tentang daur ulang

2000_Juli_Edisi 114_recycle :
tentang daur ulang

Seribu tahun yang lalu, planet bumi kita hanya dihuni oleh 250 juta jiwa. Seribu tahun kemudian, jumlah itu hampir sama dengan jumlah penduduk Indonesia yang luasnya hanya 1,5 persen luas bumi. Sementara itu, penduduk bumi sudah bertambah 24 kali lipat, menjadi 6 milyar jiwa. Jumlah penduduk yang begitu banyak tentunya bisa menjadi ancaman serius bagi daya dukung alam (tidak heran bila ada stiker di mobil yang berbunyi “Save the Planet…Kill Yourself!). Lalu apa jadinya bila jumlah manusia sebanyak itu masih pula membebani alam dengan segala sampahnya?

Seperti sudah menjadi takdir, manusia tidak pernah tidak menyampah. Itu sebabnya para ahli ilmu social jauh hari telah mengembangkan metode untuk menganalisa sampah dalam rangka mengetahui gaya hidup atau perialaku masyarakat. Dengan segala kegiatan unutk memenuhi kebutuhannya, paling tidak setiap orang akan menyampah sebanyak 2,1 kg setiap harinya. Artinya akan ada 26,320 ton tumpukan sampah yang dihasilkan hanya oleh warga DKI Jakarta sehari! (tak terbayangkan bila harus menghitung dalam skala negara dan dunia).

Dalam kasus di kawasan DKI Jakarta, kertas adalah sampah non-organik yang menduduki peringkat kedua terbanyak setelah plastik dengan jumlah mencapai 10,11% atau sama dengan 2660 ton per hari. Ironisnya, pada saat krisis ekonomi melanda negeri ini, kita masih harus pula mendatangkan 90% bahan baku kertas Koran dari luar negeri, termasuk kertas bekas! Pulp serat panjang dan kertas Koran bekas merupakan bahan baku utama pembuatan kertas Koran. Namun, karena “budaya daur ulang” belum kuat tertanam di masyarakat, dari kertas Koran yang diproduksi sebanyak 15.000 ton/bulannya, hanya 20% yang kembali ke pabrik kertas untuk didaur ulang. Sisanya menjadi sampah yang menyengsarakan alam. Akibatnya, industry penerbitan pun terancam gulung tikar, padahal, pada saat masyarakat tidak lagi dapat memperoleh informasi yang disampaikan melalui Koran-koran, kita pun dihadapkan pada ancaman matinya kultur dan choos pendapat (meminjam istilah Dr. Sindhunata, Wakil Pemimpin Majalah Basis).

Kegunaan memanfaatkan kembali kertas bekas tidak semata dapat dihitung dari besarnya rupiah yang dapat dihemat. Bila kita bisa mendaur ulang 1 ton saja kertas bekas, maka kita telah menghemat sekitar 17 batang pohon. Dan sepertinya kita memang harus sudah memulai gerakan penghematan pohon ini, diperkirakan pada tahun 2001, dunia akan membutuhkan bahan baku kertas (pulp) sekitar 200 juta ton per tahun (Indonesia menyumbang sekitar 12% di antaranya) dan untuk itu dibutuhkan 400 juta ton bahan baku kayu yang didapat dari pembabatan areal seluas 4 juta hektar!
Tidak perlu menjadi ahli metematika untuk mengerti jumlah-jumlah ini, karena angka menjurus hanya pada satu hasil, yang hutan bumi ini semakin terancam punah. Karena itu, tidak pula terlalu berlebihan bila sejak kelahirannya di tahun 1994, [aikon!] tetap “berkampanye” untuk menggunakan kertas daur ulang lokal (Samson kraft dan duplikator) meskipun banyak kendala harus dihadapi, termasuk membiasakan percetakan untuk mau mencetak di atas kertas yang begitu tinggi daya serapnya dan kadang masih menyimpan pasir-pasir halus. Tapi kerja keras selalu ada hasilnya, betapapun kecilnya. Sejak tahun 1996, Samson kraft (kertas coklat yang biasanya hanya digunakan untuk membungkus) jadi kegemaran masyarakat. Dan yang penting mulai tumbuh “demam” produk daur ulang, dimulai dari kertas daur ulang.

Tentang program Pagi (Pakai Lagi)
Program daur ulang tidak akan mungkin berhasil dengan baik tanpa didahului kebiasaan memilah sampah (yang paling sederhana adalah memilah sampah organik dan non-organik). Tapi ketika msyarakat sudah mulai mau melakukan pilah sampah, masalah baru muncul, yaitu belum adanya manajemen pengelolaan sampah secara terpilah. Akibatnya, setelah mereka “berjuang” memilah, petugas keberhasilan dengan gampang mencampurkannya kembali dalam gerobak atau truck sampah.

Berusaha untuk memberi kemudahan kepada masyarakat untyk melakukan pilah sampah. Sejak tahun 1996 [aikon!] melansir program PAGI (pakai lagi, yaitu menampung kertas-kertas bekas yang dikirim oleh perorangan maupun lembaga. Hingga bulan Mei 2000 telah terkumpul lebih dari 19,612 kg kertas bekas, yang hasil penjualannnya digunakan kembali untuk memberi bantuan publikasi seputar kegiatan daur ulang, baik yang dilaksanakan oleh [aikon!] sendiri maupun oleh lembaga lain.

29 Juni 1997, program PAGI menggelar acara minggu kertas di pelataran parkir Gedung Kesenian Jakarta. Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama dengan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup RI dan Gedung Kesenian Jakarta untuk mengajak masyarakta mengumpulkan, memilah dan membawa kertas bekas mereka ke pelataran parkir Gedung Kesenian Jakarta. Melalui Minggu Kertas tidak saja memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk dapat berpartisipasi secara langsung dalam program daur-ulang, tapi juga memberikan pemahaman baru bahwa kertas bekas pun mempunyai harga. Karena itu, hasil dari penjualan kertas bekas yang terkumpul pada Koperasi Peduli sebesar Rp. 1,948,189,5,- diserahkan sebagai sumbangan masyarakat untuk penyelenggaraan Festival Internasional Gedung Kesenian Jakarta 97 (September-Oktober 1997).

Kegiatan yang dimeriahkan dengan peragaan pembuatan kertas daur ulang, bazaar, quiz, dan panggung hiburan ini dikunjungi oleh sekitar 2.500 pengunjung dan berhasil mengajak 11 perusahaan, 5 fakultas, 2 SMU dan 55 perorangan untuk mengumpulkan 18,530,7 kg kertas bekas. Para pengumpul kertas terbanyak pada saat itu adalah: Nike Inc (6.785 kg) untuk kategori perusahaan, Atmaja (2.553 kg) untuk kategori Universitas/Fakultas, SMU St Ursula (873 kg) unutk kategori SMU, Yuri (294 kg) untuk kategori perorangan.

Leave a Reply

Close Menu