Teater Populer, Sebagai Kantung Budaya Baru?

2000_Februari_Edisi 109_revital:
Teater Populer, Sebagai Kantung Budaya Baru?
Joni Faizal

Teguh Karya memang tak pernah berhenti. Sangar teater popular yang dibangunnya tahun 1968, tak pernah dibiarkannya tegak tanpa arti. “Saya pengin berguna. Buat apa sanggar segede ini kalau tidak ada apa-apanya,” Begitu ucapTeguh Karya pada suatu kesempatan wawancara hampir Sembilan tahun lalu. (Jakarta/ 17-23 Agustus 1991).
Ironisnya kata-kata itu menguap tanpa wujud ketika Teguh karya jatuh sakit. Padepokan yang semula menjadi “kawah candradimuka” bagi anggota Teater Populer, seakan berubah pucat kekurangan darah, aktivitas kian sepi. Kedua padepokan itu – satu Kebon Pala, sebuah bangunan tua yang terletak diseberang kediaman Teguh Karya, dan lainnya di Kebon kacang, sebuah bangunan bergaya arsitektur lama yang bernama “Teater dalam Gang Tuti Indra Malaon”, tampak kurang terurus. Beberapa property dan fasilitas untuk latihan terlantar. Padahal banyak diantaranya yang masih dalam kondisi baik dan bernilai mahal. Teruslah misalnya bangunan Teater dalam Gang Tuti Indra Malaon di Kebon Kacang IX/61, Jakarta Pusat. Bangunan yang konon merupakan hasil dari film pertama Taguh Karya, Wajah Seorang Laki-laki di tahun 1971, terlalu sayang untuk dibiarkan.

Membandingkannya dengan ruang pentas Teater Utan Kayu misalnya, bangunan ini tidak kalah lengkap. Selain dapat menampung pengunjung sekitar 100 orang, peralatan lightingnya terbilang modern. Itu baru berupa fisik bangunan, belum lagi dokumentasi film-film Teguh Karya beserta naskah dan propertinya yang kini masih terawat dengan baik di perpustakaannya.

Itulah sebabnya sejak September tahun 1999 lalu, Teater dalam Gang Tuti Indra Malaon tersebut dihidupkan kembali oleh beberapa masyarakat yang tergabung dalam kelompok relawan Komite Persiapan Revitalisasi Teater Populer-Kelompok ini bekerja keras menggunakan lagi Teater Populer yang tidur Mulai dari mempernai fasilitas gedung yang sudah lama tidak lagi terpakai, membersihkan, melengkapi prasarananya, hingga melakukan aktivitas budaya seperti pemutaran film, diskusi film, pertunjukkan musik, dan aktivitas budaya lainnya di tempat ini.
Dari beberapa kali kegiatan,banyak dukungan dan saran yang muncul dari masyarakat. Secara umum pendapat itu menganjurkan agar Teater dalam Gang Tuti Indra Malaon ajeg melakukan kegiatan kebudayaannya. “Teater ini baik pula menampilkan lakon-lakon popular,” kata Pia Alisyahbana yang berkesempatan menyaksikan pementasan lagu-lagu balada Ai dan Reda di Teater dalam gang Tuti Indra Malaon. Ia menambahkan bahwa pertunjukan musik seperti itu sangat layak dinikmati oleh para eksutif muda yang berasal dari kantor-kantor di Jl. Thamrin dan Sudirman.

Teter Populer ke Depan
Menurut salah satu anggota Teater Populer, Niniek L. Kasim, dalam waktu dekat Teater Populer akan membentuk yayasan untuk mewadahi kegiatan-kegiatan kebudayaan sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya. Terutama kegiatan yang erat kaitannya dengan teater dan film. “Tapi, kita juga tidak menutup kemungkinan kegiatan kebudayaan lain. Bisa jadi suatu saat kita akan diskusi buku, diskusi batik. Ini memang sudah menjadi cita-cita Teguh Karya sejak lama bahwa Indonesia ini seharusnya memiliki kantung-kantung budaya. Itu diawalinya dengan mendirikan Teater dalam Gang Tuti Indra Malaon,” Ujarnya.

Diakui, itu diawalinya dengan mendirikan Teater dalam Gang Tuti Indra Malaon,” Ujarnya.
Diakui, Teater Populer dianggap telah menghilang dari kegiatannya. Namun tidak berarti bahwa Teater Populer itu bubar. Secara spirit dan emosional anggota teater populer masih merupakan satu keluarga Tetapi secara fisik dan aktivitas kerja, masing-masing individu sudah mempunyai kegiatan masing-masing, sehingga tak mungkin kongkow-kongkow seperti masa lampau.

Ikutan kekeluargaan inilah yang kemudian ingin dikembangkan ke dalam bentuk yayasan. Langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Teater Populer adalah membagi tugas masing-masing ke seluruh anggotanya untuk berpartisipasi. “Semoga tidak seperti dulu, kita sudah sering duduk sama-sama untuk merencanakan sesuatu, tetapi realisasinya tidak pernah terwujud,” kata Niniek.

Dengan dibentuknya Yayasan yang kelak akan menjadi salah satu kantung budaya bersejarah di tanah air ini, setidaknya akan terjawab bahwa Teater Populer telah menjadi milik masyarakat, bukan esklusifisme sebagian kelompok yang diduga selama ini. Dan tentunya menjadi oasis di tengah kepadatan kota yang kian sumpek.

Leave a Reply

Close Menu