stop diskriminasi pada kaum diffable

stop diskriminasi pada kaum diffable

2001_Mei_Edisi 124_Peduli:
stop diskriminasi pada kaum diffable
Ade Tanesia/Rohman Yuliawan

Ketika pertama kali menginjak kota Jakarta,Ivar Jadre sungguh tertekan. Pasalnya Jakarta sebagai kota metropolitan sekalipun sangat minim fasilitas umum untuk kaum diffable (penyandang cacat) berkursi roda seperti dirinya. Sangat berbeda dengan kondisi di Norwegia, fasilitasnya begitu lengkap sehingga mobilitas diffable cukup tinggi. Tanpa disadari banyak di Indonesia telah diskriminatif terhadap mereka.

Gerakan Aksesibilitas Umum Nasional (GAUN) 2000 yang telah dicanangkan Presiden Abdurachman Wahid pada bulan Juni tahun lalu memang sebuah bentuk perhatian negara terhadap para diffable yang jumlahnya sekitar 10,5 juta jiwa di Indonesia. Selama ini mereka selalu dihadapkan pada hambatan arsitektur sehingga mobilitas kesehariannya sungguh terbatas. Banyak kesulitan bagi kaum diffable untuk hanya keluar dari rumahnya. Meskipun sudah ada UU no 4/1997 tentang penyandang Cacat yang mengharuskan penciptaan aksesibilitas bagi kaum diffable dalam rangka kemandiriannya (pasal 6), tetap saja belum ada kesadaran masyarakat untuk menyediakan tempat bagi mereka. Sarana umum yang ada tidak menyediakan alat bantu untuk mereka seperti kursi roda, tongkat penuntun, kruk, trotoar dengan ujung landai (ramp), dan sebagainya. Padahal prinsip aksesibilitas, tiap ruang publik harus menyediakan fasilitas untuk orang yang memiliki perbedaan kelengkapan tubuh.

Seharusnya sebuah ruang publik yang menggunakan tangga membuat jalur landai sehingga kursi roda bisa meluncur. Juga telepon umum dipasang rendah, disediakan pegangan di WC, perpustakaan memiliki koleksi buku berhuruf brile. Khusus untuk kaum tuna netra yang menggunakan tongkat penuntun disediakan guiding block dan warning block, pegangan dari pipa besi di sepanjang dinding pada jalan yang menurun. Tempat-tempat yang sudah cukup memadai antara lain Bandara Soekarno-Hatta yang telah menyiapkan fasilitas diffable di toliet, lift, jalur kursi roda dan penyiapannya, lokasi parkir disertai logo standar internasional. Namun hal ini pun sudah terdapat standar untuk lapangan udara internasional. Salah satu kota yang ingin menjadi pelopor untuk fasilitas umum diffable ini adalah Yogyakarta. Perlahan-lahan sudah dilaksanakan pembangunan guiding dan warning block di Malioboro dan ramp di stasiun KA Tugu.

Diffable (people with different ability):
Mulai dari cacat fisik sampai ibu hamil
GAUN 200 ini tak akan berarti jika cara pandang masyarakat terhadap kaum diffable masih diskriminatif. Artinya tetap memberikan cap “cacat” pada mereka, yang diidentikkan dengan ketidakmampuan, ketidak berdayaan, ketidak berartian sehingga menjadi beban. Setia Adi Purwanto dari LSM Dria Manunggal Yogyakarta, sebuah lembaga advokasi nirlaba bagi para penyandang cacat, menegaskan perlunya mengganti istilah penyandang cacat dengan sebutan diffable (people with different ability), istilah yang belum mengandung muatan diskriminatif. Dan yang termasuk dalam kategori diffable tidak hanya penyandang cacat fisik, tapi juga orang lanjut usia, anak-anak di bawah usia lima tahun, dan ibu hamil.

Upaya untuk mengganti istilah cacat ini merupakan cara melakukan dekonstruksi pada pola pikir masyarakat terhadap kelompok ini. Dekonstruksi di tingkat wacana diikuti oleh adanya aturan yang dikeluarkan oleh otoritas yang berwenang. Setia mencontohkan adanya peraturan yang mengharuskan hotel bintang lima untuk memiliki aspek aksesibilitas dalam pembangunan dan pelayanannya, kemudian tata aturan yang mengatur mengenai aksesibilitas fasilitas umum semisal dengan masuk dalam stuctur of law, yaitu PT KAI (Kereta Api Indonesia)dengan meninggikan layanan khusus pada diffable. Kalangan arsitektur pun bergerak untuk berperan dengan menebarkan gagasan architect for universal design, suatu konsep desain arsitektur yang memungkinkan semua kalangan untuk memanfaatkannya tanpa perkecualian. Gerakan kesadaran semacam ini tentunya dapat menghentikan diskriminasi bagi para diffable. Sehingga kita mempunyai kota yang benar-benar memperhatikan rasa keadilan.

Leave a Reply

Close Menu