Sodis: air minum anti diskriminasi

2002_Maret_Edisi 132_Bahas
Sodis: air minum anti diskriminasi
Rohman Yuliawan

“Supaya tubuh sehat, minumlah minimal delapan gelas air sehari”
Masalahnya, untuk mendapatkan air bersih layak minum itu ternyata bukan perkara mudah bagi sebagian orang. Masih banyak yang harus berjalan berkilometer untuk mendapatkan seember air bersih.

Menurut hasil penelitian EAWAG/SANDEC, sebuah lembaga penelitian lingkungan di Swiss, sekitar sepertiga dari penduduk di kawasan pedesaan di Negara berkembang (data WHO bahkan menyebut angka satu milyar jiwa!) kesulitan untuk mendapatkan air sehat layak minum. Untuk menanggulanginya, tahun 1991, lembaga ini memperkenalkan teknologi SODIS (Solar Water Disinfection) alias air minum yang diolah dengan sinar matahari, yang pada 1985 dikembangkan oleh Prof. Aftim Acra dari American University of Beirut.

Di Indonesia, teknologi SODIS diperkenalkan sejaka tahun 1997 oleh Yayasan Dian Desa, Yogyakarta dengan Desa Melikan, Kabupaten Wonogiri dan Desa Dobalan, Bantul sebagai proyek percontohan.

“Saat ini teknologi SODIS banyak dimanfaatkan di daerah Madura, Lombok, Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Kalimantan,” tutur Supriyono, staf Yayasan Dian Desa. “Teknologi SODIS dipadukana dengan pengetahuan tradisional untuk menjarnihkan air, bias membantu para pengungsi korban kerusuhan di Ambon dan NTT memenuhi kebutuhan air minum sehat untuk sehari-hari. Sebelumnya, mereka harus membeli air dengan harga cukup mahal,” tambahnya.

SODIS adalah air layak konsumsi. Dengan cara memanipulasi panas matahari (hingga 500 C) yang disinergikan dengan radiasi sinar ultra violet, bakteri-bakteri dalam air akan mati setelah penjemuran dalam waktu tertentu. Air yang diolahpun tak harus air sumur, namun air dari segala jenis sumber, bahkan air sungai yang keruh pun asal tidak tercemar zat kimia, bisa digunakan stelah lebih dulu dijernihkan.

Diperhitungkan biaya yang dapat dihemat oleh satu keluarga bila beralih dari mengkonsumsi air rebus ke SODIS adalah Rp. 438.000,- per tahun. Tidak hanya itu, pemanfaatan botol plastic pun sangat membantu mengurangi sampah plastik.
Satu hal yang menarik, muncul pula memikiran SODIS berperan dalam mengikis diskriminasi gender dalam rumah tangga. Tanggung jawab menyediakan air minum yang lazimnya dijalankan kaum perempuan kini bisa dilakukan siapa saja; lelaki-perempuan, tua atau muda bahkan anak-anak.

Cara Sederhana Membuat SODIS
• Sediakan botol plastic bekas air mineral ukuran 1500 ml atau yang lebih kecil. Bisa juga memakai kantung plastic khusus dengan bahan PET (PolyEthytene Terephtalate) atau botol kaca bening dengan ketebalan maksimal 2 mm.
• Cat separuh badan botol dengan cat warna hitam, setelah kering bersihkan bagian dalam dan dasar botol.
• Isi dengan air mentah (bening) sampai penuh, kemudian tutup rapat-rapat.
• Jemur di bawah terik matahari, bagian bercat hitam di bawah, selama 4-5 Jam bila cuaca cerah, 6-7 jam saat cuaca berawan dan 2 hari berturut-turut apabila hari hujan.
• SODIS siap dikonsumsi

Sumber: Supriati, Yuni. Sepotong Cerita dari Melikan”, Warta Sodis, Edisi 5, Agustus 2001. www.sodis.ch

Leave a Reply

Close Menu