Taman budaya untuk JOGJA

2002_Maret_Edisi 132_Sekitar Kita:
Taman budaya untuk JOGJA
Ade


Sudah tiga tahun masyarakat Jogjakarta menunggu rampungnya pembangunan Taman Budaya di kawasan Shopping. Tahun ini, bangunan induknya, yang terdiri dari ruangan pameran dan seni pertunjukan, sudah bisa digunakan.
Kompleks kesenian bertaraf internasional memang perlu ada Jogjakarta. Apalagi setelah bekerja sama dalam program “Sister City” dengan Kyoto, San Fransisco dan Iskandarsyah, yang memposisikan Jogjakarta sebagai salah satu pusat kota budaya di dunia.

Taman Budaya, yang bertetangga dengan Gedung Societet Militer dan Museum Benteng Vredeburg, akan memiliki sekitar 10 bangunan, antara lain berupa ruang pameran, gedung teater tertutup, dan gedung serbaguna, yang akan memiliki pasar seni dan kerajinan, ruang pemutaran film dan restoran. Tidak hanya itu, akan ada pula teater arena dengan kapasitas 200-300 orang, wisma seni berkapasitas 40-50 orang, perpustakaan, dan balai seni. Sementara teater tamannya akan memiliki 200-300 tempat duduk permanen.

Pasar buku “shopping” yang ada sekarang ternyata tidak akan digusur, tapi ditata kembali dalam bentuk kios yang desainnya disesuaikan dengan gaya bangunan keseluruhan, yaitu gaya kolonial.

Perlu biaya besar untuk merealisasikan semua rencana ini. Sebuah bangunan induk yang telah rampung saja sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp. 12,5 milyar. Sebuah angka fantastis untuk sebuah ruang pameran berukuran sekitar 1.150 meter persegi (di lantai satu) dan auditorium seni pertunjukan berkapasitas 1200-1500 orang (di lantai dua).
Menurut Dyan Anggraini, salah seorang pengelola Taman Budaya, fasilitas panggung di tempat ini akan mengikuti standar internasional. “Pemerintah Jepang juga akan memberikan hibah sound system senilai Rp 4 milyar,” ungkapnya.

Leave a Reply

Close Menu