Suryanto Sastraarmodjo : ensiklopedi berjalan kebudayaan jawa

1997_awal Maret_Edisi 064_kenal:
Suryanto Sastraarmodjo : ensiklopedi berjalan kebudayaan jawa

Mohon informasi sekitar atribut Prajurit Prawirotomo. Apasajakah Bintang Keprabon Surakarta? Apa yang disebut abdi dalem Magang Priyatun?

Begitulah kurang lebih pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kolom Bokor Kencana milik Harian Bernas. Lalu, siapa yang menjawab semua pertanyaan itu? Siapa yang dengan gamblang menjelaskan bahwa Kanduruhan Nata-Ngulama sama, pandita, atau sesepuh padepokan, yang bercorak saling menguntungkan, terutama pada masa perang?

Ternyata ada Suryanto Sastraatmodjo yang sepertinya selalau dapat menjawab pertanyaan apa pun tentang kebudayaan Jawa, mulai dari merinci anggota korps Prajurit Prowirotomo sampai menceritakan bagaimana pada tahun 1740. Sunan Kartasura (paku Buwono II), pernah terdesak oleh Sunan Kuning sehingga harus mengungsi ke pesantren Gebangtinatar. Luar biasanya, penjelasan seperti ini adalah obrolan biasa bagi pria kelahiran 20 Februari 1958 ini.

Seorang Suryanto Sastraatmodjo tentu tidak akan menjadi istimewa tanpa kecintaan akan Budaya Jawa yang dimilikinya.

Cinta dapat menjadikan kita tahu dan paham,” ungkapnya.

Dilahirkan dalam keluarga keturunan ningrat, tidak saja menjadikan pria ini memiliki pengalaman menjadi penganten sunat dalam upacara adat tujuh hari-tujuh malam, tapi juga pengalaman untuk “menjadi Orang Jawa”, lengkap dengan pendalaman spiritualnya.

Kalau pria kelahiran Bojonegoro ini memilih dunia sastra sebagai perjalanan hidup yang dilakoninya, itu karena ia ingin karyanya tidak lekang karena waktu. Sastra adalah abadi, saat ini dapat berupa goresan tinta, di masa mendatang dapat tetap dinikmati dalam bentuk microfilem. Paling tidak itu alasannya untuk memilih dunia sastra dan menghasilkan karya seperti Malahayu. Sebuah Roman Mbeling, Serat Sekar Mayaretna, dan banyak lainnya, yang beberapa di antaranya telah diterjemahkan dan menjadi koleksi perpustakaan di Amerika dan Belanda.

Di kediamannya di bilangan Nagan Lor, Yogyakarta, Suryanto Sastraatmodjo siap menerima tamu kapan dan siapa saja. Tapi, ada satu hal yang harus disiapkan oleh tamu yang datang, yaitu waktu. Anak kelima dari sebelas bersaudara ini punya enerji berlebih bila sedang bertutur. Berjam-jam lamanya dapat ia habiskan untuk bercerita dan mendengar.

Seorang Suryanto Sastraatmodjo bisa jadi seorang yang langka. Tidak saja karena pengetahuannya, tapi juga karena kebiasaannya bekerja. Ia memilih waktu untuk bekerja dari jam 24.00 sampai dini hari. Artinya, pada saat yang lain lelap, Suryanto Sastraatmojo memilih mengasah benak dan batinnya.

Leave a Reply

Close Menu