Sepatu

1996_akhir November _Edisi 057_gaya:
Sepatu

Perjalanan Panjang Sepatu
– Lukisan gua yang ditemukan di Spanyol memperlihatkan bahwa sudah sejak 12000-15000 SM manusia mengenal sepatu. Dalam lukisan tersebut pria mengenakan sepatu boot dari kulit, sementara wanita mengenakan sepatu boot dari bulu binatang.
– Di Mesir pada abad 1 masehi sepatu dibuat dari anyaman daun palem dengan tali melilit pergelangan kaki dan ibu jari. Pada tahun-tahun berikutnya, sepatu dibuat dengan hak tinggi dari kayu yang diukir. Diperkirakan sepatu ini digunakan bila sungai Nil meluap.
– Di Yunani sepatu adalah symbol keamanan dan kesejahteraan
-Hukum Musa menyatakan bila seseorang lelaki tidak mau menikahi janda kakaknya, si wanita dapat membawa lelaki ke sidang. Dalam sidang si wanita akan melepaskan sepatu si lelaki sambil mencelanya dengan kata-kata itulah yang akan terjadi pada lelaki yang tidak mau membangun rumah saudaranya.
– Sepatu juga melambangkan kekuasaan dan status. Di Sumeria ada jenis sepatu tertentu hanya digunakan oleh Raja.
– Pada abad pertengahan, ada kebiasaan bagi seorang raja untuk memberikan sandal pada pendeta sebagi lambang kebersamaan antara kerjaan dan gereja.
– Prajurit Mesir melukis telapak sepatunya dengan gambar musuhnya sebagi tanda penghinaan, atau tanda bahwa mereka telah mengalahkan musuh tersebut. Kebalikannya di Yunani, lukisan di telapak sepatu melambangkan rasa cinta terhadap yang digambarkan.

8 bentuk dasar sepatu (pria-wanita):
Oxford; sepatu bertali
Derby; sepatu tali, mirip oxford dengan aksen berupa jahitan di bagian depan sepatu
Brogue; seperti oxford, dengan dekor jahitan di sekeliling sepatu
S’trap sepatu dengan lubang kaki bernbentuk V
Pemp, sepatu dengan hak rata
Bot, sepatu yang bila dipakai mencapai pertengahan kaki
Mokasin; sepatu datar biasanya terbuat dari kulit rusa
Sandal; sepatu terbuka dengan tali
Desainer sepatu biasanya mendesain sepatu dengan acuan 8 bentuk dasar tersebut

Sepatu Bot-nya Dr. Maertens
Mulanya Dr. Klans Maertens, membuat sepatu karena ia mengalami kecelakaan ketika mendaki gunung disebabkan sol sepatu yang tidak nyaman. Ia mulai memproduksi sepatu tersebut secara komersial tahu 1947. Tahun 1960 sepatu Dr. Maertens yang mulanya dirancang hanya untuk kenyamanan, kemudian berkembang menjadi Doe Martens, sepatu yang sempat menjadi salah satu asesoris wajib kaum muda. Sepatu ini kemudian dipakai oleh kaum muda mulai di kampus, hingga ketika mereka melamar pekerjaan.

Doc Mart (begitu sepatu ini biasa disebut) juga sering dipakai dengan cara yang controversial. Kaum Gay memakainya untuk memunculkan kesan maskulin, sementara wanita mengenakannya dipadu dengan gaun untuk meyeimbangkan kesan feminine dan lemah dengan kepercayaan diri.

Sumber : Shoes Fashion and Fantasy, Manolo Blahnik, Thames and Hudson, 1989 Tersedia di Etnobook, Jl. Talaud No. 4 Cideng, Jakarta 10150.3846575

Leave a Reply

Close Menu