Baru Jalan

Karya berjudul On the Way ini bisa jadi merupakan awal dari sebuah ibadah kesenian dalam bentuk lain bagi Suranto “Kenyung”. Seperti yang diceritakan Heri Pemad yang turut mengkurasi karya-karya ArtJog 10, enam bulan sebelum perhelatan ArtJog 10 digelar, Kenyung dikenal sebagai pekerja seni yang sering membantu di saat persiapan sebuah pameran. Kenyung biasa menjadi asisten produksi bagi seniman yang akan berpameran. Cerita mengenai Kenyung menjadi berbeda, ketika proposal karya yang diajukan pada para kurator ArtJog 10 diterima. “Diterima, dengan catatan tentunya”, kata Pemad. Ibadah kesenian yang biasa Kenyung lakukan sebagai tukang seni, kemudian bergeser menjadi seniman muda berbakat.

Di sebuah ruangan putih, karya terakota milik Kenyung diletakkan, menjauh dari pintu masuk, sehingga pada saat pertama saya melihatnya, ia nampak seperti sebuah bangunan batu-bata yang berada jauh di ujung sebuah ruang yang memanjang. Kesadaran saya menghentak, ketika mendekati karya tersebut dan mendapatinya di hadapan saya sebagai sebuah karya seni yang dikonstruksi oleh ribuan miniatur batu-bata. Berbeda dengan miniatur kota Madurodam di Den Hag, Belanda Selatan yang terkenal itu, tumpukan batu-bata mini yang membentuk dua bangunan ini tidak jelas, apa pesan yang ingin disampaikan.

Karya Kenyung berupa tanah liat yang dibentuk persegi panjang berukuran kecil yang kemudian dibakar dan menghasilkan lempengan terakota berwarna coklat kemerahan, layaknya batu-bata yang umum digunakan untuk membangun rumah. Batu-bata Kenyung berukuran mini, masing-masing 12 x 24 x 5 mm, luasnya tidak lebih besar dari kuku orang dewasa. Lebih dari 3.000 keping batu-bata mini yang diproduksi oleh Kenyung sejumlah 800 keping per hari itu, disusun menjadi dua bangunan berupa tembok yang melengkung. Dari atas, kedua bangunan itu berbentuk seperti amuba – oval – dan hampir bersentuhan pada satu sisi. Pinggiran bagian atas tembok terlihat tidak rata, bahkan seperti pernah runtuh di beberapa bagian. Sebuah gundukan reruntuhan atau timbunan batu-bata cadangan, tampak ditumpuk di dekat persimpangan dua bangunan itu.

Secara teknis, Kenyung membuat ribuan batu-bata mini dengan kualitas detail yang sulit diikuti. Setiap batu-bata memiliki karakternya masing-masing – khas hasil produk industri rumahan. Bentuk dan keberagaman warna batu-bata yang diproduksi mendekati benda aslinya di dunia nyata. Bentuknya yang persegi empat, memiliki dimensi panjang, lebar, dan tinggi yang proporsional. Di antara batu-bata mini yang umumnya berwarna coklat ke merahan, ada pula yang merah merona, dan beberapa yang hitam legam karena diletakkan terlalu dekat titik api saat proses pembakaran. Ribuan terakota persegi empat itu sangat mirip dengan apa yang dapat kita temui di toko-toko bangunan, dengan beda hanya pada ukuran dan adanya huruf A, R, dan T yang terembos di satu sisinya.

Namun secara ekspresivistik, belum terlalu jelas apa yang ingin ia sampaikan. Apakah ini adalah karya pemicu? Pemicu untuk adanya karya-karya seni yang menggunakan elemen batu-bata mininya? Kenyung mungkin membuat batu-bata mininya untuk dapat digunakan dan susun ulang seperti LEGO – kotak-kotak plastik berwarna-warni, bertonjolan sebagai ‘pengunci’, yang dikenal dunia sebagai mainan modular yang dapat disusun menjadi bentuk apapun. Kurator ArtJog 10 mungkin melihat besarnya nilai formalistik dari karya Kenyung, sehingga dapat dianggap ‘cenderung lengah’ dalam memperhatikan nilai ekspresivistiknya. Wujud visual yang ditampilkan terlihat lebih dominan, maksimal, dibandingkan dengan apa yang ingin diekspresikan oleh seniman muda tersebut.

Bagi saya, Kenyung seperti berusaha melontarkan gagasan sederhana, yaitu: membangun. Membangun apa saja dari hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. Membangun adalah bagian dari mengonstruksi kehidupan yang bermakna. Dengan batu-bata skala mikro, sang seniman menghadirkan sebuah elemen estetika sehari-hari ke dalam sebuah ruang pamer yang putih, terang-benderang, bebas distorsi, untuk mengingatkan tentang pentingnya hal yang sepele. Kenyung mengingatkan saya tentang batu-bata, sebagai benda sepele, merupakan hasil sebuah proses kerja yang ditangani serius, sehingga kualitas yang diperoleh kemudian dapat menunjang fungsi apapun yang ditetapkan untuknya.

Karya On the Way di dalam ArtJog 10 dapat dianggap melakukan pendekatan estetika dengan baik. Batu-batu bata mini sebagai obyek inti pada karya dibiarkan untuk ‘berbicara’ sendiri, tanpa dibebani konteks atau teks yang dimiliki seniman. Pendekatan rekonstruktif pun dirasa sedang diusahakan. Hal ini terlihat dari dinding batu-bata mini yang dibuat melingkar secara organik, seperti sedang membangun sebuah narasi – satu hal yang belum tersampaikan dengan jelas. Benar apa kata Heri Pemad, Suranto “Kenyung” baru memulai ibadah seni yang sesungguhnya. Karya On the Way dapat saja mengubah perjalan hidup seorang Kenyung. Perjalanan Kenyung masih panjang dan berliku untuk mencapai tujuan beribadah yang diharap telah ia tentukan.

Save