Sulitnya merawat karya kertas

2001_Oktober_Edisi 129_Nuansa:
Sulitnya merawat karya kertas
Rohman Yuliawan/Nila/Joni Faizal

Koleksi kertas-baik itu sebagai arsip sejarah atau karya seni merupakan koleksi yang sangat rentan terhadap kerusakan. Itu juga barangkali yang menyebabkan tidak banyak kolektor mau menyimpan karya seni dari kertas dibanding media lain yang lebih mudah merawatnya. Kertas pada dasarnya memang merupakan media yang rapuh. Lembaran yang terbuat dari serat selulasa dan serat buatan ini dalam prosesnya mengalami pengerjaan penggilingan ditanbag beberapa bahan tambahan yang saling menempel dan menyatu. Terutama kertas-kertas yang mempunyai berat kurang lebih 165gr/m2 ini juga dari bahan-bahan kimia yang mudah terpengaruh oleh lingkunganny. Terutama kertas0kertas modern yang diproduksi setelah tahun 1850. Di dalam bahan kertas yang terbuat dari bahan seperti pulp misalnya, mengandung selulasa, lignin dan hemiselulasa. Lignin inilah yang menyebabkan kertas mudah teroksidasi dengan mikroba serta membuatnya cepat rusak.

Di Negara tropis seperti Indonesia, tingkat serangan atas kerusakan itu jauh lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti lingkungannya, cuaca dan juga biota. Temperatur dan kelembaban tinggi merupakan musuh utama kertas. Temperatur dan kelembaban yang tinggi akan menyuburkan pertumbuhan jamur dan serangga serta tinta yang larut dalam air akan menyebar sehingga akan saling menempel. Sedangkan kelembaban yang rendah menyebabkan kertas menjadi getas dan kering. Cahaya juga mempunyai pengaruh pada kertas. Cahaya yang tinggi menyebabkan kertas menjadi cepat pucat dan tinta memudar. Di sini lignin pada kertas bereaksi dengan komponen lain sehingga kertas berubah jadi kecoklatan.

Faktor lain yaitu udara dan biota. Udara yang buruk, seperti pencemaran dari pabrik-pabrik, kendaraan bermotor serta pembakaran minyak bumi dapat merusak koleksi karena oksidasinya bereaksi dengan oksigen berbentuk asam yang merusak. Sedangkan faktor biota dapat tumbuh dari ruangan koleksi yang gelap, dan memiliki sedikit sirkulasi. Ini menimbulkan pertumbuhan jamur dan serangga yang mengakibatkan koleksi menjadi tidak lagi dapat ditolong.

Di Indonesia, perawatan terhadap barang-barang yang terbuat dari kertas umumnya masih sangat sederhana untuk tidak mengatakannya terkebelakang. Karena biaya yang diperlukan untuk perawatan tersebut mahal, umumnya galeri-galeri maupun museum menyimpannya dengan teknologi seadanya. Misalkan menaruhnya dalam display kaca, menyimpan dalam plastic, atau dengan memperbanyak menabur kapus barus diantara karya-karya itu. Tentunya cara-cara seperi ini hanya bersifat sementara, karena masalah perawatan kerta jauh lebih rumit dan berbiaya besar.

Museum Affandi, misalnya, yang memiliki sekitar 94 lukisan kertas yang rata-rata berusia diatas 94 tahun, bahkan ada karya kertas dari tahun 1924. Menurut Selarti Venetsia Saraswati, kurator museum Affandi, metode perawatan karya kertas yang dilakukan di Museum Affandi dilakukan dengan membingkai karya dengan kaca, melakukan rotasi lukisan yang dipajang dan menyimpan di ruang khusus (basement) dengan suhu dan kelembaban yang diatur. Karya kertas juga diberi lapisan tambahan kertas ocid free agar lukisan tidak dimangsa serangga.

Selarti juga menambahkan bahwa perawatan karya kertas lebih sulit, terutama karena kertas yang sudah berumur dan rapuh membutuhkan ketelatenan yang lebih. Menurutnya karya kertas juga lebih sulit direstorasi dibandingkan karya di atas kanvas atau media lain yang lebih kuat.

Lalu Bagaimana agar perawatan karya kertas terpelihara? Menurut Mega Sagita, dari laboratorium Konservasi dari Dinas Museum DKI mengatakan bahwa konservasi kertas meliputi langkah-langkah panjang. Seperti tes kerapuhan, keasaman, kelenturan, pembasmian serangga dan jamur, pembersihan, pemutihan, deasifikasi hingga penambalan. Sedangkan untuk memperkuat daya tahan karya kertas dapat dilakukan dengan memperkuat yaitu dengan melakukan pelapisan bagian belakang. Teknik lainnya adalah laminasi yaitu teknik memperkuat koleksi kerta melalui pelaisan dua permukaan atas karya dengan menggunakan bahan penguat. Sementara teknik enkapsulasi dipakai dengan menggunakan bahan pelindung untuk menghindari kerusakan fisik koleksi.

Meskipun teknologi perawatan kertas semacam ini sudah dilakukan di Indonesia, namun menurut Mega Sagita pula, teknik-teknik itu diadopsi dari cara-cara barat yang sama sekali tidak memperhitungkan keadaan Negara-negara tropis. Bagi seniman maupun kolektor pemilik karya kertas keadaan ini tentu saja menjadi batu ujian. Namun sejatinya, karya-karya kertas ini harus tetap ada.

Leave a Reply

Close Menu