Slow Down, We’ve Moved Too Fast

2002_Februari_Edisi 131_Bahas:
Slow Down, We’ve Moved Too Fast

Seorang dari kami hampir tidak pernah berhenti bergerak, baik tubuh,pikiran, maupun jiwanya. Tubuhnya yang tinggi besar sangat menunjang semua geraknya. Setiap pelosok kantor dapat dijangkau dengan hanya beberapa langkahnya. Setiap pekerjaan dalam sekejap dapat dilalapnya. Dia bekerja dengan sepenuh kecepatan tubuh, pikiran, dan jiwanya.

Pada satu sore yang permai, ia nampak tenang mendengarkan alunan usik klasik di kamar kerjanya. Matanya tidak menuju layar notebook seperti biasanya. Tubuhnya menyandar santai di kursi. Ia Nampak begitu menikmati hijaunya pohon di halaman belakang kantor kami. Akhirnya, ia membuat jeda untuk geraknya! Dan, apa yang terjadi setelah itu? Ia dapat menyelesaikan hampir seluruh pekerjaannya dengan hasil yang membuat kami bangga sebagai temannya.

Agunerah slow down, begitu kami menyimpulkan sumber kekuatan baru teman tersebut.

Ternyata, mengurangi kecepatan tidak selalu berarti tertinggal, karena jeda antara gerak tersebut dapat digunakan untuk memperjelas arah dan mempertajam stategi. Dan kami percaya pada kesimpulan itu. Maka, bila orang lain menganggap tahun 2002 adalah tahun berkecepatan kuda, bagi kami tahun 2002 justru tahun untuk slow down; tahun penyerapan enegri alam, social, dan kebudayaan di sekitar kami yang sering terabaikan selama ini.

[aikon!] di tangan Anda saat ini pun adalah salah satu anugerah dari slow down tersebut.

Salam!

Leave a Reply

Close Menu