Teater tanah airku: Hilang pamor

2002_Maret_Edisi 132_Sekitar Kita:
Teater tanah airku: Hilang pamor
Joni

Sejak diresmikan 20 April 1998, Teater Tanah Airku (TTA) barangkali masih merupakan gedung pertunjukan paling canggih yang ada di Tanah Air.

Paling tidak hal itu ditunjukkan melalui teknologi pementasan yang dimilikinya. Mulai dari system tata suara berkekuatan 1 megawatt, mekanisme tata lampu yang modern, panggung yang leluasa diturun-naikan, hingga teknologi laser video projector yang konon satu-satunya di Asia Tenggara. Lengkaplah kalau kemudian dipui-puji sebagai gedung pertunjukan berstandar internasional. Sehingga, pertunjukan yang akan mentas di situ pun konon sangat selektif untuk menunjukkan citranya sebagai tempat pertunjukan kelas dunia.

Tapi itu dahulu. Sekarang kondisinya berbeda. Sasana seni yang sahamnya dismiliki oleh perusahaan besar-Yasatama Wirya Cipta, Indosat dan Taman Mini Indonesia Indah-tersebut nampaknya semakin hilang pamornya. Terbukti dengan semakin jarangnya pertunjukan yang dipentaskan di TTA. Pertunjukan musical Opera Anoman misalnya, paling bertahan delapan bulan sejak dipentaskan pada 11 September 1998. Opera yang dikenal sebagai pertunjukan paling awet di Indonesia itu kini belum ada gantinya. Padahal orang yang mentas dua minggu sekali itu telah menyedot paling sedikit 50 ribu penonton.

Menurut salah seorang pegawai bagian produksi, menyurutnya pementasan di TTA lebih disebabkan karena manajemen yang amburadul. Perbedaan pandangan dari ketiga pemilik saham di atas membuat managemen tidak dapat berkonsentrasi. Dan ini berakibat pada kualitas pementasan yang apa adanya. Citra TTA disangsikan. Dulu TTA dikonsepkan hanya untuk mementaskan pertunjukan teater. “Diibaratkan Broadway, hanya pementasan yang berkualitas yang bisa manggung di TTA, “ujar seorang sumber, yang tidak bersedia disebutkan namanya.

Sekarang, apa pun pertunjukkannya asal penyelenggara mampu membayar sewa gedung, diijinkan pentas musik rock yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan akan pentas di situ, “ujar sumber tadi.

Banyak pendapat menyebutkan, akses dan jauhnya lokasi TTA adalah penyebab mengapa gedung pertunjukan itu menjadi terkucil dan belakangan sepi penonton. Tapi, dengan manajemen yang baik hal teknis seperti ini tentu bukan persoalan. Hilagnya pamor TTA tentunya sangat disayangkan, karena sudah begitu banyak biaya dikeluarkan hanya untuk suatu kerja yang tidak sungguh-sungguh.

Leave a Reply

Close Menu