Soerat kabar tempo doeloe : SOELOEH PELADJAR

1998_Mei_Edisi 090_peduli:
Soerat kabar tempo doeloe : SOELOEH PELADJAR
Santi

Menjoekakan Hati![oentoek pembatja perempoean]. Demikian judul sebuah headline surat kabar ‘Soeloeh Peladjar’ yang terbit tanggal 15 Juni 1908. Beritanya begini:

“….diantara moerid2 perempoean soedah ada jang pergi ke Belanda menoentoet ‘ilmoe kepandaian’. Sedikit waktoe lagi tentoe banjak moerid2 perempoean jang akan menoentoet teladan itoe…keloeloesan Raden Adjeng Fatimah dalam udjian masoek sekolah radja (C.B.S) sampai sekarang masih orang seboet2 joega. Maka sekarang SP membawa satoe khabar poela jang akan mendjadi boeah toetoer bagi pembatja perempoean. Seorang perempoean mendjadi klerk Departement van Onderwiis di Weltevreden! Siapakah namanja? Raden Roro Siti Hairani anak Padoeka Toean Demang Pension di Maester Cornelis. …dengan haknja tiada dibedakan dari hak klerk bangsa Belanda. Gandji dan kenaikannja kabarnya semata-mata sama. Mendengar ini tiada patoet kita bersoeka hati.”

Selain berita aktual seputar kemajuan pendidikan jaman itu, surat kabar yang terbit pertama tahun 1907 ini juga membuat rubrik Iptek. Misalnya saja tentang penemuan Thomas Alfa Edison, yang di surat kabar itu ditulis dengan “Toean Edison”. Ada pula surat pembaca yang jaman sekarang mungkin dianggap bertele-tele karena disertai pantun. Seperti tulisan yang berjudul ‘Doea Ratoes Tjerita’. Dalam rubrik ini kadang memuat fable, cerita nasehat, dan tak jarang dongeng-dongeng 1001 malam.

Yang menarik, bahwa pengarang dalam surat kabar ini terdiri dari pelajar-pelajar penjuru Nusantara. Seperti dari Deli, Fort de Cock atau Maninjau, Muara Labuh, Palembang, Cimahi sampai Pontianak yang rata-rata kelas IV dan V sekolah jaman itu. Biasanya, setiap menghadiri tulisannya mereka selalu menambahkan kata-kata yang merendah, misalnya : “Salam dari Hamba”, atau ‘Kiriman hamba yang rendah. Siti Sjam binti D.G.R. (H.O) moerid kelas IV Maninjau’,dan tak jarang hamba yang bodoh dan dibantu oleh guru hamba St. Seri Alama’ [No. 18/15 Desember 1909).

Ada pula rubrik dapurnya dibuat dengan nama ‘Beberapa Joeadah’. Mungkin Anda ingin mencoba satu resep berikut ini?

  1. Joeadah Poetri hitam Taboer namanja.
    Ambillah minyak sapi 1 mangkok ketjil, air mawar 1 mangkok ketjil dan gula. Ramoean ini dipoetar-poetar hingga menjadi satoe. Setelah itu masoekkan ke dalam mangkok jang besar; sekarang djeangkan air di koeali, dan masoekkan mangkok jang telah berisi ramoean-laloe dikoekoes. Djikalau soedah masak angkatlah, apa bila soedah dingin dipersilahkan makan.

Bagi pelajar sekarang, membaca Soeloeh Peladjar mungkin kedengaran lucu dan janggal. Menjadi klerk saja misalnya sampai menjadi headline. Tetapi itu semangat 80 tahun yang lalu.

Sekolah boeatan pendjadjah Hindia Belanda, dari tajoen ke tahoen …..

1876, didirikan Landbouw Scholl (Sekolah Pertanian) yan juga dimasuki oleh putra-putri dari golongan priayi tapi sekolah ini ditutup pada tahun 1884 baru pada tahun 1903 didirikan lagi sebuah Landbouw Scholl di Bogor dengan taraf pendidikan rendah. Tahun 1911 sekolah ini ditingkatkan menjadi sekolah menengah, sementara itu sekolah pertanian tinggi belum ada.

1879, didirikan sekolah raja.

1892, Diadakan sistematisasi dalam pendidikan yaitu sekolah dasar dikelompokkan menjadi dua macam : Eerste School [Sekolah Angka Satu] yang hanya menampung murid dari anak golongan priyayi dan hanya didirikan di ibukora Karisidenan. Lama pendidikan lima tahun. Kurikulum meliputi membaca, menulis, berhitung, ilmu bumi, sejarah menggambar, ilmu alam dan ilmu ukur tanah. Dengan sadanya Sekolah Angka Satu ini, semua sekolah raja yang didirikan sejak 1879 dihapus, kecuali yang di Magelang dijadikan sekolah kejaksaan.

Masih di tahun yang sama didirikan pula Jenis sekolah kedua, Tweede Scholl (Sekolah Angka Dua). Sistem sekolah ini ditujukan kepada rakyat pada umumnya di daerah pedesaan. Lama pendidikan hanya 3 tahun dan kurikulumnya hanya menulis, membaca, dan berhitung. Bahasa pengantarnya adalah bahasa daerah setempat atau bila tidak ada bahasa daerah maka memakai bahasa Melayu.

1897, terjadi perubahan bahasa pengantar dari bahasa daerah ke bahasa belanda, oleh karena itu lama pendidikan Sekolah Angka satu ditambah menjadi 6 tahun.

1902, pemerintah Hindia Belanda yang beraliran etis itu mendirikan pula suatu sekolah kedokteran tingkat menengah dengan nama School Tot Opleiding Van Inlandse Artsen (STOVIA). Sekolah ini sebetulnya bukan ciptaan baru, tetapi merupakan penyempurnaan dari sistem pendidikan yang dimulai pada tahun 1851 dengan nama Sekolah Dokter Jawa yang bertujuan menciptakan tenaga-tenaga medis di berbagai daerah dan melaksanakannya di rumah sakit tentara Batavia. Lama pendidikan mula-mula hanya 2 tahun tetapi pada tahun 1875 telah meningkat sampai 5 tahun. Dengan ditinggalkannya system pendidikan ini menjadi STOVIA pada tahun 1902, lulusannya pun dianggap sebagi dokter dengan gelar Inlandse Arts.

1907, Didirikan sekolah di daerah pedesaan yang pengajarannya disesuaikan dengan situasi desa setempat. Sebelum sekolah ini didirikan terjadi perdebatan dari para pejabat yang pro politik etis. Pendapat pertama menyatakan bahwa Sekolah Angka Dua tidak tepat dan harus digantikan dengan situasi di daerah pedesaan. Pandangan lainnya menyatakan bahwa system yang ada sudah baik hanya jumlahnya yang perlu ditambah. Pada akhirnya pandangan pertama-lah yang dilaksanakan karena berasal dari Gubernur Jendral Van Heutz.

1909, Untuk tenaga-tenaga kejaksaan dan pengadilan didirikan Rechschool yang juga menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Tahun 1924 ketika lulusan sekolah menengah mulai banyak didirikan sekolah hukum tingkat tinggi dengan nama Recht Hogeschool (RH_. Sekolah ini menghasilkan hakim-hakim dan jaksa-jaksa yang lulusannya menggunakan Mr. (Meester in de Rechten) yang juga digunakan oleh lulusan-lulusan universitas negeri Belanda.

1914,terjadi tiga hal yang penting dalam system pendidikan rendah. Pertama, pada tahun tersebut Sekolah Angka Satu diubah menjadi Hollands Inlandse School (HIS) yang berbahasa Belanda. Sekolah ini didirikan di ibukota daerah dan dipergunakan oleh anak-anak priyayi tapi tidak tertutup bagi golongan lainnya. Kedua, pada tahun ini didirikan sekolah lanjutan yang dinamakan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) untuk lulusan Sekolah Angka Satu. Lama pendidikan 3 tahun dan bahasa Belanda dipakai sebagai bahasa pengantar. Ketiga, pada tahun itu didirikan Vervolgschool untuk menampung lulusan sekolah desa. Lama pendidikan sekolah ini adalah lima tahun dan bahasa Belanda dipakai sebagai bahasa pengantar tetapi kurikulumnya sama dengan HIS. Pendidikan lanjutan atas bagi penduduk kepulauan Indonesia adalah Algemeen Middelbare Schooll (AMS) yang menerima lulusan MULO, AMS pertama didirikan di Yogyakarta dengan kurikulum B (Pasti Alam), kemudian di Bandung dengan kurikulum A1 (Sastra Barat) dan di Surabaya A2 (Sastra Timur).

1924, sekolah yang bernama Technische Hogeschool (TH) itu diambil alih oleh pemerintah. Lulusannya berhak menggunkan gelar Ir, yang juga digunakan oleh lulusan-lulusan sekolah tinggi di Belanda.

1927, pemerintah mendirikan sekolah tinggi kedokteran Geneeskundige Hogeschool (GH) yang mengambil lulusan AMS dari HBS. Lulusannya memakai gelar Arts dan disamakan dengan lulusan universitas di negeri Belanda. [santi]

 

Leave a Reply

Close Menu