Teknologi Informasi di Indonesia 1925-1991

1998_Juni_Edisi 091_bahas:
Teknologi Informasi di Indonesia 1925-1991

19925, Pada tanggal 16 Juni, orang Belanda penggemar radio di Jakarta mendirikan perkumpulan siaran radio BRV (Bataviase Radio Vereniging). Pada tahun yang sama, di Tanjung Priok didirikan NIROM (Nederlands-Indische Radio Omroep Maatchappii) dengan pemancar berkekuatan 1000 watt. 1927, de Groot, seorang penggemar radio amatir, mendirikan stasiun radio Malabar di Bandung. Fungsinya terutama sebagai alat hubungan radiotelegrafis antara Hindia Belanda dan negeri Belanda. Pada tanggal 12 Maret, de Groot dapat menangkap siaran gelombang pendek dari Laboratoria Philips di Eindhoven-Belanda. 1933, Pada tanggal 1 April, didirikan SRV (Solose Radio Vereniging) yang diketahui Sarsito Mangunkusmo. 1934, Pada tanggal 15 Januari pukul 17.00, SVR dapat menyelenggarakan siaran pertama berupa kelenengan Jawa. Siaran ini dapat direlai ke sebuah studio radio swasta di Amsterdam-Belanda. Pada tanggal 8 Februari, di Yogyakarta berdiri Mavro (Mataramse Vereniging voor Radio Omrope) dibawah pimpinan Pangeran Hangebi Pada bulan Oktober tahun yang sama, di Solo berdiri perkumpulan radio lain yaitu SRI (Siaran Radio Indonesia) dan dipimpin oleh Pangeran Surjohadimidjojo. Pada tahun ini pula, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan radiowet (undang-undang radio) yang mengatur siaran radio di tanah jajahan. Kemudian didirikan NIROM yang merupakan studio siaran radio setengah resmi milik pemerintah yang berhak memungut pajak radio kepada setiap pemilik pesawat radio. 1936, Mavro, SRV, dan Radio Semarang dalam perundingan di Mataram (Yogyakarta) memutuskan mendesak NIROM agar menambah subsidi seperti dijanjikan pada awal kerja sama mereka. Tapi NIROM menolak. 1937, Mavro menyatakan tidak bersedia lagi bekerjasama dan menerima bantuan apapun dari NIROM. Keputusan Mavro ini diikuti oleh perkumpulan-perkumpulan radio ketimuran lainnya. Satu-satunya radio ketimuran yang masih mau bekerjasama dengan NIROM adalah SRI yang merupakan badan siaran yang tidak besifat perkumpulan. Pada tanggal 28 Maret, Sutardjo Kartohadikusumo dan Sarsito Mangunkusumo memprakarasai pertemuan di bandung yang dihadiri para utusan dari VORO, VORI, Mavro, SRV, dan Cirvo yang kemudian sepakat menghimpun diri dalam organisasi baru PPRK (Perikatan Perkumpulan Radio Ketinsuran). Radio semarang kemudian juga masuk sebagai anggota karena bukan suatu perkumpulan, tapi menyatakan siap memberikan bantuan. Namun secara organisatoris PPRK masih tergantung dengan pemerintah dan secara teknis masih tergantung pada NIROM. 1938, Pada tanggal 26 Maret, pemerintah mengeluarkan keputusan yang mengakui PPRK sebagai badan hukum. 1939, Pada tanggal 1 Juli, pemerintah menyusun Oosterse Raad van Advies (Dewan Penasihat Siaran Ketimuran). Dewan ini beranggotakan 14 orang dari PPRK, PTT, NIROM, dan Dewan Rakyat, yang diketahui oleh Sosrohadikusumo. 1940, Pada tanggal 30 Juni, Pemerintah mengeluarkan keputusan yang menyetujui penyerahan penyelenggaraan siaran ketimuran dari NIROM kepada PPRK. Pada tanggal 1 November, untuk pertama kalinya, PPRK dapat menyelenggarakan siaran ketimuran. 1942, Pemerintah Balatentara Dai Nippon membubarkan semua perkumpulan siaran radio di Hindia Belanda. Di Pulau Jawa, urusan siaran radio ditempatkan di bawah Djawa Hoso Kanrikyoku (Badan Pengawas Siaran di Jawa) yang dibentuk di Jakarta pada tanggal 1 Oktober. Jepang membatasi kepemilikan radio dan menyegel gelombang pendek radio agar orang tidak mendengarkan siaran luar negeri. Rakyat diharuskan hanya mendengarkan siaran pemerintah dari studio Hosokyoku. 1945, Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, pada tanggal 11 September didirikan RRI (Radio Republik Indonesia) yang merupakan siaran radio pemerintah Republik Indonesia. Tanggal tersebut kemudian diperingati setiap tahun sebagai hari Radio di Indonesia. 1961, TVRI (Televisi Republik Indonesia) lahir berdasarkan surat keputusan menteri penerangan untuk mengantisipasi keinginan pemerintah agar pertandingan olahraga se-Asia (Asian Games IV) yang diadakan di Jakarta, diliput oleh media televisi. 1962, Pada bulan Agustus, untuk pertamakalinya, TVRI melakukan siaran liputan tentang peringatan 17 Agustus di Istana Negara. Seminggu kemudian, tanggal 24 Agustus pukul 14.30 WIB, TVRI mengudara dengan kuat-pancar 10 kilowatt, menyajikan liputan acara pembukaan Asian Games IV di Stadion Utama Senayan. 1979, TVRI melakukan siaran televisi warna secara penuh pada tanggal 2 September bertepatan dengan penyelenggaraan pertandingan olahraga se-Asia Tenggara (SEA Games VIII) di Jakarta. 1989, Presiden Soeharto meresmikan TV swasta pertama yang dikelola oleh PT Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) di Jakarta pada tanggal 24 Agustus. Saat itu, para pelanggan harus membayar iuran Rp. 30.000 sebulan dan uang jaminan untuk decoder. 1990, Pemerintah mencabut ketentuan keharusan pemakaian decoder sehingga RCTI dapat diterima oleh seluruh penduduk. Pada tahun yang sama tanggal 24 Agustus, mengudara siaran televisi swasta kedua yang diselenggarakan oleh PT. Surabaya Centera Televisi yang kemudian berubah nama menjadi Surya Citra Televisi (SCTV) di Surabaya. Tahun yang sama pula, pemerintah mengeluarkan kebijaksanaan baru di bidang penyiaran televisi yaitu member ijin pada PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia unutk menyiarkan mata acara khusus pendidikan dengan nama Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). 1991,Presiden Soeharto meresmikan siaran pendidikan tersebut pada tanggal 24 Januari, TPI mulai mengudara.

Sumber data: Ensiklopedi Nasional Indonesia (Cipta Adi Pustaka, Jakarta,1990)

Leave a Reply

Close Menu