Stasiun antara dan kereta diesel (atau oven menggelinding?)

dsc00163.jpg

Loket di Stasiun Kereta Palmerah, seperti jendela sebuah penjara yang diberi papan nama yang mengingatkanku dengan sirkus jaman dulu.

dsc00169.jpg

dsc00165.jpg

dsc00170.jpg

dsc00176.jpg

Pengusaha sektor informal ada dimana-mana, walau ada papan larangan sebesar meja biliar.

dsc00195.jpg

Kereta Dieselku tiba dari Utara, kata speaker besar yang tergantung di sudut tiang. Hari mulai gelap. Demikian pula suasana dalam gerbong. Gelap gulita. Sulit bernafas, namun tidak perlu berpegangan, karena badan sudah tertahan dan menahan badan-badan yang lain. Sekali-kali, pedagang Jamu Tolak Angin atau anggur permisi untuk lewat. Mereka berhasil lewat, walau tadinya aku pikir: mustahil. Satu dua penumpang membeli anggur bewarna merah. Dengan cekatan pengusaha gigih itu merobek mulut sebuah ‘sachet’, menuangkan isinya ke sebuah kantung plastik bening, dan membuang kemasannya, entah kemana. Termos berkalung barang dagangan yang ia kalungkan, memiliki sebuah tombol di bagian bawah. Tombol bertemu jempol yang menekan. Air, yang mungkin hangat, mengucur darinya. Tangan kiri berisi kantung terjun bebas menampung air tadi. Agak penuh, tangan kanan mengambil sebuah sedotan plastik dan menjebloskannya ke dalam air yang sekarang bewarna merah gelap.

This Post Has One Comment

  1. yes… suasana konkrit nyata dan tak terbantahkan, silahkan memilih akankah kita “memperbaiki” ataukah “mempertahankan” agar tetap Lestari….
    selamat 100 tahun hari kebangkitan nasional Indonesia
    RGS & Mitra

Leave a Reply

Close Menu