Gejala Universal yang Indah

Sebuah kritik sosial dalam bentuk karya seni rupa dipaparkan dengan sangat baik oleh Setu Legi dan kawan-kawan melalui karya berjudul Universal Syndrome. Bagi saya, karya ini secara jelas menggambarkan situasi masa kini, di mana kelembutan alam semesta secara nyata berdampingan dengan berbagai perusakan yang dibuat oleh manusia dengan alasan membangun kehidupan. Ini bukan soal gejala universal. Karya ini bercerita tentang fakta yang terjadi saat ini.

Karya Setu Legi ditempatkan pada sebuah ruang yang luasnya kurang lebih sama dengan ruang-ruang pamer lainnya di dalam ArtJog 10 – yaitu sekitar 4 x 8 meter. Situasi sesak dan sempit segera terasakan ketika memasuki ruangan itu. Keempat dindingnya adalah ‘kanvas’ bagi mural yang menggunakan tanah liat sebagai media lukisnya. Mural yang menggambarkan proses pembangunan, antrian kendaraan, asap, gedung, yang berdampingan dengan ratusan manusia berwajah datar itu mengelilingi sebuah tiang besi berbentuk batang pohon yang menembus payung kain batik yang berlubang di tengahnya. Di beberapa titik di depan mural terdapat beberapa rangkaian batang-batang besi yang diletakkan di atas kantung semen dan karung. Rangkaian batang-batang besi itu masih kosong, belum terisi semen, belum menjadi tiang-tiang beton yang akan menopang sebuah konstruksi.

Melihat dari bawah, payung berkain tipis yang terbuka lebar itu hampir menutupi langit-langit ruangan. Kesan sesak tadi menjadi sedikit terobati oleh keindahan visual berteknik batik yang muncul dari adanya sorotan cahaya lampu di atasnya. Siluet dari sebuah bintang besar mendominasi bagian tengah payung. Gambar itu diisi oleh garis-garis berwarna coklat tua dan muda, seperti yang biasa terlihat pada penampang sebuah batang pohon yang ditebang. Di sekitar siluet, warna biru muda menjadi latar belakang bagi gambar-gambar rasi bintang. Terdapat deretan teks dengan garis-garis di antara mereka, dan beberapa satelit berukuran kecil yang semuanya berwarna senada dengan kain.

Di dalam karya ini Setu dan kawan-kawan berhasil menghadirkan karya seni bernilai estetika tinggi. Setu mengolah nilai-nilai formalistik dengan sangat baik di samping memunculkan kekuatan ekspresivistik yang memadai. Nilai-nilai formalistik di dalam karya ini dapat dijumpai antara lain dalam penggunaan teknik batik pada payung dan penggunaan tanah liat pada mural, keduanya memperlihatkan kemampuan teknis yang maksimal. Payung yang luasannya dibuat hampir melingkupi keseluruhan ruang itu dapat dianggap sedang menggambarkan alam semesta. Ia ditampilkan melalui teknik batik yang mengekspresikan kelembutan mempesona. Di sekelilingnya, mural dibuat dengan menggunakan tanah coklat yang diguratkan secara kasar untuk mengekspresikan kehidupan yang serba cepat, serba instan, dan nir makna. Keseimbangan dan kuatnya dua aspek formalistik dan ekspresivistik inilah yang mendorong karya ini sehingga dapat dianggap sebagai karya seni berestetika tinggi.

Melihat karya Setu ini, saya teringat dengan karya-karya kelompok Paper Moon Puppet. Dua karya yang sangat berbeda secara formal, namun saya menangkap adanya kesamaan ekspresi dan pesan. Penggunaan warna-warna yang pucat, deformasi pada bentuk, dan garis yang cenderung tidak lurus adalah beberapa elemen teknis yang muncul pada keduanya. Kesamaan ekspresi yang dapat saya rasakan adalah adanya suasana genting dan was-was yang selalu hadir bersamaan dengan lontaran pesan-pesan yang esensial, serta adanya secuil pandangan pesimis pada usaha-usaha bernilai estetis yang sebenarnya menyenangkan untuk dieksplorasi.

Sebuah kritik sosial berupa karya seni rupa, hadir di sebuah ruang pamer ArtJog 10. Karya Setu menghadirkan realita secara elegan di hadapan banyak manusia yang memiliki kecenderungan merusak alam semesta.

Baru Jalan

Karya berjudul On the Way ini bisa jadi merupakan awal dari sebuah ibadah kesenian dalam bentuk lain bagi Suranto “Kenyung”. Seperti yang diceritakan Heri Pemad yang turut mengkurasi karya-karya ArtJog 10, enam bulan sebelum perhelatan ArtJog 10 digelar, Kenyung dikenal sebagai pekerja seni yang sering membantu di saat persiapan sebuah pameran. Kenyung biasa menjadi asisten produksi bagi seniman yang akan berpameran. Cerita mengenai Kenyung menjadi berbeda, ketika proposal karya yang diajukan pada para kurator ArtJog 10 diterima. “Diterima, dengan catatan tentunya”, kata Pemad. Ibadah kesenian yang biasa Kenyung lakukan sebagai tukang seni, kemudian bergeser menjadi seniman muda berbakat.

Di sebuah ruangan putih, karya terakota milik Kenyung diletakkan, menjauh dari pintu masuk, sehingga pada saat pertama saya melihatnya, ia nampak seperti sebuah bangunan batu-bata yang berada jauh di ujung sebuah ruang yang memanjang. Kesadaran saya menghentak, ketika mendekati karya tersebut dan mendapatinya di hadapan saya sebagai sebuah karya seni yang dikonstruksi oleh ribuan miniatur batu-bata. Berbeda dengan miniatur kota Madurodam di Den Hag, Belanda Selatan yang terkenal itu, tumpukan batu-bata mini yang membentuk dua bangunan ini tidak jelas, apa pesan yang ingin disampaikan.

Karya Kenyung berupa tanah liat yang dibentuk persegi panjang berukuran kecil yang kemudian dibakar dan menghasilkan lempengan terakota berwarna coklat kemerahan, layaknya batu-bata yang umum digunakan untuk membangun rumah. Batu-bata Kenyung berukuran mini, masing-masing 12 x 24 x 5 mm, luasnya tidak lebih besar dari kuku orang dewasa. Lebih dari 3.000 keping batu-bata mini yang diproduksi oleh Kenyung sejumlah 800 keping per hari itu, disusun menjadi dua bangunan berupa tembok yang melengkung. Dari atas, kedua bangunan itu berbentuk seperti amuba – oval – dan hampir bersentuhan pada satu sisi. Pinggiran bagian atas tembok terlihat tidak rata, bahkan seperti pernah runtuh di beberapa bagian. Sebuah gundukan reruntuhan atau timbunan batu-bata cadangan, tampak ditumpuk di dekat persimpangan dua bangunan itu.

Secara teknis, Kenyung membuat ribuan batu-bata mini dengan kualitas detail yang sulit diikuti. Setiap batu-bata memiliki karakternya masing-masing – khas hasil produk industri rumahan. Bentuk dan keberagaman warna batu-bata yang diproduksi mendekati benda aslinya di dunia nyata. Bentuknya yang persegi empat, memiliki dimensi panjang, lebar, dan tinggi yang proporsional. Di antara batu-bata mini yang umumnya berwarna coklat ke merahan, ada pula yang merah merona, dan beberapa yang hitam legam karena diletakkan terlalu dekat titik api saat proses pembakaran. Ribuan terakota persegi empat itu sangat mirip dengan apa yang dapat kita temui di toko-toko bangunan, dengan beda hanya pada ukuran dan adanya huruf A, R, dan T yang terembos di satu sisinya.

Namun secara ekspresivistik, belum terlalu jelas apa yang ingin ia sampaikan. Apakah ini adalah karya pemicu? Pemicu untuk adanya karya-karya seni yang menggunakan elemen batu-bata mininya? Kenyung mungkin membuat batu-bata mininya untuk dapat digunakan dan susun ulang seperti LEGO – kotak-kotak plastik berwarna-warni, bertonjolan sebagai ‘pengunci’, yang dikenal dunia sebagai mainan modular yang dapat disusun menjadi bentuk apapun. Kurator ArtJog 10 mungkin melihat besarnya nilai formalistik dari karya Kenyung, sehingga dapat dianggap ‘cenderung lengah’ dalam memperhatikan nilai ekspresivistiknya. Wujud visual yang ditampilkan terlihat lebih dominan, maksimal, dibandingkan dengan apa yang ingin diekspresikan oleh seniman muda tersebut.

Bagi saya, Kenyung seperti berusaha melontarkan gagasan sederhana, yaitu: membangun. Membangun apa saja dari hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. Membangun adalah bagian dari mengonstruksi kehidupan yang bermakna. Dengan batu-bata skala mikro, sang seniman menghadirkan sebuah elemen estetika sehari-hari ke dalam sebuah ruang pamer yang putih, terang-benderang, bebas distorsi, untuk mengingatkan tentang pentingnya hal yang sepele. Kenyung mengingatkan saya tentang batu-bata, sebagai benda sepele, merupakan hasil sebuah proses kerja yang ditangani serius, sehingga kualitas yang diperoleh kemudian dapat menunjang fungsi apapun yang ditetapkan untuknya.

Karya On the Way di dalam ArtJog 10 dapat dianggap melakukan pendekatan estetika dengan baik. Batu-batu bata mini sebagai obyek inti pada karya dibiarkan untuk ‘berbicara’ sendiri, tanpa dibebani konteks atau teks yang dimiliki seniman. Pendekatan rekonstruktif pun dirasa sedang diusahakan. Hal ini terlihat dari dinding batu-bata mini yang dibuat melingkar secara organik, seperti sedang membangun sebuah narasi – satu hal yang belum tersampaikan dengan jelas. Benar apa kata Heri Pemad, Suranto “Kenyung” baru memulai ibadah seni yang sesungguhnya. Karya On the Way dapat saja mengubah perjalan hidup seorang Kenyung. Perjalanan Kenyung masih panjang dan berliku untuk mencapai tujuan beribadah yang diharap telah ia tentukan.

Save

Lukisan yang Ingar Bingar

Saat berkeliling, masuk-keluar dari banyak ruangan yang ada di Museum Nasional Jogjakarta, saya sempat melihat karya Dedy Sufriadi ini sebentar. Hanya sebentar, sebelum lampu mati – sebelum gelap gulita. Saat terhentinya waktu untuk menikmati lukisan dengan kondisi gelap itu, saya seperti diberi tanda untuk kembali di hari lain, di saat lampu menyala dan pengunjung tidak terlalu berdesakan. Dua hari kemudian, saya kembali ke Museum Nasional Jogjakarta, tempat di mana ArtJog 10 diselenggarakan. Sambung rasa dengan karya berwarna kuning itu pun terjalin kembali – kali ini bebas hambatan.

Karya ini berukuran besar, digantung pada satu dari banyak dinding yang dibangun khusus untuk perhelatan ArtJog 10. Lukisan dengan cat akrilik berwarna kuning keemasan dan spidol hitam di atas kanvas berbingkai kayu berwarna putih gading ini sepanjang empat meter lebarnya dan setinggi manusia pada umumnya. Dalam karya berjudul yang sulit dimengerti: Hypertext, Senjakala Berhala dan Antitesis #1, Dedy Sufriadi berhasil memberdayakan dua ukuran spidol permanen yang umum ada di pasaran, mungkin bermerk Snowman tipe 550 dan G12, untuk menghasilkan visual dari narasi-narasi, tanpa terlalu kentara memperlihatkan keterbatasan tebal huruf yang dapat dihasilkan. Teks-teks berwarna hitam di depan latar berwarna kuning itu ditulis dengan tangan, kadang besar dan tebal, lebih sering berukuran kecil dan tipis. Seluruh permukaan kanvas itu dipenuhi oleh tulisan berbahasa Indonesia yang diapit oleh garis-garis horizontal yang dibuat seadanya, tanpa penggaris.

Teks pada karya Dedy ini terlihat seperti sedang berteriak atau marah-marah, karena semuanya menggunakan huruf besar – huruf kapital tanpa kait. Kombinasi besar-kecil dan tebal-tipisnya huruf yang muncul berhasil membuat karya itu menampilkan sebuah komposisi visual yang dinamis. Badan teks berukuran besar dan berhuruf tebal di satu ‘paragraf’ dengan tepat disandingkan dengan barisan teks dengan huruf yang berukuran lebih kecil bergaris tipis. Huruf-huruf yang berkelompok itu, masing-masing terlihat ekspresif, mereka secara bersama-sama seolah-olah menjejalkan teriakan yang hingar bingar dan bisikan yang lugas ke dalam kepala saya. Tanda baca dan spasi antar kata yang biasa menemani sebuah tulisan menghilang di dalam karya ini, membuat pencarian awal dan akhir kalimat menjadi mustahil untuk dilakukan. Kerapatan jarak antar huruf yang bervariasi kadang memberi sedikit ruang untuk bernafas. Lukisan ini terlihat sedang menyampaikan banyak sekali pesan yang disampaikan secara berjejal dan hiruk pikuk, sehingga meninggalkan kesan bahwa jangan-jangan memang hanya residu dari pesan itulah yang ingin disampaikan.

Dari lukisan karya Dedy ini saya menangkap pesan tentang banjir informasi, banjir kata-kata, dan ketidaksempurnaan dalam pendidikan di sekolah perihal menulis halus yang memberi kebebasan munculnya berbagai ekspresi secara non-linear. Rentetan informasi yang dikirim melalui berbagai perangkat elektronik dan diterima melalui beragam gawai yang tersedia di sekeliling kita sering memunculkan rasa terkepung dalam benak. Kesempatan untuk diam, mengendapkan, dan memprosesnya menjadi sesuatu yang produktif sering kali merupakan hal yang langka, bila tidak bisa disebut tidak ada. Di mana-mana terjadi kepadatan kata-kata walau sebetulnya kita masih memiliki hak untuk memilih: mau mengurainya atau tidak. Kehidupan hingar bingar informasi dan kata-kata itu pun dibarengi dengan kegagalan pendidikan, khususnya pendidikan mental melalui pelajaran budi pekerti. Pelajaran menulis halus dianggap tidak berguna, dihilangkan, karena sudah ada papan ketik yang dapat menghasilkan tulisan dengan tingkat keterbacaan sesuai standar yang diakui oleh industri. Kita menjadi lupa akan adanya pendidikan mental yang mengajari kita untuk dapat mengontrol diri; kapan waktu yang tepat untuk menekan pinsil agar tulisan dapat terlihat tebal, kapan saatnya untuk sedikit meringankan pergelangan tangan agar dapat menghasilkan garis tipis pada huruf yang sedang ditulis. Kontrol diri ini menjadi penting saat ia dibutuhkan dalam menghadapi situasi kontemporer, di mana kebebasan berekspresi, yang sesuai dengan teori pasca-modern itu, telah ikut memerdekakan pihak-pihak yang tidak paham soal budi pekerti.

Sebuah tulisan, teks, memang selalu perlu untuk ditinjau secara berulang. Teks yang tertulis belum tentu bermakna seperti apa yang terbaca. Selain secara denotatif, teks perlu diperiksa kembali apakah memiliki makna konotatif di baliknya. Dalam hal ini kehadiran konteks menjadi penting, agar makna teks yang tepat dapat diperoleh. Karya Dedy Sufriadi ini memiliki nilai estetika yang baik sekali karena didukung oleh nilai-nilai formalistik dan ekspresivistik yang tinggi. Dedy menggunakan berbagai kemampuan teknis yang dimilikinya secara berimbang dengan kemampuannya dalam mengekspresikan pemikiran yang ingin disampaikan.