang peminjaman dari pada menambah jumlah koleksi mereka (dapat dipastikan setiap orang dari kita pernah kecewa akan layanan informasi di negara ini.

Jangan salahkan tradisi lisan yang hanya menyisakan ruang komunikasi bagi 8 aksara tradisi dalam khasanah berbahasa di Nusantara ini. Kondisi itu seharusnya bukan jadi penyebab suatu kemiskinan informasi (orang malas menulis karena orang malas membaca). Karena ketika tulisan pun mulai menjadi sumber informasi, begitu lama kita masih harus berhadapan dengan monopoli makna-makna yang dilakukan penguasa. Informasi menjadi sesuatu yang seragam, dimiliki dan digunakan untuk kepentingan golongan tertentu. Hasilnya, tidak banyak pula informasi yang benar-benar berguna untuk kita.

Berbicara informasi di negara ini sering kali membuat kita menghela nafas. Bagaimana tidak, bila kita percaya bahwa informasi adalah kunci untuk membuka jendela-jendela pemahaman tentang banyak hal, kemiskinan informasi pastinya bisa dianalogikan dengan pengasingan kita di tempurung tertutup. Akibatnya, kegelapan telah melahirkan banyak rasa curiga, gelisah, bahkan marah pada hal-hal yang seharusnya begitu dekat dengan kita. Kegelapan telah menutup pemahaman karena tidak menyisakan kesempatan untuk sebuah perkenalan.

Informasi di Era Baru
Ketika katup-katup belenggu penyebaran informasi semakin terkikis (terimakasih) kepada Tim Berners Lee, yang melahirkan program World Wide Web di sebuah laboratorium fisika di Swiss, yang memungkinkan informasi saling dipertukarkan dengan cara yang mudah, cepat, dan tanpa hambatan jarak), masih saja negara kita dihadapkan pada banyak hambatan. Kemiskinan adalah salah satunya. Dengan penduduk lebih dari 200 juta jiwa, berdasarkan survey yang dilakukan oleh MARS, jumlah pengguna internet di Indonesia hingga tahun 1999 hanya 320.000 orang saja. Bahkan untuk sumber informasi yang lebih murah, surat kabar misalnya, hanya 1 dari 42 orang yang mampu untuk memperolehnya. Dan keadaan ini diperburuk oleh melambungnya biaya produksi surat kabar akibat krisis ekonomi (bisa jadi perbandingannya adalah satu surat kabar). Untuk 175 orang! Sungguh tak terperi sulitnya bangsa ini untuk memperoleh pencerdasan. Sementara orang di belahan negara-negara yang “beruntung” sudah sangat kewalahan menahan banjir informasi, kita masih harus bekerja keras dan bekerjasama untuk menghadirkan informasi bagi setiap warga secara adil dan merata.
Untungnya perjuangan untuk mengambil memenuhi hak masyarakat atas informasi sudah mulai menyeruak ke permukaan. Marzuki Darusman menandaskan bahwa pada dasarnya masyarakat mempunyai hak untuk memperoleh informasi. Itu adalah prinsip awalnya. Tapi, yang terpenting, menurut mantan ketua Komnas HAM ini, adalah tersedianya kondisi agar benar-benar hak tersebut dipenuhi. Karena bila informasi diperoleh masyarakat semata-mata atas dasar haknya, tanpa diciptakan struktur arus maupun akses masyarakat yang efektif, maka informasi tidak akan dapat memenuhi standar yang dibutuhkan.

Kemauan dan Kerja Keras untuk Penyebaran Informasi
Kalau kita percaya pada kekuatan terburuk dari mandeknya informasi bagi masyarakat pasti dapat kita atasi. Seorang teman di Desa Kandangan, Temanggung, Jawa Timur, tidak merasa harus berstrategi ini itu atau menabung uang banyak-banyak untuk menerbitkan Entho Cotot.

Lembar informasi mingguan yang katanya bisa bikin gemuk pikiran warga sedesanya.
Dengan bantuan teknologi Xerox (baca: foto kopi), Kecintaan sang istri untuk membantunya menulis, dan kerja keras (karena sebagai sarjana desain produk, dia merasa dengan cara yang paling menarik minat baca warga desa), kehadiran Entho Cotot di Kandangan sudah menginjak usia lebih dari setahun. Setiap pekan, warga desa disuguhi “cemilan” informasi tentang banyak hal di sekitar mereka. Peminat community paper ini semakin banyak saja, mulai dari pedagang sampai camat. Laki-laki dan perempuan. Melalui media sederhana ini mereka belajar memahami apa yang sudah, sedang dan akan terjadi pada Desa Kandangan. Kadang mereka ditarik begitu tinggi hingga Kandangan hanya terlihat seperti noktah atau bahkan tak terlihat dalam bulatan bumi yang memiliki banyak ragam masalah. Kadang mereka ditenggelamkan begitu dalam ke perut kehidupan Kandangan hingga mereka dapat mendengar irama setiap detak jantung.
Waktunya sudah tiba untuk kita bangun dan bekerja keras. Kita tentu tidak bisa selalu menyalahkan keadaan yang memurukkan kita dari ketidakcukupan informasi. Masih besar hutang yang harus dibayar untuk turut menuai kehidupan yang lebih baik.

Tentang informasi yang membuka pikiran
?: ”Apa sebabnya keterbukaan berpikir menjadi sangat penting?”
!: “Kita memasuki era dimana keragaman adalah sebuah kondisi yang sangat berharga (yaitu ketika setiap bagaian/pihak/hal yang berbeda saling melengkapi). Karenanya kita pun menjadi akrab dengan istilah-istilah seperti spesialisasi, system ban berjalan, ekosistem, dan sebagainya.

Tapi, di sisi lain, kita pun dihadapkan pada kenyataan bahwa keragaman pun sering menjadi sebab dari perpecahan atau ketidakseimbangan (yaitu ketika suatu masyarakat tidak mampu lagi menanggapi pluralism, tidak mau memahami relativitas, tidak menghiraukan pentingnya perbedaan unsur dalam sebuah rantai kehidupan). Karenanya muncul istilah stereotype, disintegrasi, ketidakseimbangan alam dan sebagainya.

Satu sikap yang mungkin dapat menggali potensi keragaman menjadi sebuah kekuatan besar adalah yang dianggap berbeda (dengan kita). Dan pemahaman yang lebih baik hanya dapat dicapai dengan cara membuka seluruh jendela pikiran kita, sehingga akan ada banyak sisi yang kita pahami dari apa yang kita lihat, kita kecap, kita cium, dan kita raba. Kita harus percaya, pemahaman yang baik akan melahirkan sebuah sikap bijak.”

?: “Apa yang harus dilakukan?”
!: “Satu hal yang paling penting dari setiap informasi yang disampaikan oleh [aikon!] adalah “memperlihatkan (untuk kemudian dapat dirasakan oleh pembaca) semangat untuk berpikiran terbuka. Artinya, setiap informasi harus dikemas untuk dapat memperlihatkan keragaman sisi dari kehidupan di sekitar kita dan memberi rangsangan untuk selalu membuka wawasan yang lebih luas.”

Penyakit Informasi
Manusia menemukan bahasa sebagai alat komunikasi pada 34.000 SM, 22.000 SM nenek moyang kita mulai melukis di gua-gua. 18.000 tahun sesudahnya orang Semeria menemukan tulisan. Sepuluh abad kemudian Gutenberg menemukan mesin cetak. Sejak itulah perkembagan teknologi informasi dan komunikasi melaju pesat.

Masalah baru pun muncul, kecepatan teknologi ternyata bisa mengakibatkan satu informasi tidak bisa lagi direnungi secara dalam, karena hanya dalam hitungan detik ia sudah menjadi usang dengan adanya informasi terbaru. Informasi yang sebenarnya dipergunakan oleh suatu masyarakat untuk saling mengenal dan menjaga agar tatanan masyarakat tidak menyimpang, justru seringkali memunculkan kebingungan dan sikap pesimis terhadap sebuah kebenaran informasi. Dalam buku psikologi komunikasi dijelaskan bahwa realitas yang ditampilkan media adalah realitas tangan kedua (second hand reality) atau realitas semu yang mengahasilkan duani seolah-olah. Seringkali simpang siur informasi itu bekerja dengan cara simulasi seperti yang diistilahkan oleh Jean Baudrilland. Dalam praktek simulasi, informasi seakan-akan menyajikan realitas yang nyata, namun sebenarnya ia tidak menghadirkan kenyataan yang sesungguhnya. Teknik pemberitaan mengaharuskan adanya scenario terlebih dahulu, sehingga informasi yang dihadirkan pada publik harus sesuai dengan scenario semula, bukan berdasarkan kenyataan sebagaimana adanya. Di Yogyakarta, kecenderungan ini langsung disikapi oleh sekelompok kecil pemerhati masalah social dan budaya dengan meperkenalkan pengetahuan teknik membaca teks, yang megingatkan untuk tidak begitu saja menelan informasi, tapi juga jeli terhadap maksud dan keberpihakan media massa yang menyajikannya.

Teknologi informasi telah mengantar kita pada banyak pemenuhan kebutuhan. Tapi teknologi informasi pula yang sering menjauhkan kita dengan realitas sesungguhnya. Jangan heran bila impresi yang dibangun oleh informasi bertubi-tubi sanggup menjadikan seorang anak membunuh teman sepermainan, yang “dilihatnya” sebagai tokoh musuh dalam permainan komputer.

Informasi telah berlari begitu cepat dan menjadikan banyak hal menjadi sepele. Kita menjadi tergopoh-gopoh untuk memahami realitas di tengah dunia yang semakin semu. Ibaratnya, kita diperkenalkan kepada sepatu, tapi tidak diberi kesempatan untuk memahaminya. Pemahaman dianggap terlalu memakan waktu. Pada kondisi seperti ini, bukanlah informasi malah bisa disebut sebagai penyakit yang dapat mempersempit wawasan?

Leave a Reply

Close Menu