situs trowulan

2000_April_Edisi 111_revital:
situs trowulan
Uke R. Kosasih

Beberapa waktu lalu, gaya pesta di tepi kolam renang banyak dikecam sebagai pengaruh budaya Barat yang dianggap tidak produktif, tidak bertenggang rasa, tidak cocok….”wong bangsa ini sedang prihatin, kok ini malah dansa-dansa di pinggir kolam renang.” Begitu kira-kira pendapat banyak orang. Sekali lagi budaya Barat dituding sebagai biang kerok degradasi moral. Namun, fakta sejarah sering kali membuat kita terkejut. Pesrta tepi kolam disinyalir sudah dikenal bangsa ini sejak jaman Majapahit!

Konon, ditepi kolam Segaran, yang panjangnya 375 meter dan lebarnya 175 meter ini, raja Majapahit kerap bercengkrama dengan keluarga atau menjamu para tamu agung. Bahkan, ada yang mengatakan, ke dasar kolam yang dalamnya mencapai 5,6 meter tersebut, sang paduka kerap membuang peralatan makan dari emas dan perak hanya untuk menunjukkan kemakmuran kerajaan yang berkembang pada abad ke-14 dan ke-15 itu.

Bersama ratusan temuan lainnya, mulai dari bangunan monumental sampaia artefak lepas. Kolam Segaran adalah hasil penemuan di Situs Trowulan, sebuah situs arkeologi di kawasan Mojokerto Jawa Timur. Situs pemukiman berukuran sekitar 10×10 km ini diperkirakan sebagai tinggalan sebuah kota besar dari periode Majapahit.

Bila Situs Trowulan mendapat perhatian besar untuk dijaga kelestariannya, antar lain karena situs ini merupakan satu-satunya situs kota dari masa klasik Indonesia (Hindu-Budha). Dari sekita 16 obyek situs direncanakan bakal dipugar, sejak tahun 1983 hingga tahun 1995 baru dapat dilaksanakn pemugaran terhadap 6 obyek, yaitu Kolam Segaran, Candi Tikus, Gapura Bajang Ratu, Situs Sentonorejo, Candi Brahu, dan Gapura Wringin Lawang. Proses pemugaran itu sendiri meliputi kegiatan pembongkaran, penguatan struktur bangunan, pemasangan kembali, konservasi, dan penataan lingkungan. Untuk seluruh proses tersebut telah dikeluarkan dana sekitar 3 milyar. Biaya yang tidak besar bila dibandingkan dengan manfaat yang dapat diraih.

Sebagai sebuah tinggalan budaya yang dilindungi. Situs Trowulan masih dibayangi ancaman ulah manusia. “Kegiatan pembuatan bata adalah ancaman yang cukup mengkhawatirkan. Palagi setelah ada program pemberian kredit usaha bagi penduduk desa setempat. Dari dulu, tanah daerah itu (aluvial, red) memang sangat baik untuk membuat bata,” ungkap Hardini Sumono dari Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala. “Kita memang memberikan imbalan bagi penduduk yang menemukan artefak di kawasan tersebut. Tapi, tentu saja tidak bisa untuk semua artefak yang jumlahnya bisa ribuan.” lanjutnya. Karena kendala-kendala tersebut, situs besar ini masih membutuhkan waktu cukup lama untuk terdaftar sebagai world heritage, menyusul Prambanan, Borobudur, dan Situs Sangiran.

“Untuk melestarikan sekaligus memberdayakan Trowulan, tentu saja harus ada kerja sama banyak pihak. Karena itu, dalam waktu dekat kami akan mengundang rekan-rekan yang punya minat dan potensi untuk turut memberikan masukan bagi proses pemugaran dan pemeliharaan peninggalan sejarah dan purbakala,” papar Hardini.

Leave a Reply

Close Menu