tentang budaya

2000_Juli_Edisi 114_budaya :
tentang budaya

Pemahaman yang sempit tentang makna kebudayaan sering kali menjebak kita pada penilaian-penilaian yang picik. Ketika dipandang semata sebagai karya, kebudayaan lantas diasosiasikan sebagai tari-tarian, nyanyian, atau rumah-rumah tradisional. Dalam cara pandang seperti ini (dan ternyata cara pandang seperti inilah yang paling umum di tengah masyarakat kita), mepelajari budaya selalu diartikan sebagai upaya mempelajari suatu “yang lawas”, “yang tradisional”, dan “yang sensasional”. Perjalanan mempelajari budaya dianggap serupa dan itu tentu bukan pilihan yang tepat di masa penuh kompetisi dan menuntut kecepatan seperti saat ini. Kebudayaan menjadi terlihat tidak menarik dan tidak produktif untuk dijadikan bekal memecahkan masalah dalam masyarakat. Padahal, begitu sering kita melihat banyak gesekan, ketidakpuasan, keterasingan, bahkan bentrokan yang dipicu oleh minimnya pemahaman pada keragaman budaya di negeri ini.

Keengganan untuk menggunakan pendekatan kebudayaan dalam terminology yang benar, telah melahirkan banyak stereotip dan kesalahpahaman dalam interaksi antar kelompok etnik. Berkenalan dengan Orang Batak selalu didasari pemikiran bahwa mereka adalah orang-orang yang kasar. Bergaul dengan Orang Cina selalu dihantui rasa was-was dan dikhianati. Kehidupan bermasyarakat seperti apa yang akan dibangun di atas prasangka seperti itu?
Definisikan kebudayaan sebagai system nilai tindakan, dan hasil karya manusia dalam kerangka masyarakat, yang memungkinannya beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Mengenal kebudayaan tidak semata mengenal benda-benda, tapi juga mengenal bagaimana memandang dunia dan menciptakan aturan-aturan untuk bertindak.
Ada sebuah teori yang memungkinkan kita untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap gejala-gejala yang terjadi dalam masyarakat, yaitu relativisme kebudayaan di mana masing-maisng kebudayaan dianggap bersifat unik, karena itu hanya dapat dinilai berdasarkan nilai-nilai yang berlaku dalam kebudayaan tersebut. Dengan kata lain, sangat tidak adil bila kita menilai perilaku Orang Dani, dengan ukuran Orang Jawa, misalnya.
Percaya kepada relativisme kebudayaan akan menghindarkan kita dari etnosentrisme, tendensi untuk menganggap kebudayaan sendiri lebih baik dari yang lain. Tidak akan ada lagi pertanyaan tentang “kebudayaan mana yang paling baik?”, Keragaman budaya pun akan dipahami dalam kesetaraan.
Karena kebudayaan dapat mengantarkan kita pada pemahaman yang lebih baik, segala unsurnya menjadi penting untuk diuraikan … dan [aikon!] memilih cara ini.

Melalui rubrik Jelajah, milikita dan revital
Proses menyusuri unsur-unsur kebudayaan membawa kami pada banyak hal, besar-kecil, menonjol-terpencil, agung-paria, penting-sepele. Catatan tentang perkenalan yang terjadi di sepanjang proses tersebut berlangsung kami urai dalam tiga rubrik bertajuk; Jelajah, Milikita, dan Revital.
Kesan-kesan baru yang dipancarkan oleh sebuah kawasan, seperti kampong di lingkungan jalan layang atau rumah yang menjadikan puisi cinta Rendra, sering lahir dari keingintahuan atau keridak sengajaan. Melalui rubrik Jelajah, ada ajakan untuk melihat dan berkenalan dengan sebuah kawasan dan kehidupannya, agar tersedia banyak arah untuk memahami ruang-ruang yang ada di sekitar kita.

Ada banyak hal besar kita miliki namun sering luput dari perhatian. Manipulasi sejarah, ketidakpedulian, kurangnya informasi, telah terbukti jadi beberapa penyebab dari hilangnya pengakuan terhadap banyak karya, pencapaian, dan potensi besar. Bahkan, sering menjadi penyebab dari hal yang lebih terburuk, yaitu penutupan fakta yag berbuntut kesalahpahaman. Penyingkiran karya sastra Melayu Tionghoa dari konteks sastra Indonesia bisa dijadikan salah satu contohnya. Padahal dari banyak karya yang tercipta, ada banyak bukti tentang hubungan harmonis yang kerap terjalin dengan kelompok minoritas tersebut. Dalam gambaran dan kesadaran seperti itulah rubrik Milikita ditampilkan.
Melakukan “pemberdayaan kembali” hasil-hasil budaya yang pernah begitu berarti di waktu silam ternyata tidak semata diartikan sebagai upaya memulihkan pemandangan, tapi juga memulihkan kesinambungan sejarah, Ada banyak hal menarik muncul kepermukaan pada saat rekonstruksi sejarah dilakukan, mulai dari rasa bangga hingga rasa malu, Rubrik Revital mengulas upaya banyak pihak yang merasa terpanggil untuk memugar dan menghidupkan kembali apa yang pernah menjadi milik masyarakat.

Leave a Reply

Close Menu