stromanlemingen=peminjam berkedok

2000_Agustus_Edisi 115_bahas:
stromanlemingen=peminjam berkedok
Ade Tanesia

Pada jaman colonial, dikenal istilah stromanlemingen atau orang yang berhutang pada bank dengan menggunakan orang ketiga sebagai kedok. Biasanya,peminjam tersebut adalah kepala desa maupun anggota-anggota lain dari bank desa dengan menggunakan nama orang lain. Di Jawa Tengah, praktek ini dinamakan “tempelan” dan di Jawa Timur disebut “topengan”. Sebuah majalah bulanan Volkscredietwezen tahun 1934 menyebutkan penyelidikannya bahwa topengan atau tempelan ini dianggap paling mencemaskan perkreditan rakyat pada masa itu. Sebabnya tidak lain pinjaman-pinjaman berkedok ini paling suilit diketahui. Kedok-kedoknya merupakan orang-orang yang sudah terlatih dalam memberikan keterangan yang tidak benar, sehingga penyelewengan ini baru diketahui apabila sudah mencapai tahap yang lanjut dimana sejumlah uangnya sudah sedemikian rupa sehingga pengurus desa tidak mampu lagi menutupi tunggakan tersebut, barulah orang-orang yang namanya tercatat sebagai peminjam yang menunggak itu diminta pertanggungjawabannya, mereka memberikan keadaan yang sebenarnya.

Berkenan dengan pinjaman-pinjaman tempelan itu, penyelidikan tersebut telah menyingkap hal-hal berikut:
Pada semester 3 tahun 1933
Jumlah uang yang tersangkut 11.990 (gulden) 300 bank mengalami ketidak beresan 1,848 orang terlibat
Pada tahun 1934
Jumlah uang yang tersangkut 13.200 (gulden) 493 bank mengalami ketidak beresan 1,838 orang terlibat kasus.
Jadi, selama 3 triwulan (1933) terakhir 5% di semua bank desa di Jawa telah tercatat adanya pemberian pinjaman tempelan. Sedangkan untuk tahun 1934 presentasenya adalah 7,8% dari semua bank desa. Uang yang dilibatkan di dalamnya mencakup 0,1% dari keseluruhan pinjaman yang diberikan pada tahun itu, sedangkan orang yang tersangkut mencakup 0,1% dari keseluruhan jumlah peminjam. Jumlah ini menurut Sumitro Djojohadikusumo dalam disertasinya berjudul “Kredit Rakyat Di Massa Depresi” sama sekali tidak berarti jika dibandingkan dengan jumlah peminjam dan uang yang dipinjamkan.

Pada jaman mereka seperti sekarang, banyak peminjam mulai miliaran hingga triliyun rupiah dari bank tanpa perlu berkedok seperti yang dilakukan kroni-kroni penguasa Orde Baru. Bayangkan kalau jumlah uang yang tersilap itu mencapai 30% dari pinjaman luar negeri Indonesia. Dan repotnya, pinjaman nakal itu masih bebas lenggang kangkung, meskipun sudah ada pasal-pasal yang dapat menjeratnya. Uh!

Leave a Reply

Close Menu