tentang cuma-cuma

2000_Juli_Edisi 114_cuma-cuma :
tentang cuma-cuma

Sekarang lain. Mereka yang kaya maunya memerintah dan menjaga agar tangan dan kakinya bersih dari lumpur. Mereka mengingat apa saja yang pernah mereka berikan pada orang lain dan apa saja yang mereka terima…Segala sesuatu diperhitungkan dan dimiliki.” (Seorang petani Tosar, 1985)

Begitu keluh seorang petani kepada Robert W. Hefner, peneliti asal Columbus, Ohio, Amerika Serikat, yang tertarik pada perubahan di sekitar kawasan Pegunungan Tengger, Jawa Timur. Nampaknya menyalahkan perubahan sosial atas hilangnya ketulusan dalam sebuah pemberian sudah jadi gambaran umum yang berlaku dimana-mana. Setiap pemberian dikalkulasikan untung dan ruginya.

Tapi, apakah memang pernah ada pemberian tanpa mengharapkan imbalan? Bukankah para ahli antropologi sudah sejak lama menjadikan kegiatan memberi dan membalas pemberian sebagai landasan untuk menggambarkan bangun masyarakat di kawasan Pasifik sana? Bukankah orang tua sekalipun seringkali mengharapkan kepatuhan dari sang anak setelah memberi sebatang es krim?

Selalu ada imbalan
Marcel Mauss, tokoh utama sosiologi Perancis, sangat yakin bahwa tidak ada pemberian yang Cuma-Cuma. Suatu pemberian akan selalu dibarengi dengan pemberian kembali atau imbalan. Artinya, pemberiam tidak ubahnya adalah sebuah proses tukar menukar. Kelihatannya saja sebuah pemberian dilakukan secara suka rela, tanpa paksaan, tanpa pamrih, dan spontan, tapi nyatanya pemberian bersifat mewajibkan dan disertai pamrih (jadi sudah sangat tepat, bila negara kita melarang para pejabatnya untuk menerima hadiah dengan alasan apapun). Diibaratkan siang dan malam, pria dan perempuan, tinggi dan rendah, maka setiap pemberian akan disandingkan dengan imbalan, sekecil apapun bentuknya. Keadaan inilah yang memungkinkan sebuah sitem social berjalan.

Dengan fitrahnya yang selalu menyatakan imbalan, tidak mudah bagi kita untuk menumbuhkan kata cuma-Cuma di belakang sebuah pemberian. Itu pula yang dialami [aikon!] sepanjang enam tahun usianya. Sebagai media informasi budaya yang bisa didapatkan secara cuma-cuma, keberadaannya sering dipertanyakan. Tidak jarang muncul saran untuk menjual [aikon!] walau hanya dengan beberapa ratus rupiah saja. Landasan pemikirannya cukup seragam, bahwa cuma-cuma hanya akan menjadikan pemberian kita sering kali tidak disadari artinya. Seperti halnya oksigen. Semua membutuhkan oksigen. Tapi, tidak jarang kita lupa untuk memberi imbalan kepada pemberinya. Nah, seperti juga nasib oksigen, informasi cuma-cuam seringkali tidak didasari keberadaannya karena tidak disadari keberadaannya karena tidak ada sensasi untuk mendapatkannya.

Ketika orang sibuk berargumen tentang kemustahilan sebuah pemberian yang cuma-cuma, kamipun sibuk membenahi diri untuk menjadi lebih berarti. Tidak betah juga bila selalu dianggap penganut potlatch seperti hal suku-suku Indian Rocky Mountain yang kerap mengumbar harta di sepanjang musim dingin hanya unutk memamerkan status sosial mereka. Cuma-cuma menurut versi [aikon!] sepertinya sangat jauh dari keinginan seperti itu.

Dukungan adalah imbalannya
Tidak mudah memang untuk menggambarkannya, tapi mungkin tidak teralalu sulit untuk mengerti bahwa pemberian cuma-cuma adalah alat kami membuka kesempatan untuk memperluas wawasan, menjelajahi berbagai ruang kehidupan, yang pada akhirnya dapat membuahkan pemahaman untuk menghargai berbagai perbedaan dan persamaan, berbagai maslah dan jalan keluar, berbagai bentuk dan fungsi. Tentunya, bukan suatu yang berlebihan bila kami merasa harus “turut ambil bagian” dalam perjuangan “bermasyarakat”, sekecil apaupun andilnya.

Dan karena setiap pemberian selalu menurut adanya imbalan, hukum inipun berlaku bagi [aikon!]. Bila harus berkata lugas, dukungan adalah imbalan yang menjadi kekuatan kami selama ini. Tanpa dukungan banyak pihak, pemberian kami akan semakin tidak memadai untuk mengimbangi dinamika masyarakat yang semakin cepat, semakin beragam, dan semakin meluas.

Waktu enam tahun bukanlah sebuah potlatdch. Hitungan tahun ini bergulir bersamaan dengan keprihatinan dan pehaman terhadap apa yang ada di sekitar kita. Semoga selalu ada kebersamaan untuk mengupayakan kehidupan bermasyarkat yang lebih baik.

Bagaimana menyeimbangkan profit dan prinsip?
Seorang Anita Roddick yang berhasil dengan The Body Shop adalah fenomena pengusaha era baru. Ia begitu menyadari bahwa masyarakat dan lingkungannya adalah sebuah kesatuan yang harus diperlihara secara berkesinambungan. Tidak perlu takut dengan besar “biaya pemeliharaan” yang harus dikeluarkan, karena pada akhirnya semua itikad baik itu akan mendatangkan hasil yang baik pula. Dengan semangat itu, dari tangannya lahir gerakan minimal packaging, testing, dan banyak lagi, yang sering kali Nampak tidak berhubungan langsung dengan produk perawatan wajah dan tubuh yang dijualnya. Ada banyak kecurigaan terhadap wanita ini, tapi ia terus berjalan di rute yang sangat diyakininya.
Sepuluh tahun lalu, pendirian wanita Inggris ini banyak dipertanyakan kebenarannya. Namun sekarang (mudah-mudahan bukan karena kepentingan pemasaran), banyak perusahaan yang rela memasang iklan berturut-turut di majalah-majalah terkenal (contohnya serial iklan Shell di Times) hanya untuk menyerukan bahwa mereka sangat peduli terhadap lingkungan sosial dan alam di sekitar mereka. Bahasa yang dipakai sangat indah, seperti exploit or explore? Profit and Principles: Is there a choice?

Memberi kembali setelah mendapat keuntungan dari alam dan masyarakat, sebenarnya bukan hal yang baru, paling tidak bila kita melihat pada ajaran agama. Selalu disarankan, bila tidak diwajibkan, untuk menyisihkan sebagian harta guna membantu memperbaiki kualitas hidup sekitar. Kegiatan yang digolongkan pada ibadah ini tentunya bukan untuk gagah-gagahan. Ajaran islam bahkan punya istilah untuk itu, riya’ (member untuk diketahui dan dipuji). Dan riya hanya akan menjadikan ibadah kita tidak berarti dimata Tuhan. Lucunya, kecenderunan bisnis bertolak belakang dengan ajaran tersebut. Siarkan seluas luass mungkin segala bentuk pemberianmu, termasuk yang masih berupa niat. Citra yang baik akan mendatangkan keuntungan yang…hmmm, mungkin lebih banyak dari biaya yang dikeluarkan untuk segala derma itu. Maka berlomba-lombalah orang berbuat baik dan membuat pengumumannya.

Tentu saja tidak semua pemberi itu menjalankan praktek “ada udang di balik batu”. Banyak pula yang memang didasari pemahaman yang baik tentang perlunya keseimbangan dalam segala hal. Biasanya, mereka inilah yang akhirnya terpancing untuk menjadi repot membuat bantahan atas tuduhan ketidaktulusan pemberian yang mereka lakukan. Maka berlomba-lombalah mereka membantah dan membuat pengumumannya.

Nyatanya, kepentingan bisnis telah menjadikan pemberian tidak beda dnegan sebuah produk atau jasa. Ia membutuhkan strategi pemasaran yang jitu. Tanpa itu, pemberian hanya akan menimbulkan tanda tanya besar dan terus dipermasalahkan. Pemberian akhirnya jadi sesuatu yang merepotkan. Sungguh kami sering merasa lelah mengulang-ulang jawaban bahwa [aikon!] adalah pemberian kembali dari kami kepada masyarakat, yang telah turut memberikan kerja professional kami di bidang rancang grafis dan program kegiatan.

Untuk itu kami berterima kasih kepada; Yayasan KEHATI, The British Council, The Japan Foundation, Yayasan Gedung Arsip Jakarta, The World Satwaliar Indonesia, Arsitek Muda Indonesia, Limusmanunggal, Aqua, Motorola, Arco, Philips, Bursa Efek Jakarta, evia, The Body Shop, Pandor Restaurant, Kafe latte, Decorous, Mega Klin, radio Female, Pepsi, TCL, VIT, Galeri Puzzle, Arsip Nasional RI, Galeri Mitra Hadiprana, Widayanto Citra Tembikarindo, Eksotika karmawibhangga Indonesia, WWF-Indonesia, Experd dan masih banyak lagi pihak yang telah memberikan kemungkinan kepada kami untuk dapat memberi hingga saat ini. Penghargaan kepada mereka tidak pernah lekang di diri kami.

Leave a Reply

Close Menu