Surat dari Yudhi Soerjoatmodjo

Tuesday, December 16, 2008, 9:19 AM

Mas DHW dan kawan-kawan yang baik,

Selama ini upaya penyelamatan gedung-gedung tua dilakukan dengan cara mengangkat nilai sejarah dan kulturalnya. Sepertinya pendekatan ini kurang mampu menyentuh pihak-pihak penentu kebijakan/pembuat keputusan seperti pemerintah dan bahkan masyarakat luas untuk bertindak.

Barangkali yang perlu kita coba adalah sebagai berikut:

  • Mempersoalkan gedung-gedung bersejarah bukan sebagai benda yang sekadar perlu dilindungi melainkan sebagai bagian dari suatu ekosistem ekonomi-sosial yang lebih luas dari kawasan di mana benda itu berada. Ekosistem ini terutama mencakup manusia dan kegiatan ekonominya. Segala pembicaraan tentang identitas budaya serta sejarah masa lalu harus juga mengangkat potensi ekonomi dan sosial masa depannya. Silahkan baca catatan akhir tahu seni budaya-nya mas Bre di Kompas Minggu (kalau tidak salah tanggal 7 Desember) tentang tumbuhnya ekosistem kegiatan kreatif di kasawan Kemang-Buncit-Pejaten akhir-akhir ini dan bagaimana hal ini mendorong pertumbuhan ekonomi dan kreatifitas di sana .
  • Membuat sebuah business case untuk pelestarian ekosistem ini (bukan cuma bendanya). Kita tahu bahwa penghancuran (baca: mengalihfungsikan dan mengalihwujudkan) gedung-gedung bersejarah hampir selalu didorong oleh alasan ekonomi. Kenapa? Tidak lain karena gedung-gedung tua, dalam bentuknya yang asli, tidak atau sangat sedikit memiliki fungsi ekonomis baik bagi pemiliknya maupun bagi masyarakat di sekitarnya. Dalam foto yang dikirim Dharmawan tampak bahwa gedung bersejarah tersebut cuma jadi tempat parkir angkot dan gerobak. Jadi yang diperlukan adalah ide/usulan bisnis bagaimana gedung bersejarah tersebut bisa memberikan nilai ekonomis yang bagus bagi pemilik dan masyarakat di sekitarnya dalam bentuknya yang asli.
  • Membuat proyek percontohan bagi upaya pelestarian di seluruh Indonesia . Dalam proyek ini yang menjadi fokus interaksi bukanlah gedung bersejarahnya, tapi manusianya dalam hubungan (ekonomi) dengan gedung-gedung tersebut. Ini seperti proyek-proyek lingkungan hidup di mana masyarakat yang tadinya menjadi penjarah hutan malah dibina dan dilatih menjadi pelindung hutan. Transformasi ini hanya mungkin bilamana insentif ekonomi untuk melindungi gedung beresjarah sama besarnya atau bahkan lebih besar ketimbang membongkar dan mengalihfungsikan nya untuk dijadikan kantor atau pertokoan atau mempreteli elemen-elemen gedung tersebut (kusen, hiasan, dsb) satu per satu.

Salah satu contoh adalah upaya yang dilakukan Yayasan Rotan untuk mengurangi penjarahan hutan di Kalimantan . Yayasan tersebut, yang antara lain dilakoni teman kita Leo Theosabrata, menanam rotan disekitar hutan (sehingga menyulitkan masyarakat masuk ke dalam hutan). Tidak berhenti disitu, Yayasan kemudian juga memberi pelatihan yang bertujuan menjadikan masyarakat di sekitar kawasan hutan terampil dalam pengolahan dan pengerjaan rotan untuk industri perabot dan perkakas. Berkat insentif ekonomi ini masyarakat tak perlu lagi menjarah hutan untuk kelangsungan hidupnya. Mereka punya cara lain –menanam, memanen, serta mengerjakan rotan— untuk mencari uang. Hanya dengan cara ini upaya pelestarian bisa berkesinambungan.

Contoh yang lain adalah upaya pelestarian terumbu karang di Bali atau pulau Komodo –semua berpusat pada manusia dan kegiatan ekonomi dalam kasawan di mana benda-benda (atau makhluk) yang perlu dilindungi berada.

Hal ini yang justru absen dalam upaya pelestarian gedung bersejarah selama ini. Revitalisasi kawasan kota tua atau gedung arsip terutama masih berpusat pada bendanya, bukan manusianya. Akibatnya upaya pelestarian menjadi mahal (karena berpusat pada renovasidan pemelihatan fisik gedung thok) dan tidak berkesinambungan (masyarakat di sekitarnya tetap tidak peduli karena tidak mendapatkan manfaat ekonomi sementara pembiayaan ongkos pemeliharaan –yang biasanya hasil sumbangan—suatu hari akan berhenti juga).

Seperti kata orang bijak: Berikan ikan pada seseorang maka ia akan makan sehari. Tapi kasih pancing dan umpan padanya, maka ia akan makan seumur hidup.

Semoga bisa jadi bahan pertimbangan.

Salam,

Yudhi Soerjoatmodjo

Leave a Reply

Close Menu