Slow Food vs Fast Food

2002_Februari_Edisi 131_Bahas:
Slow Food VS Fast Food
Ukke R. Kosasih

“Pizza Anda akan siap dalam 15 menit”, janji sebuah restoran pizza. Sementara di sebuah restoran burger, kita akan mendengar janji yang lebih menggiurkan, “Gratis kentang goring atau es krim, bila pesanan Anda tidak siap dalam 60 detik!”.

Rupanya, hitungan menit bukan detik dalam penyajian pun sudah jadi alat promosi para pengusaha restoran. Kalau sudah begitu, jangan berharap untuk melihat atraksi pizza disorong ke dalam tunggu atau melihat dicacah sebelum masuk ke setangkup roti. Semua hanya bisa dilihat dalam iklan, dan kita hanya boleh percaya bahwa memang seperti itulah makanan tersebut dibuat.

Di masa ketika kecepatan gerak dianggap sebagai modal utama untuk hidup; cita-rasa, kesegaran, kandungan gizi, pengetahuan tentang bahan baku makanan, apalagi kenikmatan saat mengajarkan cara memotong sayuran pada anak, adalah hal-hal yang diabaikan. Laju kehidupan bahkan seakan melarang kita untuk memperhatikan semua itu. Dan fast food pun kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupan moderen.

Tapi, pengaruh fast food yang kian merajalela, kini mendapatkan perlawanan sengit dari sebuah gerakan yang menyebut dirinya Slow Food. Gerakan yang dimulai di Italia pada 1989 ini, sekarang mulai merambah Amerika Serikat (gudangnya segala jenis fast food). Dengan manifesto yang berbunyi “May suitable doses of guaranteed sensual pleasure and slow, long-lasting enjoyment preserve us from the contagion of the multitude who mistake frenzy for efficiency,” Carlo Petrini, sang pelopor, berhasil meluncurkan sebuah gerakan internasional dengan sekitar 60.000 anggota di 42 negara. Ia juga berhasil menjadikan fast food hanya dipilih sebesar 5% sebagai makanan di luar rumah di Italin (bandingkan dengan keseluruhan Negara Eropa yang mencapai 25% dan Amerika yang mencapai 50%).

Slow Food adalah upaya untuk menghidupkan kemabali rasa, karena banyakorang saat ini dinilai sudah lupa bagaimana merasakan (makanan). Tidak hanya itu, gerakan ini pun memiliki program mempopulerkan kembali menu makanan tradisional, memperkenalkan kembali kehidupan pertanian, hingga membantu para petani di Nikaragua menyelamatkan lahan pertanian.

Jadi, jangan khawatir ditertawakan bila kita mengunyah makanan sebanyak 32 kali untuk setiap suapan, karena selain menjadi lebih sehat, kita pun bisa menjadi Slow Foodies yang sedang menggejala di dunia.. kerenkan?

Sumber: www.utne.com

Leave a Reply

Close Menu