Tanpa ALI, Perpustakaan Nasional … ugh!

Tanpa ALI, Perpustakaan Nasional … ugh!

2002_Februari_Edisi 131_Rupa-Rupa:
Tanpa ALI, Perpustakaan Nasional … ugh!
Joni Faisal

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) bukanlah tempat pelayanan publik ideal, untuk tidak menyebutnya buruk. Dibandingkan dengan perpustakaan lain di Jakarta, seperti CSIS, PDII-LPII atau British Council Library, pelayanan Perpusnas bisa disebut terbelakang. Beruntung Perpusnas memiliki seorang pekerja seperti Ali. Berkat keuletan kerjanya yang tanpa pamrih, banyak pengguna perpustakaan yang malah merasa dimanjakan.

Lulus SMEA 2 Jakarta tahun 1971, bujangan asli Jakarta ini hampir tidak pernah letih melayani siapa pun. Tidak jarang kita akan melihatnya dalam simbah keringat dan tergesa-gesa. Wajar banyak peneliti yang selalu ingin dilayani oleh Ali dalam penelusuran bahan. “Barangkali karena saya sudah 20 tahun bekerja di sini, jadi mereka kenal saya” katanya merendah. Kemampuannya dalam menguasai tiga bahasa – Inggris, Belanda dan Perancis – itu juga tak kalah penting memberikan nilai lebih dibanding pustakawan lainnya.

Menurut Ali, dalam memberikan pelayanan ia tidak pernah berharap apa-apa. “ Ini memang tugas seorang pustakawan,” imbuhnya. Berkat ketulusannya itu, tidak jarang Ali mendapat kiriman pakaian, cinderamata, hingga wesel dari mereka yang merasa begitu terbantu olehnya. “Bahkan sepatu saya tidak pernah beli karena sering dikirimi sebagai ucapan terima kasih,” ungkap Ali.

Dari ragam rejeki yang tidak terduga itu, Ali mampu menyekolahkan tujuh keponakannya hingga jenjang sarjana. Dan kadang, ia masih dapat berbagi rejeki pula dengan teman-temannya. Singkat kata, tanpa Ali pelayanan Perpusnas jauh dari membantu. Karena itu, sosok Ali ibarat oase yang dibutuhkan semua masyarakat yag mencita-citakan para pelayan public dapat bekerja sungguh-sungguh, bukan malah ingin dimengerti dan dilayani.

Leave a Reply

Close Menu