Terima Kasih Teman

Program Laboratorium Desain Publik di bawah Yayasan Pikir Buat Nusantara – aikon tidak mungkin dapat beraktifitas dengan lancar tanpa banyak dukungan teman. Memasuki tahun ke lima, Program Revitalisasi Bemo Karet berterima kasih kepada teman-teman atas dukungannya yang diberikan selama ini.

Para penumpang dan pengemudi bemo trayek Stasiun Karet – Sudirman

Aldo Muhamarizka
Arief Adityawan, Grafisosial
Bakti
Brilian Prasetyo, Komunitas Facebook/Mobil Listrik Indonesia
Dadit Sidharta
Dece limeyanti
Enrico Aditjondro
Erik, bengkel las Jeruk Purut
Farida Indriastuti
Gita Hastarika
Hari sasono
Harjuni Rochajati
Henky sumadi
Imam B. Prasodjo
Inggita Notosusanto
Iwan Halim, Limusnunggal Rubber
Jaja  + Aji, bengkel bubut Pasar Minggu
Jalu Kristo, bengkel las Kemang
Joddy Krisnadi, Komunitas Facebook/Electric Vehicle Indonesia
Karina Halim
Keluarga Mashud
Kintaka Lim
KM Lo
Maria Jessika, Mahasiswi DKV Universitas Bina Nusantara
Mega
Mirasari, The Cookie Lady
Muhammad (Mamat), Pengemudi Bemo
Murki + Yakub, bengkel fiberglass
PStechPaul
Pujiono, RGS & Mitra Advokat
Reklame Sandi, kios plat nomor Pela
Ria Halim
Robaga Simanjuntak, RGS & Mitra Advokat
Sari Wulandari, School of Design, Bina Nusantara University
Salma Indria Rahman
Selbi Nugraha, Decorous Contract
Smpn 70 jakarta
Sutino (Kinong), Pengemudi bemo
Suyyibah
Sony Adi Purnomo
Tenny Bagindo, Komunitas Facebook/Electric Vehicle Indonesia
Wahyu Arief Budiman, Komunitas Facebook/Mobil Listrik Indonesia
Wasto, Montir Mobile 08165425394
Wawan Setiawan, RGS & Mitra Advokat
Warga Karet Tengsin
Yudhi Soerjoatmodjo
Yulius Fotografer
ZiggyTHEwizz.

1230 Production
Bengkel ban Iwan Karet
Bingkai Nusantara
Desain Komunikasi Visual Fakultas Senirupa dan Desain Universitas Tarumanagara
Engage Media
Diageo
Dinas Pariwisata DKI Jakarta
Eagle Doc Series
Gerobak Bioskop Ruang Rupa
Gocreates.com
Grafisosial
Kedai Tjikini
Limusnunggal Rubber
(berbagai) Media massa
Paguyuban Bemo Jakarta
Patungan.net
School of Design Binus University
The British Council
Yayasan Astra Honda Motor
Yayasan Nurani Dunia

Bemo Ceria Hasil Mahasiswa dari Lima Universitas

Senin, 14 Juli 2014. Riang ria mewarnai bemo. 12 pengemudi bemo, puluhan pelajar University Technology Sydney, Universitas Multimedia Nusantara, Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Bina Nusantara, DKV Universitas Tarumanagara, dan DKV Institut Kesenian Jakarta berkumpul, berdialog, berkarya.

Bemo.. bemo.. coba bawa saya

Nina Masjhur

Semasa hidupnya, almarhum ibu saya itu jagoan nyetir. Semua mobil yang sempat hadir di keluarga kami, dari jeep willys militer sampai Datsun truk pick-up, dikendarainya dengan piawai. Namun, apa pun merek mobilnya, semua itu adalah mobil-mobil dinas ayah. Alias, bukan milik keluarga kami sendiri. Maka, saya tak heran kalau satu dari dua cita-cita ibu adalah mempunyai mobil miliknya sendiri, dan atas namanya sendiri—cita-citanya yang satu lagi adalah memiliki rumah pribadi yang juga atas namanya sendiri, berhubung puluhan tahun keluarga kami tinggal di rumah yang termasuk bangunan VB milik pemerintah.

Satu kali saya menyangka pada akhirnya cita-cita ibu akan mobil sudah terkabulkan. Waktu itu seorang oom—adik kandung ibu—melungsurkan sebuah Daihatsu hi-jet miliknya ke ibu. Memang bukan mobil baru, namanya juga lungsuran, tapi, yang jelas ini bukan mobil dinas ayah atau siapa pun di keluarga kami. Ini mobil pribadi. Ibu pemiliknya, sejak nama pemilik di STNK berganti menjadi nama ibu. Akan tetapi, ternyata bagi ibu mobil pemberian adik tercintanya itu belum sukses menuntaskan cita-citanya memiliki mobil sendiri. Waduh, ada-ada aja deh ibu ini…

Selama beberapa tahun ibu wira-wiri dengan hi-jet lungsuran tersebut, sampai akhirnya ibu berhasil membeli mobil sendiri. Dengan uang hasil beliau bekerja sebagai penerjemah. Merek mobil yang dipilih ibu adalah Daihatsu. Pasti karena mobil yang terakhir dipakainya adalah merek tersebut, demikian bodoh-bodohnya saya berpikir. Tapi rupanya saya salah. Dari adik bungsu saya yang laki-laki itu, saya dapat informasi bahwa ada alasan lain, dan yang lebih spesifik lagi mengapa merek itu yang diincar ibu. “Lihat tuh bemo-bemo. Sejak 1960-an sampai sekarang mereka masih terus jalan. Keluaran Daihatsu itu, merek bagus dan kuat kan”. Demikian kurang-lebihnya yang dikatakan ibu ke adik saya, yang lalu sampai ke saya.

Aaaaaah…, bemo! Tahu saja ibu saya ini bahwa bemo adalah salah satu produk pabrikan Daihatsu. Dasar supir sejati, rupanya beliau mengamati betapa kendaraan roda tiga yang satu ini bahkan sampai awal abad ke-21 masih mengarungi jalanan-jalanan panas ibukota. Tetap tegar menderum meski harus bertarung dengan jenis roda tiga lainnya yang belakangan tumpah ruah di Jakarta. Tak jeri pula bersaing dengan berbagai tipe angkutan umum lainnya.

Bemo alias becak motor, pada sejarahnya masuk di Jakarta sekitar 1962, menjelang berlangsungnya event olahraga Ganefo. Kendaraan khas asal Jepang ini, di luar Indoensia disebut sebagai Daihatsu Midget. Sebab, kendaraan beroda tiga yang konon sejatinya diproduksi sebagai kendaraan angkutan barang di pedesaan ini, merupakan sebentuk truk kecil alias truk kerdil. Entah mengapa di Indonesia bemo lalu menjadi angkutan di perkotaan dan menjadi alat transportasi manusia. Bila Anda pernah naik bemo, pasti ingat betapa sesaknya enam orang duduk di belakang. Lengkap dengan adu dengkulnya. Karena memang awalnya peruntukannya bukan sebagai alat angkut manusia sih…

Ada yang mengatakan bahwa pangsa pasar si midget ini di Jepang-nya adalah kaum perempuan. Sejauh ini saya belum memperoleh catatan atau tulisan yang memperkuat pendapat tersebut. Yang pernah saya temukan dalam sebuah manga—komik asal Jepang—adalah, kehadiran seorang tokoh perempuan, meski bukan tokoh utama dalam cerita, yang menggunakan truk mini beroda tiga tersebut sebagai kendaraan pribadi bak terbuka.

Bagi saya sendiri, bemo adalah kendaraan spesial, meski saya bukan benar-benar pelanggan setianya. Waktu masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dulu, bemo sempat menjadi bagian dari fantasi masa remaja saya. Apabila saya harus memiliki kendaraan pribadi, maka pilihan saya adalah bemo. Tanpa berpikir jauh bagaimana realisasinya, sebagaimana banyak impian-impian centil masa remaja lainnya. Dan juga tokh tidak pernah benar-benar berniat untuk bisa menyetir kendaraan bermotor. Tapi, yang mengejutkan adalah, ternyata ide bemo sebagai kendaraan pribadi bukan semata hanya ada di kepala saya. Sebuah majalah remaja di Jakarta pada suatu masa, di tiap penerbitannya menyajikan komik strip satu halaman di cover dalam belakangnya. Tokoh utama komik itu adalah seorang lelaki muda. Kendaraan pribadinya bukan sepeda motor atau mobil, melainkan—ya, tepat sekali dugaan Anda—sebuah bemo.

Tadi sudah saya sebutkan bahwa saya sebenarnya bukan pelanggan sejati bemo. Saya lebih seringnya melihatnya berseliweran saja, tapi saya suka sekali dengan penampilannya yang khas itu. Lalu, kenapa bisa saya bukan pelanggan setianya? Pertama, mungkin karena bemo tidak berseliweran di daerah perumahan tempat saya tinggal. Tapi, di dekat-dekat tempat saya sekolah dan juga kuliah, adalah tempatnya berkeliaran. Hanya saja, saya ini anak tentara—kemudian jadi anak pensiunan tentara—dengan persoalan-persoalan ekonomis. Apabila jarak yang harus saya tempuh tidak terlalu jauh, maka biar pun ada bemo secara mandatoris saya harus berjalan kaki. Kalau jaraknya cukup jauh tapi ada transportasi umum yang lebih murah, biskota misalnya, secara mandatoris juga, harus memilih yang itu. Bila tidak ada biskota, nah, baru lah saya berhak menikmati sebuah kemewahan yang bernama ‘naik bemo’. Hmmm…, senangnyaaa…

Ingat Malari tahun 1974? Bagi saya, peristiwa tersebut menjadi bagian dari kenangan saya akan bemo. Bukan karena mentang-mentang Malari merupakan sebuah gerakan anti Jepang, sementara bemo berakar di negara tersebut. Ceritanya begini. Waktu itu saya masih duduk di kelas satu SMP, dan hari itu merupakan hari pelajaran luar kelas berenang. Tempatnya di kolam renang Cikini, yang dilalui oleh bemo ke Manggarai. Kalau pulang kami selalu ramai-ramai naik bemo. Saya turun di Megaria, sedangkan teman-teman yang lain lanjut terus karena mereka tinggal di sekitar Manggarai. Setelah turun, mata saya terus saja melihat ke bemo tadi sampai hilang di pengkolan. Tiba-tiba saja liwat sebuah mobil buatan Jepang dengan seorang lelaki yang bertelanjang dada berdiri di atapnya, membanting sebuah botol ke jalanan aspal sembari berteriak entah apa (botol bir sepertinya). Selanjutnya, tak ada lagi kendaraan apa pun yang melintas. Saya lalu mengikuti orang-orang yang ramai-ramai berjalan kaki menuju Salemba melalui RSCM. Terus sampai rumah saya di daerah Polonia Cipinang Cempedak, dekat Otista, di Jakarta Timur. Di persimpangan Salemba ada mobil dibakar. Untungnya bemo yang membawa teman-teman saya aman-aman saja.

Sederhananya pemikiran saya, Malari tak cukup sukses menghentikan seliweran mobil-mobil Jepang secara permanen. Termasuk bemo tentu saja, si biru di sekitar Jakarta Pusat, atau si jingga dan si merah di daerah Jelambar, Jakarta Barat. Bahkan sampai sekarang, hampir sepuluh dekade sejak ibu menguatkan niatnya hanya mau membeli mobil dengan merek Daihatsu. Walau pun, mungkin topi yang kita angkat seharusnya dipersembahkan kepada para mekanik lokalnya di Indonesia. Sebab, sesungguhnya berkat mereka lah si Daihatsu midget ini masih terus meluncur tak tertahankan. Meski suku cadang aslinya sudah tidak bisa diperoleh. Karena, produksinya sudah lama dihentikan oleh pabrik pembuatnya.

Undangan Publik dan Pers

Dengan hormat,
Paguyuban Bemo Jakarta dan komunitas warga pemerhati bemo bermaksud silahturahmi ke Balai Kota DKI Jakarta. Harapannya adalah menemui Bapak Gubernur dan/atau Wakil Gubernur DKI Jakarta untuk menanyakan kemungkinan pelestarian bemo di Jakarta.

Bersama para pengemudi bemo Jakarta, sebuah komunitas pemerhati bemo mempersiapkan sebuah purwarupa, yang diharapkan dapat menjadi solusi yang menjawab permasalah polusi udara dan suara yang ditimbulkan bemo saat ini. Bila pemerintah provinsi mendukung, bemo bertenaga listrik, yang kami namakan BioBemo, diharap dapat menjadi konversi keberadaan bemo yang ada. BioBemo bertenaga listrik, sehingga ramah lingkungan, bebas polusi udara dan suara, dan diharapkan dapat memberi pendapatan lebih bagi para pengemudi.

Dengan ini kami mengundang teman-teman untuk berpartisipasi, di

Hari Rabu
20 Maret 2013
Pukul 12.00
Lapangan Monumen Nasional (Monas)

Sila sebar materi publikasi/undangan dijital ini.
Terima kasih atas perhatiannya.
Sampai jumpa.

salam

Horee.. Buku Manual Bemo Terbitan 1972

Siang itu, aku mampir ke sebuah toko penjual suku cadang bemo sejak 1960an.

IMG_2304
Aku diperbolehkan menggandakan buku manual ini. Terbitan produsen bemo: Daihatsu Kogyo Co., 1972.

Senangnya..

IMG_2323

IMG_2306

Namanya buku manual di dalamnya banyak pengetahuan soal komponen asli..

IMG_2308

IMG_2310

Semoga satu saat nanti, aku dapat kembali untuk mendengar cerita zaman dulu mereka 🙂