Slow Down: Lambat untuk Cepat, Lambat untuk Indah, Lambat untuk Cermat

2002_Februari_Edisi 131_Bahas:
Slow Down, Lambat untuk Cepat, Lambat untuk Indah, Lambat untuk Cermat
Rohman Yuliawan dan Ukke R. Kosasih

Apa yang paling menarik dari film The Matrix-nya Keanu Reevers dan The One-nya Jet Li? Gerakan lambatnya!

Apa yang paling diingat dari film The Six Million Dollar Man-nya Lee Majors dan The Bionic Woman-nya Lindsay Wagner? Gerakan lambatnya!

Apa yang menjadi kerjasama dari keempat film tersebut? Gerakan lambat untuk menggambarkan gerakan super cepatnya!

Slow motion memang dimanfaatkan untuk mendramatisasi dan menegaskan atau menekankan suatu adegan di dalam film. Selain itu, secara visual adegan dalam gerak lambat memang terlihat lebih artistic dan indah,” ungkap Sasta Sunu, pengajar FFTV di Instistut Kesenian Jakarta. Lebih lanjut, editor film dokumenter Pustaka Anak Nusantara ini mendefinisikan slow motion sebagai “gerak lambat dari subyek di dalam film yang bisa dihasilkan di kamera pada saat produksi maupun di meja editing pada saat paska produksi”.

Menurut Ron Kurtus, sinematografer Amerika, dalam situasi penuh tekanan, misalnya pada saat jatuh dari tebing tinggi, presepsi seseorang terhadap waktu cenderung melambat. Ia menduga, karena memang belum ada riset sebelumnya, hal ini disebabkan oleh terpacunya adrenalin yang mampu membuat orang tersebut mengikuti setiap detik peristiwa yang menimpanya. Peristiwa tersebut kemudian terekam dalam ingatan berupa gerak lambat. Dan fenomena inilah yang ditransformasikan ke dalam bahasa film sebagai sensasi slow motion, Dugaan Kurtus bisa jadi salah, tapi nampaknya banyak pembuat film sepakat, bila hendak menggambarkan gerakan secepat orang jatuh dari tebing tinggi, maka gerakan lambatlah yang paling bisa menimbulkan daya cekam.

Teknik slow motion, sebetulnya sudah dipraktekkan sejak tahun 1900-an sebagai bagian dari trik kamera. Namun sebagai perangkat artistic, peranannya baru disadari pada tahun 1912 ketika muncul dalam film-film pendek David Wark Griffith. Teknik tersebut kemudian diolah lebih serius mengenai Perang Saudara dan Masa Restorasi di Amerika.

Secara teknis, menurut Sasta Sunu, efek slow motion dapat dihasilkan dengan manipulasi kecepatan kamera saat pengambilan gambar atau saat editing paska produksi. Teknik yang lazim dipakai adalah dengan meningkatkan kecepatan kamera. Bila kecepatan standar kamera saat ini 24 frame per detik, maka kecepatan kamera saat pengambilan gambar dinaikkan menjadi 32 atau 36 frame per detik. Hasilnya gambar yang terekam akan tampil leboh lambat ketika diputar pada proyektor yang memiliki kecepatan standar sama dengan kecepatan kamera.

Percaya pada kekuatannya, seniman instalasi video Bill Viola pun mengakrabi gerak lambat dalam karyanya. Untuk menggambarkan sebuah kesedihan yang begitu dalam, pria kelahiran New York tahun 1951 ini, menyajikan gerakan yang dalam kenyataan mungkin hanya berlangsung dalam hitungan detik, menjadi gerakan dalam hitungan menit. Setiap perubahan kerut di wajah, setiap perubahan pancar di mata, setiap perubahan gerak jemari berhasil membangun kesadaran tentang “panjangnya waktu dirasa pada saat kesedihan begitu dalam”.

Dalam bahasa gambar, gerakan lambat nampaknya berperan penting untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang sesuatu kejadian. Artinya, sesuatu yang lambat tidak selalu berkonotasi buruk, bisa jadi malah sebaliknya. Gerak lesatnya butir peluru menerjang Keanu Reeves tidak pula akan ditiru oleh iklan sampo anti ketombe bila disuguhkan dalam kecepatan normal.

Melalui bahasa gambar, sesuatu yang lambat bisa saja berarti cepat, indah, penting, dan cermat… Nah, siapa yang masih berani bilang kalau lambat itu selalu berarti menghambat?

Sumber: wawancara Sasta Sunu, www.school-for-champion.com, Encyclopedia, www.billviola.com

Leave a Reply

Close Menu