simbiosis mutualisme di jalan tamim

2001_April_Edisi 123_Jelajah:
simbiosis mutualisme di jalan tamim
Joni Faizal
tamim

tamim1
Bagi masyarakat Bandung, nama Tamim sangat identik dengan tekstil. Karena memang di sinilah pusat tekstil di Bandung. Mulai dari kain kelas kiloan hingga sutra bermutu dapat ditemukan di sini. Hanya sensus jalan…
Pagi itu gerimis mengguyur Kota Bandung. Tapi keibukan orang di Jalan Tamim seperti tidak terusik. Kuli-kuli hilir mudik mengangkut gulungan kain dengan gerobak dorong dan menaikkannya ke dalam mobil. Atau sebaliknya, menurunkan gulungan itu dan menyusunnya di rak-rak dalam toko. Ditemapat yang lain, beberapa karung kain dinaikkan ke bak-bak mobil. Dari nomor mobilnya dapat ditebak bahwa mobil-mobil itu bukan saja berasal dari Bandung, tetapi banyak diantaranya berasal dari luar kota, seperti Tasikmalaya, Kuningan, Lampung, Surabaya, palembang dan Jakarta. Sementara itu, di tiap-tiap toko, berjejer tukang-tukang jahit yang sedang mengerjakan seprai, bedcover, maupun sarung bantal. Mobil-mobil pun selalu penuh sesak dan macet.

Begitulah kesibukan jalan Tamim setiap harinya. Jalan yang kira-kira panjangnya sekitar 300 meter ini, hampir seluruhnya menjual tekstil, mulai dari bahan-bahan kaos, bahan seprai, brokat untuk kebaya, hingga bahan sutra.
Menurut Gunadi Lukmanatau sering dipanggil Ayen, salah seorang penghuni toko di muara Jalan Tamim mengatakan, bisnis tekstil baru terjadi sekitar tahun 1950-an. Sebelum itu jalan Tamim terkenal sebagai tempat menjual rempah-rempah. Namun sekarang, penjual rempah-rempah itu hanya tinggal satu yaitu di ujunga Jalan Tamim yang menghubungkan ke Jalan Dulatif.

“Saya belanja di sini karena memang lebih murah di banding tempat-tempat lain,” kata Nyonya Rohana yang berasal dari Kuningan. Nyonya Rohana mengaku sudah lebih lima tahun belanja tekstil di Tamim untuk usaha jahitnya. Sedangkan Safron, asal Palembang, mengaku hanya mendapat tugas dari atasannya untuk mengambil bahan kaos setiap bulannya di Jalan Tamim. Untuk membawa kain-kain yang dibeli kiloan itu, Safron menggunakan mobil Kijang pick-up yang nantinya akan dijual lagi ke perusahaan-perusahaan konveksi kecil.

Jalan Tamim memang menjadi surga belanja buat mereka yang ingin mendorong tekstil dengan harga murah. Itu tidak saja berlaku untuk partai besar, tetapi juga bagi yang ingin belanja eceran. Bahan brokat yang berkualitas baik misalnya, harganya tidak lebih dari Rp. 55.000,- per meter. Berbeda dengan harga bahan yang sama di Tanah Abang Jakarta, bisa mencapai harga Rp. 70.000,- per meternya. Di Tamim juga terdapat bahan BS, atau bahan-bahan yang sedikit cacat, namun layak pakai. Dengan harga relatif rendah, sekitar Rp. 40.000,- para pembeli sudah bisa mendapat kain sebanyak sekilo yang panjangnya kira-kira 3,5 meter. Sedangkan bahan-bahan untuk seprai tersedia bermacam-macam motif, mulai ari klub-klub sepak bola macam Juventus, Manchester United, Lazio, Inter Milan dan sebagainya. Ada juga bahan seprai yang sedang laris dan banyak dibeli yaitu motif Doraemon, Pokemon dan juga yang terbaru adalah Crayon Shincan. Menarik pula untuk disimak bahwa Jalan Tamim ada semacam simbiosis mutualisme antara tukang jahit dan pemilik toko. Tukang Jahit yang nempel di tiap-tiap toko tekstil itu sangat diperlukan oleh para pemilik toko untuk meladeni pembeli yang secara langsung minta dijahitkan. Sementara itu bagi tukang jahit, toko tekstil juga harus tetap ada untuk kelangsungan hidupnya. Adakalanya tukang jahit juga membantu melayani pembeli jika pekerjaan mereka sedang kosong. Jika malam, maka mesin jahit itu dapat dititipkan di toko tersebut. Jadi, kloplah saling balas jasa antara tukang jahit dan pemilik toko.

Anok atau Ano Suyono, 27 tahun, sudah 10 tahun menjadi tukang jahit di Jalan Tamim tepatnya di depan Toko Paris. Ayah seorang putra ini mengaku mendapat rata-rata Rp. 20.000 sampai 40.000 sehari dari hasil jahitannya. Kalau sedang ramai ia bisa mendapat pesanan sampai delapan potong sehari namun ada saat-saatnya sepi pesanan.
“Untuk satu potong seprai ukuran besar (nomor satu), Anok memasang tarif Rp. 40 ribu, sedangkan nomor ukuran kecil (nomor empat) hanya lima ribu rupiah. Sedangkan untukseprai ukuran nomor satu untuk bed cover yang ditambah renda-renda harga upahnya bisa mencapai Rp. 40.000,- per potong,” terang Anok.

Menurut Anok yang tinggal di Lembang Bandung, pesanan jahit saat ini memang tidak terlalu ramai. Meskipun dibilang tidak seramai sebelum krisis, namun katanya masih menunjukkan gejala baik. Sebelumnya, Anok dan rekan-rekannya pernah menikmati masa jaya menjadi tukang jahit di Jalan Tamim, yaitu sewaktu pasaran jeans sedang ramai. Itu terjadi sekitar tahun 1995 hingga 1997. Para tukang jahit di Jalan Tamim tidak saja mendapat banyak pekerjaan menjahit per potong tetapi juga mendapat orderan borongan untuk celana jeans. Namun masa jaya itu kini berlalu seiring beralihnya tren masyarakat dalam memilih sandang. “Sekarang kita baru memulai order seprai. Order celana jeans seperti dulu sudah jarang dan dibilang tidak ada,” kata Anok yang asli Kuningan ini.

Sebenarnya sejak jaman baheula Jaman Tamim sudah kondang. Dalam novel Ca Bau Kan karya Remi Sylado, yang mengisahkan perjuangan salah seorang perempuan bernaman Tinung yang mencari cinta sejatinya, terdapat seorang tokh Tan Peng Liang, yang berasal dari Jalan Tamim. Meskipun hanya sebuah fiksi, namun latar belakang itu setidaknya menggambarkan bahwa Jalan Tamim dari dulu sudah ada.

Perkembangan Bandung di penghujung abad ke 19 yang ditandai dengan dibukanya jalur kereta api, juga ditandai dengan adanya Pasar Baru di jalan Otto Iskandar Sekarang. Di sisi politik juga dibentuknya koloni-koloni, kolonial stat, atau semacam “babakan” di kota Bandung. Kolonial stat ini merupakan ciri-ciri kelompok etnis bagi masyarkat Bandung seperti Kampung Bali, Kampung Melayu, Kampung Ambon di Batavia. Selain itu orientasi tenpat dan nama jalan di Bandung pada masa itu kadang hanya ditandai dengan nama jenis pohon, objek yang menojol (land mark) atau nama-nama tuan penguasa di tempat yang dimaksud. Demikian juga halnya dengan Jalan Tamim.

Menurut Haryoto Kunto dalam bukunya Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, nama Tamim merupakan nama seorang saudagar dari Palembang. Dahulu, “saudagar pribumi” yang terkenal sukses adalah orang-orang dari Palembang. Selain berniaga mereka banyak memiliki tanah.

Beberapa yang terkenal selain Tamim diantaranya adalah Encek Aziz, Aschari dan Asep Berlian. Nama yang terakhir ini merupakan julukan orang Bandung kepada saudagar asal Palembang yang sering memakai hiasan bertabur berlian yang konon segede jagung. Berliannya yang terkenal yaitu sebutir berlian yang menghiasi bulu kerisnya. Peristiwa yang dikenal sebagai “Guyur Bandoeng” atau Geger Bandung di awal abad ke 19 tempo doeloe, merupakan peristiwa terbunuhnya salah seorang istri si Asep Berlian, saudagar asal Palembang ini.
Meskipun kini tidak lagi saudagar-saudagar asal Palembang yang terkenal di Bandung, namun nama Tamim asal Palembang itu masih melekat pad ajalan yang terletak di selatan Pasar Baru itu. Hanya seruas jalan. Namun dari situ denyut perekonomian Bandung berdetak. Untuk menghidupi orang-orang yang bergantung hidup di dalamnya.

Leave a Reply

Close Menu