Seragam

2001_Juni_Edisi 125_Bahas:
Seragam
J. Drost, SJ

Berbagai kerusuhan yang terjadi akhir-akhir ini seringkali dianggap sebagai ulah “para penghasut”. Hemat saya, anggapan ini telah menghindari pokok masalah yang sebenarnya, maka terpaksa mencari kambing hitam untuk mengobati massa. Namun usaha ini akan sia-sia, karena yang perlu dibangun adalah kepribadian individunya. Karena massa yang terdiri dari individu-individu berkepribadian kuat tidak akan mudah terhasut.

Sadar atau tidak sadar, selama ini individu telah diubah dari pribadi kreatif menjadi pribadi penurut dan patuh. Manusia menjadi anggota kawanan yang diseragamkan cara bernalar dan bertindaknya. Sejak mulai TK sampai dengan SMU, segala-galanya harus seragam, mulai dari pakaian, sepatu, peci, sampai rambut. Kepribadian diri maupun ciri khas sekolah tidak boleh ada lagi. Dan pada tahun 1994 puncak penyeragaman terjadi. Semua pelajar Indonesia yang begitu beranekaragam kemampuan studi, harus mengikuti kurikulum di sekolah menengah, SLTP dan SMU, yang mutlak sama.

Menurut saya, tragedi nasional ini adalah, sekali lagi, puncak penyeragaman. Kaum muda tidak dibentuk untuk menjadi pribadi yang berpendapat lain dari yang berkuasa, entah di keluarga, entah di kelas, entah di perguruan tinggi, entah di kancah politik. Selesai studi mereka menjadi pegawai negeri. Itu berarti berpakaian seragam lagi.

Setiap penyeragaman berarti nivellering, pemenggalan. Semua kepala dipenggal, yang tinggal mayat. Suasana menjadi pudar, tanpa unsur seni lagi. Menyeragamkan kurikulum menjadi unggul dan cemerlang rasanya mustahil juga, maka hampir semua SMU mengikuti kurikulum yang dicairkan. Akhirnya, kemampuan intelektual menjadi itu-itu saja.

Sekarang ini, yang tidak berpikir dan tidak bertindak seperti kerumunan dan tidak memakai seragam adalah para seniman dan wirausahawan. Karena itu, banyak dari mereka yang mempunyai nama internasional.
Bila sekolah diharapakan dapat melahirkan calon-calon pemimpin, segala bentuk penyeragaman itu tidak akan pernah dapat meraih kebebasan berselisih pendapat dalam loyaitas.

Memantapkan sebuah bangsa tidak dapat dicapai dengan cara menyeragamkan pendidikan dan bidang kehidupan lainnya, akan tetapi dengan menciptakan lingkungan hidup tempat orang dapat mengembangkan jati dirinya sendiri, yaitu: pribadi yang autentik. Dalam sebuah orkes dituntut keanekaragaman warna nada untuk mampu melahirkan keindahan abadi. Demikian juga dalam orkes hidup.

Leave a Reply

Close Menu