sibuk … sibuk … mempersiapokan Jogjakarta heritage week 2001

2001_Agustus_Edisi 127_Sekitas Kita:
sibuk … sibuk … mempersiapokan Jogjakarta heritage week 2001
Rohman Yuliawan

Kesibukan di secretariat Jogjakarta Heritage Week semakin hari semakin meningkat. Namun kelelahan para penyelenggara nampaknya tak lagi dirasakan, karena yang dipikirkan hanyalah satu… “bagaimana acara heritage week bisa berlangsung dengan sukses!”. Melestarikan warisan budaya memang membutuhkan kerja keras. Walaupun kepedulian ini seharusnya menjadi tanggung jawab seluruh pihak dalam masyarakat. Namun realitasnya hanya segelintir orang yang menyimpan kepedulian dan tak segan menyisihkan waktu untuk memperjuangkan usaha pelestarian warisan budaya.

Untuk menyikapi kecenderungan tersebut, Jogja Heritage Society, kelompok pemerhati dan pecinta warisan budaya, menggelar serangkaian diskusi menyoal pelestarian lingkungan budaya. Diskusi tersebut melahirkan Forum Pelestarian Lingkungan Budaya Yogyakarta, wadah bagi sekitar 20 lembaga pelestarian budaya, yang bakal menggelar Pekan Pelestarian Pusaka Budaya Jogja 2001 (Jogja Heritage Week 2001/JHW 2001) pada tanggal 4-8 Agustus 2001 di pagelaran Kraton Yogyakarta. Even tersebut bakal merangkum berbagai kegiatan, mulai dari pameran bertema “Jogja Lama untuk Masa Kini dan Datang”, lomba lukis, penulisan essai, karya tulis ilmiah dan sketsa, kemudian gelaran pentas seni dan sarasehan pelestarian budaya serta wisata menyusuri kawasan Jero Benteng, Kraton Yogyakata. “Kegiatan ini tersebut dimaksudkan untuk membangun komunitas dan menggugah kepedulian masyarakat akan kelestarian pusaka budaya.” Kata Linda. Lebih jauh Linda menuturkan bahwa kegiatan tersebut juga menjadi ajang untuk mempersatukan langkah antar lembaga pelestarian budaya yang ada di Yogyakarta dan langkah awal untuk penyelenggaraan pelestarian budaya yang akan menyusul di tahun-tahun berikutnya, yaitu Jogja Heritage Year 2002 dan Indonesia Heritage Year 2003.

Keterlibatan masyarakat luas untuk mendukung terselenggaranya JHW 2001 sangat memungkinkan, karena even ini digelar secara gotong-royong, dalam artian semua permasalahan, termasuk pengadaan dana penyelenggaraan, diatasi secara bersama. “Bentuk dukungan apapun kami terima. Setidaknya telah terbangun kepedulian untuk bersama memperjuangkan pelestarian pusaka budaya,” ujar Linda. Ya, bagaimanapun warisan budaya adalah akar kultural bangsa yang tak semestinya tercerabut begitu saja.

Leave a Reply

Close Menu