tentang alas duduk bernama kursi

1997_awal September_Edisi 076_bahas:
tentang alas duduk bernama kursi

Saking terbiasanya kita pada kehadiran alas duduk ini, kursi jarang jadi persoalan selain di kalangan para perancang. Padahal,menyusuri jejak kursi ke masa silam, akan mengajak kita mengenalnya sebagai produk budaya, yang lahir tidak saja dari tata cara duduk berbagai masyarakat tapi juga kondisi sosial politik sebuah negara.

Memang, kita mengenal beberapa masyarakat yang tidak membutuhkan kursi, misalnya suku nomad Bedouin dari Timur Tengah, yang cukup menggunakan bantal atau pemadani sebagai alas duduk. Bahkan , kebanyakan suku bangsa di Indonesia pun hanya memerlukan tikar untuk duduk di lantai. Tapi kursi bagi sebagian bangsa tidak kalah pentingnya dengan perabot rumah tangga lainnya. Malah ketika sistem pmerintahan lebih kompleks, kursi pun mulai dikembangkan sebagai symbol sebuah status dan hirarki. Hingga ungkapan “memperebutkan kursi” adalah ungkapan yang sangat dikenal dalam kancah politik, terutama pada saat pemilihan umum berlangsung.

Seperti juga banyak penemuan lain, sejarah kursi pun nampaknya perpangkal dari peradaban Mesir seperti yang dibuktikan dari penemuan kursi pada makam para raja. Teknologi  pembuatan kursi kemudian dikembangkan oleh bangsa Yunani dan Romawi, mulai dari bentuk yang paling sederhana sampai yang paling rumit. Salah satu warisannya yang masih sering ditiru hingga saat ini adalah kursi bersilang.

Dari Roma, ke Perancis, berakhir di Italia
Bersamaan dengan jatuhnya kejayaan bangsa Romawi, banyak ahli-ahli furniture negeri itu yang menghilang. Kondisi negara yang tidak menentu pun menyebabkan rendahnya kebutuhan masyarakat akan furniture yang permanen. Baru ketika situasi mulai stabil kembali, yaitu pada masa renaisans, berbagai macam kursi mulai ramai diproduksi dan diminati oleh masyarakat. Di Italia, dikembangkan “casapanca” atau dipan yang berasal dari peti. Lalu, muncul pula berbagai bentuk kursi berdudukan tangan (armchair), dan kursi-kursi berbantal serta penuh dekorasi.

Pada masa renaisans, kursi dibagi menjadi dua jenis; yang ringan, mampu di pindah dengan mudah dan yang berat, seperti halnya singgasana untuk para ningrat.

Di Perancis, selama masa pemerintahan Louis XIV, bentuk kursi dirancang agar telihat mewah dan agung. Sandaran kursinya lebih tinggi dan tangan kursi dilapisi kain. Sandaran kurisnya pun masih harus diukir dan dilukis oleh tangan-tangan seniman handal. Diteruskan oleh Raja Louis XVI, karya-karya furniture. Salah satu yang terkenal dari masa ini adalah sofa berukir bunga mawar dan daun laurel yang merupakan favorit Marie Antoinette, permaisuri Raja Louis XVI. Warna-warna emas yang memberikan kesan elegan dan mewah menjadi ciri khas bagi kursi-kursi bergaya Louis XVI. Dan kesan mewah tersebut dipertahankan hingga masa sebelum revolusi 1789. Setelah revolusi tersebut rancangan kursi Perancis tampil lebih sederhana.

Setelah kehancuran Prang Dunia I, masyarakat Eropa berusaha untuk memperbaiki kembali mutu kehidupan mereka. Semangat yang timbul adalah menjadi manusia baru tanpa melupakan unsur-unsur agung kemanusiannya. Dalam segi dekorasi ruang pun semangat ini terasa. Masyarakat mulai menyenangi panataan ruang yang dapat member kesan segar dan penuh vitalitas.

Setelah ditemukan bahan besi berongga yang mengkilat (tubular steel), produsen furniture pun menggunakannya sebagai bahan baku. Bahan ini adalah jawaban bagi para desainer Itali yang ingin menciptakan desain mebel baru tanpa memakai kayu yang berumur pendek. Besi dianggap memiliki kelenturan alami dan menghantarkan kesan murni yang bisa meningkatkan kenyamanan pemaikainya. Di samping itu, bahan ini pastinya tahan lama sekaligus berkesan luwes karena bisa dibentuk dengan berbagai desain.

Kursi-kursi Amerika Abad 20
Memasuki abad 20, peristiwa-peristiwa penting terjadi di dunia Barat. Pertama, adalah revolusi industry yang memungkinkan berbagai golongan dalam masyarakat memiliki perabot-perabot rumah, termasuk kursi, yang sebelumnya hanya para aristocrat dan pendeta saja yang dapat memiliki kursi sebagai symbol kehormatan mereka. Kedua, adalah penemuan teknologi pengolahan bahan besi dan baja, kaca, keramik, beton, yang turut ambil bagian penting dalam perkembangan desain furniture selanjutnya.

Selain itu, hal yang juga perlu dicatat, perkembangan arsitektur rumah abad 18 telah memunculkan kebutuhan akan interior, sehingga sekolah-sekolah desain khusus pun didirikan, antara lain The Minneapolis College Art [1962]. The Art Institute of Chicago[18690, dan The Colombus College of Art [1870]. Dampak dari pendirian sekolah ini adalah lahirnya perancang-perancang interior abad ke-20, termasuk di dalamnya para perancang kursi handal di Amerika.

Salah satu perancang interior sekaigus arsitektur Amerika yang betul-betul bebas dari pengaruh Eropa adalah Frank Wright [1867-1959]. Lahir di Richland Center, Wisconsin, Wright memang sedari kecil telah dipersiapkan oleh ibunya menjadi seorang arsitek. Selama masa kanak-kanak, ibunya mengenalkan proses pembuatan bangauan mainan dengan balok-balok tak beraturan yang menghantar dirinya ke bidang ruang. Selain sebagai arsitektur handal, Wright juga merancang seluruh perabotnya untuk klien-kliennya. Dan rancangan perabotnya merupakan karya-karya yang patut diperhitungkan dalam dunia mebel. Misalnya di Gedung Larkin, ia merancang mebel kantor dari bahan logam pertama di abad ke-20.

Frank Llyod Wright bersama para perancang mebel Amerika lainnya kemudian harus menghadapi kondisi sosial perang dunia II. Perkembangan desain pun terhambat karena langkanya bahan-bahan semasa perang. Namun, di satu isi, kondisi ini justru memunculkan trend baru dalam desain mebel, misalnya kursi kupu-kupu dan kursi “hardoy” rancangan Antonio Bonet, Juan Kurchan dan Jorge Ferrari-Hardoy merupakan contoh populer.

Satu hal yang penting dalam desain mebel Amerika adalah masuknya pengaruh Skandanavia di era perang dunia II. Perancang mebel Swedia paling terkenal di Amerika adalah Bruno Mathson yang membuat desain berkesan pucat dan sejuk. Contohnya adalah kursi bersandaran tangan yang terbuat dari bengkolan kayu. Kursi ini dipengaruhi oleh kursi berbaring yang juga menggunakan kerangka lapis kayu yang dibengkokkan. Kemudian tahun 1941, seorang perancang Denmark dan Finlandia sekaligus menggeser trend Skandinavia. Salah satu pengaruh Denmark berasal dari karya Hans Wegner yang merancang kursi klasik dengan kerangka dari kayu oak atau jati dengan dudukan serta sandaran punggung yang terbuat dari rotan. Kursi ini sangat terkenal dengan sebutan “the chair”. Banyak yang beanggapan bahwa kursi ini mengingatkan orang pada tradisi kuno Cina.

Saat perang mulai berakhir, perancang-perancang mebel yang terkenal berasal dari Cranbrook Academy of Art, Michingan, antara lain adalah Charles Eames, Eero Saarinen, Knoll, Benjamin Baldwin, Harry Bertoia, Harry Weese dan Raplh Rapson. Dekade mereka diawali dari kemenangan C. Eames dan E. Saarinen dalam sayembara tahun 1938-1941 bertema “desain organic dalam perabot rumah tinggal” yang diselenggarakan oleh Museum Seni Rupa Modern. Karya mereka adalah sebuah kursi dari lembaran kayu lapis, yang dibentuk dengan garis luar menyerupai patung. Inovasi teknis dari kursi ini terletak pada komponen-komponen kayu lapis yang dibentuk dengan garis luar menyerupai patung. Inovasi teknis dari kursi ini terletak pada komponen-komponen kayu lapis yang dibengkokkan dalam dua arah. Desain kursi mereka sangat revolusioner, dan menjadi ilham bagi desain kursi pasca perang.

Keunikan desain kedua perancang mebel ini bisa dilihat dari karya-karya mereka di perusahaan mebel terkemuka di Amerika. Misalnya C. Eames yang bekerja di perusahaan mebel Herman Miller yang tahun 1946 sudah berani membuat kursi dari lembaran kayu lapis dengan desain seperti patungnya Hans Arp yang berbentuk amuba, sehingga kursinya dijuluki “kursi-kursi keripik kentang”. Eames memang kerap menampilkan bentuk kursi yang aneh dan ringan, juga disasari oleh analisis teknologi yang teliti. Eames nampaknya mampu memadukan unsure seni dengan kenyamanan duduk pemakainya. Dengan lembaran kayu lapis, ia berhasil memberikan kelenturan pada tubuh dan sandaran kursinya sehingga terasa empuk walaupun tanpa bantalan.

Eero Saarinen yang bekerja di perusahaan mebel Hans G Knoll Furniture Company juga menghasilkan kursi yang terkenal dengan sebutan “kursi rahim”. Kursi ini mengalami sukses besar di tahun 1948. Sebenarnya gagasan pembuatan kursi ini tidak lepas dari permintaan Florence Knoll, Istri Hans Knoll. Ia menginginkan kursi yang memungkinkan pemakainya duduk dengan kedua kaki dilipat di atas bantalan sementara tangannya bisa dirapatkan seperti halnya orang sedang tidur. Oleh Eero keinginan tersebut diterjemahkan dalam bentuk kursi yang membuat posisi pemakai seperti janin dalam rahim. Dan muncullah kursi rahim yang terbuat dari fiberglass cetakan, dilapisis oleh latex foam dan ditopang oleh kaki logam. Desain kursi ini memungkinkan seseorang bisa merubah posisi duduknya dengan bebas.

Kursi-kursi Tubular Steel
Salah satu desain kursi paling terkenal yang menggunakan tubular steel, besi berongga, adalah hasil rancangan Ludwig Mies Vander Rohe, arsitek dan perancang mebel kelahiran Jerman, 1886. Kursinya terkenal dengan sebutan kursi Rohe yang memiliki konsep “less is more”. Desainnya memperlihatkan kepiawaiannya mengolah bahan secara maksimal tanpa meninggalkan kesan sederhana dan hemat. Selain itu, bentuknya yang labil tapi konstruktif, sangat mengandalkan kesan lengkungan yang lentur. Ide lainnya adalah kursi melayang, tanpa ada kaki di belakang.

Selain Van der Rohe, kursi lengan pertama dibuat oleh Marcel Breuer yang juga memakai tubular stell. Dirancang pada tahun 1925, pada saat Breur menjadi guru besar di Bauhaus Institute, Jerman. Ide kursinya berasal dari sepeda yang diberi nama “wassity”. Menurutnya rancangan kursinya bukan symbol dari teknologi melainkan teknologi itu sendiri. Untuk sandaran kursi lengannya, Breuer menggunakan rotan atau anyaman benang yang sangat kuat.

Kemudian muncul seorang desainer Perancis Jean Prouve, perancang kursi yang dirubah sesuai kehendak pemakainya. Dibuat tahun 1930, kursi Prouve dibuat dengan menggunakan engsel yang dapat mengatur gerak kerangka kursi dan dapat dirubah posisinya. Bagi Prouve, mebel sifatnya sama seperti mesin yang harus menanggung beberapa gaya. Tidak aneh jika pada rancangannya ia kerap memakai perhitungan dan meteri yang sama seperti mesin.

Kursi tubular steel yang dirancang sebagai karya seni berasal dari Mario Botta. Ia sama sekali tidak memperdulikan factor kenyamanan pemakainya, karena rancangannya hanya dianggap sebuah ekspreimen seni.

Ketika para pejabat Hindia Belanda bertugas di Batavia, maka desain-desain kursi Eropa seperti gaya renaissance, bierdemir, Chippendale, baroque Belanda, dan Queen Anne, turut memberikan cita rasa bagi interior hunian mereka. Tentunya perangkat mebel ini memiliki nilai gengsi, sehingga banyak keluarga di masyarakat kelas menengah seperti kaum pedagang Cina, ikut-ikutan pula memilih gaya ini.

Di Jaman Hindia Belanda
Model yang paling digemari saat itu adalah gaya baroque Belanda dengan bentuk campuran dari gaya renaissance dan Louwdewijk XVI. Motif Baroque biasanya kaya dengan ukiran-ukiran meliuk dalam rupa tumbuh-tumbuhan menjalar. Kaki kursi sering kali berbentuk kaki singa, segi empat atau bundar.

Jenis kursi ini terbuat dari kayu-kayu berkualitas tinggi yang ada di Indonesia, seperti kayu ambon, kayu jati atau kayu besi. Namun yang paling disukai adalah kayu besi dari kepulauan Maluku. Perabotan dengan kayu ini dapat ditemui digedung-gedung penting atau kantor pemerintahan Belanda seperti di Stadhuis.

Untuk memenuhi keinginannya para pembesar Belanda tidak perlu repot-repot memesan kursi dari eropa, karena langsung membelinya di Batavia. Toko Merah milik Jacobson Van De Berg, yang terletak di Jalan Pintu Besar Barat, adalah salah satu tempat dimana mebel-mebel Eropa produksi tahun 1740’an dapat dibeli.[a!]

Sumber:
Interior Design in20th Century America By C Ray Smith. New York: Harper and Row, 1987.
Kompas Jum;at 18 November 1995
Sejarah mebel di susun oleh Mandegani D
majalah Konstruksi no. 233 Agustus,8, 1996 & Laras no. 87/maret 1996.

Leave a Reply

Close Menu